Datu Kalampayan alias Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah Khalifah Tarekat Sammaniyah, murid utama dari pendiri Tarekat Sammaniyah Syekh Muhammad Abdul Karim As-Sammani Al-Madani, yang sempurna hasil khalwatnya. Menurut Habib Ahmad Hanafi Hariri Bahasyim beliau berkedudukan sebagai Wali Quthbil Akwan (Wali Pemimpin Makhluk) karena beliau seorang ahlul bait sekaligus murid Syekh Samman. Katanya lagi, seluruh murid Syekh Samman yang keturunan Nabi Muhammad Saw pasti secara otomatis akan menjadi Wali Quthbil Akwan. Kemudian, ulama Banjar menyebut beliau sebagai Ashabul Wilayah (pemilik kawasan) untuk daerah Kalimantan. Siapapun yang ingin bermukim dan berusaha di kawasan Kalimantan seyogyanya minta izin kepada beliau agar sukses dan sejahtera. Sedangkan, banyak peziarah menyatakan kalau punya hajat apa saja yang baik lalu bernazar ziarah ke makam beliau Insya Allah, Allah akan segera mengabulkan. Apalagi perkara yang terkait dengan suami isteri yang ingin dianugerahi Allah mempunyai anak, akan cepat sekali makbulnya.
Dahulu aku punya keluarga, masih peranah pekaian, tapi aku memanggilnya Paman Idris karena masih muda belum pantas dipanggil kakek. Ia merupakan ipar dari Mu’allim Syukur (Tuan Guru H. Abdussyukur, Teluk Tiram), ulama besar teman seperguruan dari Guru Seman (Tuan Guru H. Samman Mulia, Martapura). Isterinya yang bernama Sa’idah masih merupakan adik seayah dari Mu’allim Syukur. Hampir 25 tahun usia perkawinan keduanya belum memperoleh anak, padahal sudah berusaha macam-macam, baik secara medis, pengobatan alternatif maupun mengikuti pepadah Tatuha seperti mengambil anak angkat untuk memancing kelahiran.
Ketika ia hampir putus asa, entah mendapat ilham atau nasehat orang, dia lalu bernazar “apabila isterinya mau hamil, maka ia akan ziarah ke makam Datu Kalampayan, Martapura dengan jalan kaki dari Teluk Tiram, tempat rumahnya”. Tak berapa lama dari pengucapan nazarnya itu, isterinya benar-benar hamil. Tentu saja ia sangat senang dan begitu bahagia. Segera ia akan membayar nazarnya berjalan kaki dari Teluk Tiram ke Pelampayan yang berjarak sekitar 73 km. Kejadian itu sekitar tahun 1975 jalur perjalanan sepanjang jalan A. Yani masih sangat sepi, kalau malam masih gelap gulita belum ada lampu listerik, sebelah menyebelah jalan masih berupa hutan belukar yang angker, apalagi ketika sudah memasuki kampung Kalampayan jalan belum beraspal dan penuh hutan lebat dengan beragam pohon besar yang rimbun. Ia menempuh perjalanan pulang pergi Teluk Tiram-Kalampayan sekitar tiga hari tiga malam dengan istirahat atau tidur di Langgar, Masjid dan warung orang yang sudah tutup. Katanya, selama perjalanan yang banyak mengganggu di waktu malam hanya ancaman dari kaum jin dan urang alam sebelah yang melakukan penampakan. Untung katanya ia membawa cemeti semacam tongkat kayu kecil yang sudah diisi atau penuh wifiq. Dengan cemeti itu ia keluarkan dan tatingkan, maka para makhluk itu lari terbirit-birit.
Manakala sudah waktunya 9 bulan kehamilan, maka lahirlah anak laki-laki dari perut isterinya Saidah dengan lancar dan mulus dalam kelahiran normal oleh hanya bidan kampung (paurutan). Anak itu kemudian olehnya dinamai Ahmad Ramadani. Aku tak tau kenapa dinamai Ahmad Ramadani ? Apakah anaknya itu lahir di bulan Ramadan atau hanya sekadar nama saja yang tidak ada kaitannya dengan bulan Ramadan. Sayangnya, itu merupakan kelahiran satu-satunya tidak berlanjut pada kelahiran berikutnya, Ahmad Ramadani menjadi anak tunggal satu-satunya.
Sekarang Ahmad Ramadani sudah berkeluarga mempunyai anak dua. Ia tinggal di Banjarbaru bersama ibunya yang masih hidup, tapi sudah uzur sakit-sakitan. Sementara ayahnya, Paman Idris yang berjalan kaki dari Teluk Tiram ke Pelampayan telah lama wafat.
Begitulah kisah nyata yang menggambarkan betapa manjur dan mustajabnya nazar ziarah ke makam Datu Kalampayan terutama dalam perkara yang kaitannya dengan anugerah anak, dahsyat sekali, akan Allah segerakan makbulnya.

No responses yet