Kita mungkin termasuk satu diantara konstelasi jagad raya orang-orang yang merasakan kegelisahan dan kehampaan dalam hidup kita. Disela-sela kesendirian kita; kita sering bertanya-tanya kepada batin kita sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang absurd semisal “Siapa saya ini sebenarnya? Untuk apa saya hidup? Kemana harus menuju? Hidup kok seperti hambar dan tak berarti? Apa yang salah dengan kehidupan saya?”

Sebagian orang, mengatasi kegamangan pertanyaann itu dengan membuat kesadarannya lupa akan apa yang dia renungkan. Mereka berlari ke gunung. Nonton bioskop. Safari bersama kawan-kawan, dan macam-macam lagi. Efeknya mungkin terasa untuk sementara, mereka tidak lagi bertanya-tanya dalam hatinya karena disibukkan oleh hal lain, tetapi sebenarnya mereka tidak pernah menyentuh pokok permasalahan; bahwa ada bagian dalam dirinya yang ingin tumbuh dan menjadi dewasa dengan pengertian-pengertian yang lebih bijak.

Orang-orang arif mengatakan, saat kita sudah mulai bertanya-tanya tentang makna hidup, itulah pertanda bahwa Tuhan memberikan rahmat kepada kita. Rahmat itu berupa kegelisahan dan perasaan gersang akan keadaan; yang menjadi bahan bakar bagi diri kita untuk bergerak dan mencari-cari jawaban. Dan satu-satunya yang bisa menentramkan diri kita atas pertanyaan-pertanyaan absurd semisal itu adalah kesadaran hati bahwa sebenarnya kita sedang meniti jalan kembali kepada Tuhan. Kepada Dialah kita menuju.

Orang-orang yang terpantik kesadaran hatinya untuk kembali kepada Tuhan, biasanya akan melewati gerbang-gerbang pendewasaan diri. Tempo-tempo kita bisa merasa begitu sungkan untuk beribadah karena melihat dosa-dosa yang telah kita lakukan sebegitu banyaknya. Padahal, guru-guru mengatakan bahwa sadar akan kekhilafan adalah baik; akan tetapi penyesalan yang ekstrim sampai merasa diri tidak layak kembali ke Tuhan dan terlanjur basah ya sudahlah- adalah tipuan yang sangat halus dan harus kita hindari.

Jangan banyak bertanya, pada apa yang sejatinya sudah nyata.

Minta lah pertolongan-nya.

Tiada daya berketaatan, dan tiada daya meninggalkan segala salah dan dosa kecuali dengan pertolongan Dia.

Orang-orang arif mengatakan kuncinya sederhana saja. Mindset kita harus dirubah, dari merasa ‘kita berjalan menuju Tuhan’ dirubah menjadi ‘kita minta pertolongan Tuhan untuk diperjalankan menujuNya’.

Jadi ketika terhantam masalah, tidak usah sibuk melihat kedalam batin dan merekayasa agar tidak galau. Tapi kembalikan seketika itu juga kepada Tuhan, dan berdoalah bahwa betapa tanpa pertolonganNya kita ini tidak akan mampu terlepas dari gelisah dan was-was. Setelah itu lepaskan saja.

Saat kita iri kepada orang lain, tidak usah sibuk melihat kedalam batin dan setengah mati menahan rasa iri. Melainkan berdoalah dan mengadulah kepada Tuhan bahwa betapa tanpa pertolongan Dia kita tidak mungkin lepas dari kebencian melihat kebahagiaan orang lain.

Saat kita jenuh beribadah dan terasa hambar segala pengabdian, tidak usah sibuk merekayasa agar sholat dan zikir kita menjadi haru dan penuh isak tangis. Melainkan berdoalah dan mengakulah, bahwa betapa tanpa Dia, kita tidak akan pernah mengerti makna kehambaan yang sebenarnya dan tak akan pernah mencecap nikmatnya beribadah.

Tugas kita hanya mengukur diri saja rupanya. Dan menyadari, bahwa tidak satu tapakpun perjalanan kita mengenalnya akan berhasil, kecuali Allah sendiri yang menuntun kita kepadaNya. 

Tasawuf, tak semata kata. Namun laku, yang dijejaki kita.

“Keinginanmu untuk lari menuju Tuhan dan hanya ingin sendiri bersamaNya, hanya ingin ‘kamu dan Dia’, sedangkan kenyataannya kamu harus menghadapi dengan alam fikiran, logika sebab akibat, hasratmu itu tadi hanyalah Nafsu tersembunyi dalam bilik ketololan, kemalasan, ketidak beranian, kepengecutan, dan kelelahan hatimu.”

Hadapilah….

Karena Allah tak pernah hilang, tak pernah ghaib, tak pernah berjarak, tak pernah bergerak atau diam, tak pernah berpenjuru atau bernuansa, tak pernah berbentuk dan berupa, tak pernah berwaktu dan ber-ruang. Tak ada alasan apapun yang bisa menutup, menghijabi, menghalangi, menirai Allah dari dirimu, apalagi sekedar untuk “menyendiri bersamaNya” dalam hiruk pikuk dunia. Tanpa harus melepaskan tantangan zaman, perjuangan, kegairahan kehambaan, kita tak pernah terhalang sedetik pun untuk menggelayut di “PundakNya” apalagi bermesraan dalam pelukanNya.

Jika ruang sunyi di hatimu terganggu oleh buar dan suara-suara nafsu, masuklah ke dalam bilih ruhmu, karena dalam bilik ruhmu ada hamparan agung Sirrmu, dimana sunyimu menjadi sirnamu kepadaNya, bahkan tak kau sadari kau panggil-panggil namaNya, karena kau telah berdiri di depan GerbangNya. Kelak kita bisa kembali bersamaNya, untuk melihat dunia nyata yang tampak di mata kepala, “BersamaNya aku melihat mereka,” begitu sunyi ungkapan Abu Yazid Bisthami kita.

Inilah awal keberangkatan kita,

menuju tetapi dituju,

memandang tetapi dipandang,

melihat tetapi dilihat,

bergerak tetapi diam fana,

berkata tetapi bisu,

memanggil tetapi dipanggil,

bersyari’at tetapi hakikat,

berhakikat tetapi syari’at,

bertangis dalam senyuman

senyum tak menahan airmata

bersunyi-sunyi tetapi ramai

beramai-ramai tetapi sunyi.

Suluk, tak muluk.

Seperti Sang Nabi SAW, kalau boleh mengambil analogi meski tidak mungkin bisa dibandingkan; yang mengalami gelisah luar biasa dan khalwat di gua hira, untuk kemudian setelah “tercerahkan” maka terjun kembali ke kancah masyarakat dan melakukan apa yang sudah jadi Garis Hidup Beliau.

Ya level kita-kita sih tidak usah terlalu muluk-muluk. Setelah mendapatkan “alarm” kegelisahan itu maka Berhenti sejenak sajalah dalam keseharian kita yang ngebut, lalu hela nafas, dan tanyakan kembali, dari mana kita, mau kemana kita, apa yang kita kerjakan sekarang ini? lalu kita minta Allah menuntun kita. Biar hidup yang sekali-kalinya ini tidak ngebut tak karuan hantam sana-sini.

Bagus lagi, kalau kita sama-sama belajar supaya lebih “masuk” dalam sholatnya, agar memberi semacam jarak mental antara kita dengan aktifitas kita untuk tak terlalu larut. Jadi siklus hidup kita mungkin begini: “grasa-grusu dengan dunia-banyak dosa-gelisah- lalu “kembali”.

Setidaknya sebagai awalan Bisa kita pertahankan dulu sikap kembali-nya itu. Tiap gelisah, kita “kembali”. Tiap gelisah, kita “mbalik ke Allah”.

Semakin sering kita tumakninah dalam hidup dan mengatur laju hari-hari kita, tahu tema besar drama hidup kita, kata para guru, kita akan tercerahkan juga.

Seperti apa hidup yang tercerahkan itu? saya juga tidak tahu, yang jelas ada peran yang harus kita jalani sekarang, dan mari kita jadikan tunggangan buat pulang. 

Jadi, gitu aja ya ?

Jangan dibuat repot. Repot kok, dibuat – buat. Nggak dibuat aja, sudah repot !

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *