Wajar bila Allah menjadikan surah al-Fatihah begitu istimewa. Untuk itu, telah disematkan kepadanya banyak nama yang sebagiannya mengungkapkan fadilah dari surah itu. Di antaranya; al-Fâtihah yang berarti pembuka atau pemula, Umm al-Qur’an yang bermakna induk al-Qur’an, as-Sab’ul Matsâni yang berarti tujuh yang berulang-ulang, al-Kanz yang bermakna perbendaharaan, Asâsul Qur’an yang dimaksud pondasi al-Qur’an, asy-Syâfiah dengan makna penyembuhan, ar-Ruqyah yang merujuk pada pengobatan dan perlindungan, asy-Syukur yang artinya ungkapan syukur, ad-Du’a dengan artian Doa, al-Hamd yang bermakna pujian, ash-Shalat yang berarti Shalat, al-Wâqiyah yang mengarah pada fadilahnya untuk melindungi, al-Kâfiyah yang memaksudkan pada kecukupan, dan al-Asâs yang menggambarkan bahwa ia adalah dasar bagi segala sesuatu. 

Tentunya, sangat beralasan pula bila surah yang memiliki nama tidak sedikit dan di dalamnya tertuang kalimat, “Tunjukilah kami jalan yang lurus” itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari salat. 

Disadari atau tidak, pengulangan kalimat itu hingga terdaraskan minimal tujuh belas kali—sejumlah rokaat shalat wajib dalam sehari semalam —memberikan kesadaran bahwa benarlah jika istiqamah itu tidak mudah. Bukankah bahkan seseorang yang selalu shalat pun seringkali tidak mampu menjaga keistiqamahannya? Boleh jadi saat mendirikan salat seseorang begitu khusyuk (bulat hati) dan khuduk (rendah hati). Namun, itu tidak berarti bahwa sesudahnya ia akan tetap dalam kondisi seperti itu. 

Jika dilihat dari unsur kata istiqamah,  khususnya aspek perawatan dan pelestarian (al-muhâfadzah), tentu ini berarti istiqamahnya belum sempurna. Tidak aneh bila kemudian kita melihat ada banyak orang yang salatnya begitu tekun, namun tak juga bisa lepas dari pengaruh dukun. Tidak aneh juga bila ada yang mendirikan salat secara bergegas, namun tidak konsisten dalam menjalankan kewajiban dan tugas. 

Ada banyak orang yang begitu kuat memelihara amalan zikir, namun sayangnya masih tak peduli dengan nasib para fakir. Terlupakankah oleh mereka sebuah sindiran ‘Umar ibn al-Khaththab, “Pantaskah kalian mengaku sebagai mukmin sementara di tengah-tengah kalian ada mukmin yang merintih kelaparan?”  Ada juga yang tidak putus-putusnya secara kaku berjuang untuk “menegakkan” syariat, namun pada saat yang sama dari dirinya sendiri muncul perkataan dan perbuatan yang menampakkan buruknya tabiat. 

Ada pula yang begitu sering terlihat mencium tangan seorang guru, habib maupun kyai, akan tetapi kedapatan merendahkan orang-orang renta dan orang tuanya sendiri. Dan, amalan ruhani lain yang menyisakan fakta kontradiktif dan laku paradoks yang masih sering terperagakan di sekitar kita. 

Mungkin untuk sebagian itulah mengapa Allah menghadirkan beragam bentuk kewajiban agama (ibadah), agar kita mau belajar untuk “terus di jalan yang lurus”. Bisa jadi kita belum khusyuk dan tulus pada satu putaran tawaf, atau pada satu rakaat dalam shalat, namun kita tidak berputus asa untuk bangkit belajar memupuk ketulusan pada putaran tawaf maupun rakaat lainnya. 

Lalu, dari mana kita harus memulai menghadirkan istiqamah? Setidaknya ada 5 (lima) unsur dan 7 (tujuh) jalan (proses) dalam istiqamah yang satu sama lain saling berkaitan dan menjadi proses berkesinambungan untuk meraih istiqamah.  Lima unsur itu layaknya tahapan-tahapan spiritual yang mesti dilewati oleh siapa pun yang sedang menempuh perjalanan menuju-Nya. Kesempurnaan tahap awal tercapai ketika tahap selanjutnya telah mulai ditapaki. Sebaliknya, tahap selanjutnya tidak akan tercapai apabila tingkat sebelumnya belum terlewati. Sedangkan tujuh buah jalan merupakan proses kesadaran yang, bebeda dengan tahapan, tidak berbentuk pendakian. Akan tetapi, ia lebih merupakan siklus yang mendatar saja. 

Pada titik manapun ia mengalami suatu kesadaran tertentu, sangat mungkin ia pada suatu waktu nanti kembali kepada titik tersebut namun dengan pemaknaan ruhani yang lebih dalam. Setiap tahapan dan proses memiliki tanda dan goda yang menghiasi, yang seharusnya tidak ditemukan lagi pada diri seorang penempuh jalan ruhani (sâlik) di tahapan selanjutnya. Sehingga, seorang penempuh jalan menuju diri-Nya ketika memasuki tahapan yang satu masih memiliki sikap-sikap lahir atau laku batin tertentu, maka di tahapan sesudahnya sikap tersebut sudah dilampauinya dan terlucuti dari dirinya. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *