Hikmah jarang kita dapatkan dalam keseharian kita, karena kita tidak mengasah talenta mendengar. Dalam keseharian dan dalam ibadah kita, saya perhatikan diri saya sendiri, ternyata acap kali dipenuhi dengan keinginan bicara, tanpa ada proporsi mendengar. Padahal, untuk mendapatkan petunjuk dan hikmah haruslah “mendengar”.
Pada “mendengar” ada porsi adab.
Jika “berbicara” memenuhi hak-hak-nya ilmu untuk tidak disembunyikan dan disampaikan pada orang lain agar penuh kemanfaatan. Maka pada “mendengar” kita memenuhi adabnya dalam konteks pergaulan sesama makhluq, dan pada gilirannya merendah kepada Tuhan. Karena “mendengar” berarti mengakui bahwa hikmah dari luar diri memiliki kesempatan yang sangat banyak untuk mengalir kepada kita.
Ambillah beberapa contoh sikap “mendengar” dalam peribadatan. Di dalam sholat ada tuma’ninah. Diam sejenak pada setiap gerakan sholat. Sebuah fase kontemplatif.
Selama ini saya memenuhi fase kontemplatif itu dengan sibuk pada bacaannya, tanpa menyadari bahwa fase kontemplatif itu bisa pula diisi dengan “sibuk” pada sikapnya. Misalnya sujud, maka fase tuma’ninah yang kontemplatif itu bisa dipenuhi dengan sikap merendah. Dalam merendah memang kita bisa berdo’a, tetapi di ujung do’a kita akan “mendengar”.
Disitu kita tidak sibuk pada diri sendiri, melainkan menjadi receiver, menjadi cangkir yang kosong.
Mereka Yang Tahu Diri, Selalu Sadar Diri Dan Tak Akan Bangga Diri…
”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”
Orang-orang, yang menceritakan tentang DIRINYA sendiri, akan merasa tak layak, dan pada akhirnya bungkam menceritakan kebaikan, sebab dia menilai dirinya tak layak. Karena, kebaikan dalam hal ini diasosiasikan dengan DIRINYA sendiri. Dirinya adalah kebaikan itu sendiri, sedangkan dirinya sejatinya tak begitu baik, maka berhentilah dia menceritakan kebaikan.
Sedangkan, orang-orang yang menceritakan tentang Rahmat Tuhannya, tentang rahmat Allah SWT, tidak akan bungkam dalam menceritakan kebaikan, karena mereka hanya menceritakan tentang kebaikan Allah, rahmat Allah yang tersebar-sebar, dan tak ada konteks dirinya sendiri dalam hal tersebut.
Ibarat kata, orang ini bertutur “Lho… memang saya pendosa kok, tapi ini bukan tentang saya, ini tentang Tuhan Saya.”
Rupanya, para ulama, para arifin, bisa menulis berjilid-jilid buku dan ribuan tulisan berjudul-judul, adalah karena mereka berada dalam sikap batin yang merasa hanya sebagai “Story Teller” pencerita, penyampai, tentang rahmat Allah, kebaikan Allah yang mereka rasakan dan mereka lihat sepanjang sejarah hidup mereka.
Tengoklah sejarah dimana para ulama itu semakin banyak bukunya, semakin sering pula menangis. Kenapa menangis? karena mereka sadar diri mereka pendosa. Lho kok pendosa menulis? ya tentu menulis, karena tulisannya bukan tentang diri mereka, tetapi tentang rahmat Tuhannya.
Diam Seperti Apa, Yang Menunjukan Adab Dan Hikmah ?
Banyak orang keliru, telah mengira bahwa ucapan lisan dan detak di dalam hati itu berbeda. Mereka mengira, bahwa Allah menilai apa yang terlahir di lisan, sementara Allah lupa apa dengan yang di dalam hati.
Mereka tak meminta apa-apa pada “Lisan” mereka, demi mencontohi sikap tinggi para Aulia dengan “Diam”nya, tetapi belakangan mereka menyadari bahwa jika di hati masih gelisah dan merasakan berat dengan keadaan, dan detak hati mereka masih hendak meminta pertolongan, berarti kondisi itulah sebenarnya yang lahir pada mereka.
Lisan diam, tetapi hati bergolak, sama sekali tidak menjadikan kita selevel aulia.
Dengan diamnya lisan, tetapi di hati masih berdetak meminta pertolongan Allah untuk dipindahkan ketempat yang lebih cocok dengan kita, berarti kita masih harus mengakrabi Allah pada tataran itu.
Mengakrabi Allah lewat kebutuhan di dalam hidup kita.
Jadi satu yang harus digaris bawahi adalah, perlu jujur melihat apa gerangan yang bergejolak di hati kita. Dan lewat segala gejolak di hati itulah kita diundang untuk menemui Allah.
Jika di hati bergejolak meminta pertolongan, maka lahirkanlah gejolak hati itu dalam lisan yang berdo’a. Berdo’a berarti menegakkan kehambaan. Jangan gegabah meloncat pada level tinggi yang tak sanggup kita tiru.
Jika Allah mentakdirkan gejolak rasa butuh di dalam hati, maka jadikan saja itu sebagai kendaraan menuju Allah. Sebagaimana Umar r.a. berkata: “Aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a, maka aku tahu pengabulan bersamanya”.
Zakariya a.s berdo’a meminta keturunan berpuluh tahun. Musa pun berdo’a ketika diperintahkan menghadapi Fir’aun. Berdo’a adalah wujud kehambaan.
Jalani apa yang harus dijalani, tak perlu memikirkannya.
Disiplinkan Diri, Agar Mudah Disiplin Dalam Hidup
Disiplin diri sangat dibutuhkan dalam rutinitas harian agar dapat menekuni semua tujuan hidup dengan sempurna; disiplin diri akan menjadi kekuatan yang membangun kualitas hidup sesuai harapan; disiplin diri dapat membentuk kebiasaan hidup positif untuk membuat diri menjadi seperti yang diinginkan; disiplin diri dapat mengembangkan kegigihan dan motivasi diri untuk mencapai tujuan hidup dengan sempurna.
Bila kamu hebat dalam disiplin diri, maka kamu pasti dapat bangun setiap pagi sebelum matahari terbit, untuk memulai rutinitas hidup dan juga berolahraga; kamu pasti dapat mengelola beban kerja agar dapat bekerja dengan efektif; dan kamu pasti bisa mengabaikan gangguan untuk mencurahkan seluruh perhatian kepada tujuan hidupmu.
Disiplin diri akan membuat diri selalu konsisten dengan pola hidupnya, dapat mencapai semua harapan dan keinginan, baik di dalam kehidupan pribadi maupun dalam karir. Disiplin diri adalah jawaban untuk mendorong motivasi diri mewujudkan niat dan tujuan dengan sempurna.
Disiplin diri memiliki sifat untuk mengakumulasi semua langkah-langkah kecil, semua perjuangan-perjuangan kecil, dan semua kemenangan-kemenangan kecil ke dalam sebuah sukses besar kehidupan yang berkelanjutan.
Disiplin diri selalu memberi semangat untuk menunda kesenangan jangka pendek demi mengejar kesuksesan besar di masa depan. Disiplin diri memberikan kekuatan untuk bekerja keras mencapai tujuan yang ditetapkan, tanpa ragu ataupun menjadi malas untuk melakukannya. Disiplin diri adalah bahasa tindakan dalam keberanian untuk melakukan hal-hal yang ingin didapatkan. Disiplin diri adalah pola hidup untuk tidak menyerah, saat diri kehilangan motivasi atau kehabisan energi karena tekanan hidup.
Jadi Kaya, Tanpa Terpengaruh Gaya.
Ternyata, sebuah kenyataan dimana kita pernah mengalami lapang-sempitnya hidup inilah, yang membuat kita lebih “kaya” dalam memandang kehidupan.
Tentang “lebih kaya dalam memandang kehidupan” inilah yang menarik bagi saya dan ingin saya bahas.
Karena saya baru mengerti satu hal, bahwa semakin kita “kaya” dengan cerita hidup, maka semakinlah seseorang itu punya paradigma yang lebih tinggi dalam memandang kaitan antara Tuhan dan kehidupan ini.
Tentu dalam tanda kutip jika seseorang itu dianugerahi keindahan penyaksian pengaturan Tuhan.
Mari kita ambil satu contoh tentang pengalaman yang “kaya”.
Tengoklah Adam a.s, kisah awalan manusia di bumi ini, dalam banyak sekali literatur, kita ketahui kisah Adam dimulai dengan kekeliruan memakan buah khuldi. Jadi, drama panjang kehidupan anak cucu manusia diawali dengan langkah yang “keliru”.
Tetapi apatah itu keliru dan benar? Jika baik keliru, maupun benar, dalam penyikapan yang tepat bisa sama-sama menghantarkan pada Tuhan.
Barulah saya mengerti pandangan para arifin yang mengatakan bahwa dalam konteks yang lebih dalam, sebenarnya bukan masalah keliru ataupun benar, tetapi yang lebih penting adalah jika setiap kondisi apapun yang kita alami dalam kehidupan sekarang ini membuat kita mengerti tentang Tuhan dan kaitannya dengan kehidupan.
Jadi…
Situ jangan niru saya. Saya masih banyak gaya. Persiapan biar anteng pas sudah kaya.
Banyak bersyukur…
Banyak berbagi, biar makmur.

No responses yet