Pernah bertanya-tanya gak sih, kok kita bisa percaya ada orang yang diutus Pencipta Alam dan dia mengklaim bahwa dia membawa Firman-Nya? Kok bisa kita percaya bahwa Sang Pencipta alam mengutus seseorang untuk menjelaskan firman-Nya?
Jawaban pertanyaan itu, sesulit pertanyaan kenapa kok kita dulu mau dinikahi sesosok makhluk yang mengklaim bisa membahagiakan kita? Ketemu pirang perkoro kok bisa percaya sama perkataannya?
Tapi sesulit apapun jawabannya, pasti ada penjelasan logisnya. Karena ini masalah aqidah (keyakinan) yang berasal dari kerja logika.
Seperti kita mempercayai Gusti Allah karena melihat dan merasakan sendiri sifat-Nya dan sifat ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita. Maka kita mempercayai adanya para nabi karena sifat-sifat mereka dan sifat-sifat apa yang mereka bawa, yaitu mukjizat, kitabullah dan syariat mereka.
Sehingga, iman pada nubuwah ini asas keimanan. Karena ada nubuwahlah, ada yang namanya agama. Karena kita percaya pada kebenaran nubuwah, maka pasti kita percaya kebenaran pada apa yang dibawa oleh nubuwah tadi. Dari sanalah, muncul aqidah, syariat dan hakikat semuanya. Tanpa ada unsur nubuwah, suatu perkataan cuma ndobos dan berfilosofi aja. Makanya dikatakan kalo Al Qur’an itu dihilangkan kata Allah-Nya, maka jadi kitab Primbon.
Maka penting banget bagi kita untuk mengetahui, memahami dan menyadari alasan logis kenapa kita harus percaya pada nubuwah. Sebagai jalan masuk satu-satunya untuk memahami kehendak Gusti Allah.
Nubuwah itu asas atau pondasi dasar keimanan. Unsur penting dan paling dasar berdirinya agama.
Taruhlah ada orang, dengan akalnya, percaya adanya sesuatu yang menciptakan alam. Tapi dia gak tau apa nama-Nya? Bagaimana sifat-sifat-Nya? Apa bayangannya tentang Tuhan itu benar? Bagaimana cara berkomunikasi dengan-Nya? Bagaimana berperilaku yang pantas dihadapan-Nya? Blank sama sekali.
Maka manusia butuh adanya nubuwah untuk bisa berhubungan dengan Tuhannya. Tanpa nubuwah, orang mungkin bisa yakin adanya Tuhan. Tapi tanpa nubuwah, orang tidak tahu bagaimana hakikat dan kehendak Tuhan.
Nubuwah berarti perkabaran, suatu berita yang diterima oleh seorang hamba terpilih dari Gusti Allah langsung dengan jalan wahyu. Nubuwah bisa dianalogikan faximili yang dikirim oleh pusat (Gusti Allah) lewat kabel atau sinyal (wahyu) yang diterima oleh petugas resmi dari pengirim (Nabi dan Rosul).
Penerima wahyu nubuwah ini disebut Nabi. Nabi mempunyai hubungan langsung dengan Gusti Allah lewat hubungan wahyu. Sedangkan hubungan dari Gusti Allah kepada Nabi lalu kepada manusia disebut risalah. Pembawa risalah disebut Rosul.
Sedangkan yang namanya wahyu itu bukan ilham, wisik, mimpi, firasat dan sejenisnya. Wahyu itu datang dari Malaikat Jibril yang datang saat Nabi sadar, tidak tertidur. Nabi sendiri gak pernah berusaha untuk mendapat wahyu. Nabi gak pernah sengaja bertapa atau ngobong menyan buat dapat wahyu. Wahyu datang sendiri kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya. Maka benar dikatakan Nabi tidak pernah tertidur, jaga-jaga ada wahyu datang. Isi wahyu bisa sesuai dengan permasalahan yang dihadapi Nabi atau tidak.
Dari sini bisa kita bayangkan, betapa istimewanya seorang Nabi itu. Mereka para Nabi (‘alaihimus sholaatu was salaam) dipilih langsung oleh Gusti Allah untuk menerima Kalam-Nya Yang Sempurna, tanpa pernah para Nabi itu meminta untuk dipilih.
Yang membedakan wahyu dengan selainnya adalah kandungan kontennya. Konten wahyu berisi bahasa indah tingkat tinggi namun mudah diingat dan padat makna, yang berisi kabar ghoib, ilmu aqidah, akhlaq dan tata cara berbakti pada Gusti Allah. Wahyu juga menjadi penyeimbang dan penengah di antara permasalahan manusia. Sehingga wahyu pasti bersifat adil, obyektif, moderat, tidak menyalahi akal, mempunyai visi perbaikan peradaban dan misi agung yaitu penghambaan total pada Gusti Allah.
Dari kompleksitas keunggulan konten wahyu tersebut, tidak ada perkataan atau tulisan manusia yang bisa menyamai isi wahyu. Sehingga, andai wahyu itu dirubah, dikurangi atau ditambahi, pasti kentara.
Sehingga dari ciri khas wahyu tersebut, kita bisa mengira-ngira, bagaimana sifat para Nabi sang penerima wahyu tersebut. Pastinya merekalah yang paling cerdas, paling bener perilakunya, paling terpercaya dan paling top markotop pokoknya di antara jutaan manusia.

No responses yet