Begitu nama Paijo semakin berkibar, akhirnya Yuk Tin memberi ijin Paijo untuk menjadi pemateri seminar Internasional di kampus terkenal di  Indonesia untuk memperingati hari Guru Nasional. Begitu senang dan bersemangatnya mempelajari negri yang konon terkenal ramah ini, Paijo langsung memborong semua koran dan majalah di airport. 

 Sambil menunggu jemputan panitia Paijo menyimak satu-persatu berita di koran dan majalah tersebut.  Paijo terlihat kecewa sebab yang menjadi headline kebanyakan berita-berita yang menggambarkan bangsa ini suka menghujat dan melaknat orang atau pun kelompok  yang melakukan kesalahan. Akhirnya Paijo menutup semua koran dan majalah dan memasukkanya ke dalam tas punggung yang baru dibelinya di Sunday Market. 

Sambil mengamati ramainya lalu lalang orang di terminal kedatangan internasional, Paijo berpikir keras tentang apa yang harus ia sampaikan kepada jamaah kampus yang pasti lebih cerdas ketimbang jamaah warungnya Yuk Tin.

Ketika sedang asyik melamun Paijo dikejutkan dengan sapaan salam seorang pemuda gagah yang memakai jaket biru kebanggaan kampusnya. Paijo pun mengikuti pemuda tersebut menuju parkiran sepeda motor bandara.  Paijo terlihat bangga dan bersyukur karena selama hidupnya baru kali ini dia dihormati orang sampai dijemput segala (sudah mirip kiai gumamnya dalam hati).

 Setelah sampai di kantin kampus, ternyata jamaahnya sudah ramai dan siap mendengar pidato si Paijo. Begitu masuk pintu semua jamaah bersorak gembira dan meneriakkan nama  Paijo! Paijo! Paijo! Paijo pun tercenggang  dan segera “bergaya” bak selebritis yang sedang mencalonkan jadi Presiden. Acara pun digelar Paijo diminta segera berorasi.    

Paijo berdiri dengan tenang dan memulai orasinya dengan sebuah motto; “Buku adalah cendela dunia, membaca adalah kunci pembukanya. Guru adalah pembawa cahaya agar kalian bisa membacanya. Tahukah kalian apakah buku itu?  Jamaah kantin saling berpandangan tak paham apa maksud pertanyaan Paijo. Paijo pun mengulangi pertanyaannya; Tahukah kalian apakah buku itu? Seorang jamaah senior yang merasa tersinggung dikasih pertanyaan sederhana menjawab; “Buku ya buku Jo, masak gitu saja kamu tidak tahu!”. Paijo tersenyum mendengar jawaban klise ala manusia kampus yang sebenarnya tidak tahu tersebut. Hanya karena ingin menutupi ketidaktahuannya,  mereka berusaha tampil heboh bak pahlawan di hadapan jamaah yunior mereka. 

Paijo pun meneruskan orasinya; “Buku adalah tempat manusia menuliskan pengalamannya. Bangsa kalian setiap hari menuliskan pengalamannya di media massa baik cetak ataupun elektronik. Di bandara tadi saya membeli semua koran dan majalah kalian. Hanya dengan membaca berita di “buku harian kolektif kalian”,  saya sudah bisa meraba dan mengambil kesimpulan tentang watak kalian seperti apa. Semua jamaah tercenggang bahkan jamaah senior yang menanggapi pertanyaan Paijo tertunduk malu. 

Paijo meneruskan orasinya ; “Bangsa kalian terlalu suka  mencari kesalahan dan kelemahan orang/bangsa lain sehingga lupa memperbaiki kelemahan diri sendiri. Bangsa kalian itu suka menimpakan kegagalan diri sendiri dengan menyalahkan bangsa lain. Dikit-dikit teriak Asing! Aseng! Yahudi!, kapan kalian mulai mau meneriaki diri kalian sendiri dengan kata-kata Ayo Bangkit! Bangun! Tegak! Berdiri!  Kerja! Dakwah! Produktif! Aktif! Baca! dan kata-kata positif lainnya.”

“Kalian itu harusnya berdzikir dengan nama-nama mulia Tuhan, bukan ber “berdzikir” dengan kata cacian dan nama2 binatang. Jadilah guru bagi dirimu sendiri sebelum kalian menggurui orang lain” ujar Paijo.” Tiba2 seorang jamaah senior menyiram Paijo dan Paijo pun tergagap bangun. Ternyata Nyuk Tin sudah berdiri di sampingnya sambil menciprati muka Paijo yg terlelap tidur setelah seharian bekerja.  #SeriPaijoMimpirepost

Tawangsari 25 Nopember 2018

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *