Tidak bermaksud meremehkan kekuatan perempuan, karena harus diakui, pada umumnya perempuan punya daya tahan lebih dibanding laki-laki (mengurus bayi langsung memasak, dilanjut cuci-cuci pakaian dan sejenisnya yang nampak tidak butuh otot kuat tapi butuh daya tahan).
Hanya masalah kekuatan otot, biasanya lelaki tetap masih lebih kuat.Tentu tetap ada perempuan yang berotot kuat.
Saya beberapa kali menjumpai perempuan yang berjualan entah barang atau jasa yang menurut hemat saya lebih tepat dilakoni lelaki di saat saya lihat postur tubuh si perempuan itu kecil-kurus dihadapkan dengan pekerjaannya relatif butuh tenaga alias di atas kemampuan ototnya. Dua contoh di bawah ini.
Suatu saat saya ngantor di pasca sebagai Sekprodi Dirasah Islamiyyah Program Doktor UINSA. Kantornya ada di gedung Green SA dekat bandara Juanda. Angkot tidak ada, adanya ojek online atau taksi, atau sekalian pesawat hehe…
Saat mau pulang, saya pencet aplikasi di HP, tidak begitu lama datanglah sepeda motor ojek online. Pengendaranya berbadan kecil-kurus, masih muda, dan ternyata perempuan… kok tahu? Dia berjilbab hehe…
Mau saya batalkan, tapi apa alasannya? (Kalau saya masih ikut kelompok radikal dahulu pasti tanpa main rasa langsung saya batalkan karena dianggap tidak syar’i. Masalah ini bisa didiskusikan di lain waktu). Mau dibonceng kok bagaimana begitu. Oh ya, saya sering naik ojek dan kebanyakan laki-laki, baru kali itu perempuan.
Akhirnya saya putuskan, saya yang memboncengnya, dan dia mau. Sambil jalan dengan setir motor yang tidak stabil perlu diservis, agar tidak kayak patung bisu, saya tanya darimana asalnya. Dia menjawab dari Sumatera (saya lupa tepatnya).
Dia ke Surabaya dalam rangka kuliah S-2 yang gedungnya saat itu juga si Green SA. Kalau tidak salah dia baru semester awal.
Lalu dia ganti bertanya ke saya, tadi dari gedung Green SA Ada pekerjaan apa? Saya jawab sekenanya, “Sedang menata tetek bengek kantor yang “error”, saya dihubungi pihak kantor.”
Dia tidak tahu kalau saya kerja di situ, mungkin dikira saya tukang servis atau apa gitu. Maklum selain dia S2 yang otomatis banyak berurusan dengan prodi S2, saya juga bukan pejabat tinggi, sehingga banyak yang tidak kenal saya.
Dia bercerita banyak hal, namun karena jalan semakin ramai dan pakai helm, maka suaranya kadang terdengar, kadang tidak jelas. Lalu sampailah di terminal bis Bungurasih. Motor saya hentikan dan si pengojek eh si penumpang turun. Lalu saya kasih bayaran. Dia ulet, pantang menyerah, kuliah dan kerja sambilan.
***
Kisah kedua. Akhir-akhir ini saya tiap minggu ke pasar Jombang beli kelapa degan untuk ànak-anak santri yang buka puasa. Saya yang meracik sendiri mulai memecah kelapa hingga menjadi minuman. Kayak penjual es degan, nampaknya ada bakat. Si Javed dan si Dimitry membantu, kadang saya juga memanggil santri untuk membantu.
Baru-baru ini saya menuju penjual kelapa degan langganan di pasar. Saya lihat penjualnya ganti perempuan. Setelah saya tanyakan kemana lelaki yang biasa menjaga kios dagangan degannya. Kata perempuan itu, si penjaga tidak masuk karena ada familinya yang meninggal.
Saya tanya ke perempuan itu apakah saya bisa beli degan? Dia jawab bisa dan saya disuruh memilih sendiri kelapanya. Saya bilang saya tidak ahli memilih degan, saya minta agar dia memilihkan. Saya “ngalahi” (mengalah) yang macaki degan saja. Akhirnya tugas macaki (mapras atau apa ya bahasa Indonesianya) beberapa degan saya ambil alih.
Eh anak saya si Javed Mohammedy yang mengantar membonceng saya malah menggoda sambil motret “Pak, beli degan ya?” Karena saya biasa ngajak guyon anak-anak saya, maka saya jawab, “Monggo Mas santri silakan pilih.”
Tentu empati kita tidak hanya tertuju kepada perempuan. Demikian pula kepada lelaki bila kita lihat melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan pisiknya.
Kalau dalam dunia politik, masalahnya bukan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan pisiknya. Tapi tidak sesuai dengan kapasitasnya entah integritas yang minus, atau profesionalitas yang di bawah standar. Tapi mereka rebutan. Tentu bukan empati lagi, tapi pantas berucap, tidak tahu diri dan tidak punya malu.

No responses yet