Oleh: Fanida Alfiani (UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Hadits merupakan sumber agama Islam yang kedua setelah Al-Qur’an, dan kedudukan hadits tersebut tergolong begitu sangat penting. Tentu saja dalam pemahaman hadits dan AlQur’an keduanya berbeda. Umat muslim perlu paham betul terhadap kajian Al-Qur’an maupun hadits sehingga harus mempelajari keduanya tidak hanya salah satu saja. Adapun dalam mengikuti sunnah tersebut dalam agama Islam kita menganut empat madzab salah satunyayakni Imam Ahmad Bin Hanbal. Beliau merupakan seorang tokoh yang ahli dibidang fikih serta pakar hadits. Perjuangan beliau dalam agama Islam juga sangatlah besar diantaranya beliau membela akidahnya. Meskipun dalam setiap madzab terdapat perbedaan dalam berpendapat akan tetapi hal itu cukup menjadi bahan untuk belajar, jangan sampai kita mencela karena berbeda dengan madzab yang kita ikuti.
Nama lengkap Imam Ahmad Bin Hanbal adalah Ahmad Bin Muhammad Bin Hanbal Bin Asad Bin Idris Bin Abdullah Bin Hasan As-Syaibany. Dia masih keturunan Rasulullah SAW, pada masa Mazin bin Mu’ad bin Adnan. Namanya adalah Hanbal sendiri adalah nama kakeknya. Karena dalam hal rasa hormat keturunannya. Imam Ahmad Bin Hanbal lahir di Bagdad pada bulan Rabiul Awal 164 H. Ketika ia masih kecil, ayahnya telah meninggal dan sejak itu ibunya tidak pernah menikah lagi. Sejak kecil ia sudah tertarik dengan ilmu pengetahuan. Jadi kalau kemana-mana dia terbiasa membawa pulpen dan kertas. Di dalam memperdalam ilmunya, ia beberapa kali pergi ke Basrah dan bertemu Imam Syafi’i. Kehidupan Imam Ahmad Bin Hanbal sangat sederhana, itulah alasannya mendorongnya untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Selain itu, dia sangat produktif dan menulis beberapa buku.
Imam Ahmad Bin Hanbal beliau merupakan seorang tokoh yang terkenal dalam sejarah Isam. Selain itu beliau sangat ahli dan menguasai ilmu hadits beserta hukum dalam Islam. Dalam bidang fiqihpun juga dikuasainya dengan baik dan berguru kepada Abu Yusuf Yakub Bin Ibrahim. Dalam menghafal hadits Imam Ahmad Bin Hanbal terkenal dengan daya ingatan yang sangat kuat, namun beliau tetap memiliki catatan yang menjadi rujukan utama beliau dalam belajar. Imam Ahmad Bin Hanbal juga mengajarkan serta menerangkan hadits kepada muridnya dan biasanyanya beliau menggunakan hafalannya. Akan tetapi beliau tidak mengizinkan hal serupa kepada muridnya, dikarenakan beliau tidak memperbolehkan muridnya mencatat apa yang beliau sampaikan sebelum memastikan dan mencocokkan terhadap apa yang beliau katakan. Hal tersebut dilakukan beliau untuk menjadikan keontetikan isi hadits yang telah beliau sampaikan. Kegigihannya dalam belajar ilmu hadits terus ada pada diri beliau karena beliau merasa bahwa umat islam membutuhkan seorang yang ahli dalam ilmu hadits. Dan dalam persoalan fiqih Imam Ahmad Bin Hanbal lebih cenderung dipengaruhi ijtihad dari Imam Syafi’i. Maka dari sinilah ada beberapa ulama yang mengganggap bahwa Imam Ahmad Bin Hanbal bukan seorang fuqaha melainkan seorang yang ahli hadits. Meskipun hampir semua ijtihad beliau dipengaruhi oleh Imam Syafi’i bukan berarti semuanya sama, bahkan terdapat beberapa perbedaan pada persoalan fiqih diantara mereka. Adapun ciri dari keunggulan fatwa Imam Ahmad Bin Hanbal yaitu berdiri diatas dasar fikih hadits dan menggunakan asas sebagai berikut :
- Merujuk kepada nash Al-Qur’an dan hadits
- Menggunakan fatwa para sahabat
- Memilih salah satu pendapat sahabat yang diperselisihkan. Jika dalam nash dan fatwa sahabat yang disepakati tidak terdapat jawabannya maka Imam Ahmad Bin Hanbal memilih fatwa sahabat yang diperselisihkan
- Menggunakan hadits mursal dan dhaif dalam penentuan hukum setelah fatwa sahabat
- Menggunakan qiyas apabila tidak ada jawaban dari masalah hukum dengan
- menggunakan asas diatas tersebut
Dalam buku sejarah dan biografi empat madzab dijelaskan bahwa Imam Amad Bin Hanbal terkadang mengambil qiyas dan ijma’ jika ada, mengambil al-mashalihul mursala, dan Sadduz zara’i yaitu apabila tidak ada nash yang mengatakan halal atau haram bagi sesuatu maka hal tersebut tetap dengan hukum halalnya. Berkaitan dengan ijma’ Imam Ahmad Bin Hanbal mengatakan bahwasannya ijma’ para sahabat dapat menjadi sumber hukum karena disebabkan adanya ketidak mungkinan para sahabat untuk mengingkari sunnah dan Al-Qur’an akan tetapi Imam Ahmad Bin Hanbal tidak mengakui keberadaan ijma’ setelah periode sahabat. Dalam perkembangan pemikiran Imam Ahmad Bin Hanbal memang tidak begitu luas karena adanya beberapa faktor, disebabkan karena tempat lahirnya madzab ini diwilayah yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran aliran ra’yi. Imam Ahmad memiliki prinsip yang kuat melarang muridnya untuk menuliskan fatwa darinya, karena beliau takut bahwa besok bisa saja fatwanya berubah. Dan dari hasil kegiatan murid Imam Ahmad Bin Hanbal yang kemudian Madzhab hanabilah tersebar. Tidak itu saja namun juga dijadikan sebagai madzab resmi pada pemerintahan Saudi Arabia
Sedangkan mazhab Hanabila terkenal dengan pandangannya memahami teks secara tekstual dan mempunyai sikap kaku. Pengikutnya juga tidak jarang menyebarkan madzab ini dengan cara yang ekstrim. Jadi hal ini menimbulkan pandangannya, madzab ini merupakan ajaran yang sangat keras dan terlalu fanatik.padahal semasa hidup Imam Ahmad Bin Hanbal tidak pernah mengajarkan kekerasan terhadap murid-muridnya ketika mengajar. Bisa jadi sikap tersebut ada karena disebabkan oleh ciri-ciri metode hukum yang digunakan Imam Ahmad Bin Hanbal memberikan porsi yang sangat kecil terhadap penggunaan akal dan mengutamakan nash dan perkataan sahabat. Untuk itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Ahmad Bin Hanbal merupakan seorang yang ahli dalam hadits dan fiqih. Dalam memahami sumber hukum Islam beliau masih sangat tekstual. Namun dalam hal mengambil hukum Imam Ahmad Bin Hanbal sangat berhati-hati. Karya yang paling cukup terkenal yakni Kitab Musnad Ahmad Bin Hanbal. Akan tetapi dalam menyebarkan ajarannya madzab hanbali, beberapa yang dilakukan muridnya yakni dengan menggunakan cara yang keras. Sehingga menimbulkan anggapan bahwa ajaran madzab hanbali merupakan aliran yang tidak pantas untuk diikuti.
No responses yet