Dengan penampilannya yang sederhana, tidak semua pengurus NU tahu ia seorang sarjana. Kamarudin, S.Kom.I alias Udin sudah membantu cukup lama dikantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB Jalan Pendidikan No.6 Mataram, sekitar 6 tahun lebih, sejak 2015. Di antara itu, ia juga sempat bekerja tiga tahun sebagai penjaga kantor DPW PKB NTB yang berlokasi disebelah utara Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Mataram.
Udin selalu sigap dan tanggap melayani setiap tamu yang datang dikantor PW NU NTB. Ia biasa melayani membuatkan kopi, menyediakan jajan atau membelikan makan bagi pengurus NU atau pengurus lembaga-lembaga dibawah NU yang berkegiatan disana. Ia tidak pernah membedakan pelayanan kepada orang yang lebih senior atau yunior.
Tak jarang ia juga terlibat menyiapkan berbagai perlengkapan dan kebutuhan terkait acara yang akan berlangsung disana. Saat acara berlangsung, ia menyiapkan minuman, jajan atau makan tamu undangan. Selesai acara ia tidak ikut pulang dengan para tamu, ia harus bekerja membereskan bekas makan, bekas minuman, merapikan karpet atau kursi.
Bukan sekali-dua kali, ia tidak kebagian jajan atau nasi karena habis dibagikan kepada undangan atau peserta. Ia melakukan itu tanpa imbalan gaji atau selembar surat keputusan (SK) yang menunjukkan ia memegang jabatan tertentu diorganisasi yang dibangun para ulama itu. Walau mengaku mengabdi, bukan berarti ia tidak membutuhkan biaya hidup sehari-hari bersama istri dan dua orang anaknya.
Ia sendiri sebenarnya tahu dan tidak bisa mengharap gaji dari organisasi yang dulu dibesarkan oleh TGH.Sholeh Hambali, Bengkel ini. Meski para pengurus wilayah dan pengurus lembaga-lembaga NU punya gaji dan jabatan strategis ditempatnya bekerja masing-masing.
“Mbe ma lay ngelamang, ndot wah te” kata almarhum TGH.Ahmad Taqiuddin Mansyur kepadanya dalam bahasa Sasak yang selalu ia ingat. Saat itu TGH.Ahmad Taqiuddin Mansyur masih menjadi Ketua Tanfizd PWNU NTB dengan sekretaris L.Winengan.
Kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, TGH.Ahmad Taqiuddin Mansyur itu berpesan kepadanya, “Mau kemana keliling, diam sudah disini”. Dengan bahasa lain, diam sudah NU Udin, jangan kemana-mana.
Walau sudah bertatap wajah dengan banyak orang, dari orang biasa, tuan guru sampai pejabat daerah dan pusat – tidak banyak yang tahu siapa, bagaimana dan kondisi latar belakang Udin sebelumnya atau saat ini. Udin tetap hadir dengan kesederhanaan orang biasa.
Meski dengan segala keterbatasan, Udin ternyata seorang sarjana dengan gelar sarjana komunikasi Islam (S.Kom.I). Sekarang ia bahkan terdaftar sebagai mahasiswa pasca sarjana pada jurusan yang sama Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.
“Tapi sekarang saya cuti, belum ada biaya untuk bayar SPP” katanya.
Ia memutuskan untuk mendaftarkan diri di Pasca Sarjana UIN Mataram setelah dimotivasi oleh Katib PWNU NTB, Prof.Dr.Adi Fadli, M.Ag.
“Dendek pikiran biaya atau yak mau jari apa, yang penting selesai” kata Adi Fadli kepadanya ia.
Udin kelahiran Denggen, sebelah barat Selong, lokasi Kantor Bupati Lombok Timur. Lahir dari dengan 5 orang bersaudara dari orang tua yang keduanya kini sudah meninggal. Menyelesaikan jenjang sekolah sarjana di Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH), milik organisasi Nahdatul Wathon (NW) Pancor, Lombok Timur. Disana ia mengambil jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) pada Fakultas Dakwah.
Selesai mendapatkan gelar sarjana di IAIH NW Pancor, Udin memberanikan diri untuk melamar seorang perempuan asal Kediri Lombok Barat yang dikenal melalui hand phone (Hp). Jadi ia tidak sempat merasakan indahnya jalan-jalan masa pacaran seperti kebanyak orang yang sedang jatuh cinta.
“Tidak pernah pacaran. Pacarannya setelah nikah” ceritanya santai.
Dari perkawinannya dengan perempuan asal Dusun Teratai, Desa Kediri Selatan itu ia dikaruniai dua orang anak. Anak pertama sudah berusia 6 tahu, anak nomor dua berusia 1,5 tahun.
Untuk menopang biaya hidup sehari-hari, istrinya keliling setiap hari berjualan sayur dan lauk menggunakan arco. Istrinya mengambil barang dari pasar lalu dijajakan keliling dalam kampung kepada ibu-ibu yang tidak sempat berbelanja kepasar.
Dari keuntungan istrinya berjualan sayur dan lauk keliling itu lah, sedikit demi sedikit uangnya disisihkan untuk menyetor angsuran kredit motor setiap bulan. Kadang tiga atau empat bulan sekali, ia diberikan juga oleh pengurus NU sebagai upah bantu-bantu.
“Makanya kalau saya lama belum datang ke PWNU, itu berarti motor masih dipakai istrinya” ujar Udin yang terpilih menjadi salah seorang penerima Millenial Award 2021 yang diadakan oleh Millenial Bintang Sembilan NTB.
“Kita memberikan penghormatan kepada orang-orang biasa yang kita anggap luar biasa” kata founder Millenial Bintang Sembilan NTB, Akhdiansyah, SH.I saat ditemui setelah acara.
Lima orang nominator penerima Millenial Award 2021 ini dipilih berdasarkan konsistensi dan pelayananya kepada orang lain. Lima orang itu bekerja sebagai supir cidomo, pedagang nasi balap, pedagang mie rebus dan pembantu. Dari lima orang itu salah satunya Udin.
“Pada orang seperti Udin, kita belajar tentang konsistensi, keikhlasan dan pelayanan kepada siapa pun. Tidak pernah membedakan posisi atau jabatan untuk memberikan pelayanan kepada orang lain” tambah anggota DPRD NTB dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Pada sosok Udin kita bisa belajar – bahwa setiap orang punya cerita yang merangkai hidupnya. Keputusan dan tindakanya dibentuk oleh kondisi serta situasi yang dialaminya. Hidup kadang tidak selalu menawarkan banyak pilihan, selain menjalani apa yang ada. Itu kadang ditopang oleh satu alasan yang ia pegang.[]
Sumber: GB Yusuf Tantowi

No responses yet