Sang Kiai yang juga Ketua Banser Kabupaten Nganjuk sejak era Gestapu atau G30S/PKI hingga tahun 1971 punya kisah menarik terkait pengalamannya menghadapi PKI dan DI/TII. Saya sudah menulisnya di
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=715971515866942&id=100023623007183 dan
Pagi kemarin saya janjian untuk sowan ke Sang Kiai yang juga keturunan Sunan Gunung Jati ini. Beliau berumur panjang, 85 tahun serta masih sehat dan kuat tirakat. Panjangnya usia ini dahulu pernah disampaikan oleh abahnya, “Nanti kamu yang akan hidup paling lama.” Saat itu adik-adiknya masih hidup. Benar, ternyata saat ini hanya beliau yang masih hidup dan semua saudara kandungnya telah meninggal.
Saya sowan karena memang biasanya setiap mau mendampingi santri memulai rutinan puasa, saya meminta izin dan meminta doa restu atas ijazah yang lewat beliau. Setiap saya minta izin, beliau sangat gembira dan malah bolak-bolak mengucap terima kasih. Padahal kamilah yang seharusnya berterima kasih. Ucapan terima kasih ini tidak hanya saat saya sowan, saat saya menelpon untuk meminta izin, beliau juga mengucapkan terima kasih. Benar-benar kiai unik.
Setelah mendapatkan pesan-pesan berharga, beliau menyinggung tentang teroris yang ditangkap di Nganjuk. Nampaknya beliau mengikuti berita.
Memang sebagai warga negara, kita harus mulai waspada untuk antispasi benih-benih terorisme ini. Pada tahun 2021 saja, di Jatim ada 22 terduga teroris ditangkap dari berbagai wilayah seperti Surabaya, Malang, Kediri, Tulungagung, Tuban, Nganjuk, Sidoarjo, Mojokerto, Kediri, Malang, dan Bojonegoro.
Saya telah menulis tentang identifikasi ciri terdekat teroris di Indonesia adalah mereka yang “hobi dan doyan” menstigma amalan liyan dengan bid’ah, syirik, sesat dan kafir. Sekalipun tidak semua orang dari kelompok itu pasti menjadi teroris, baca argumen saya di:
Terkait dengan kelompok yang hobi dan doyan menstigma amalan liyan dengan bid’ah, syirik, sesat dan kafir ini, beliau berkisah bahwa sebelum masa korona ini di kampungnya ada orang baru yang menikahi gadis kampung itu. Si pria itu menentang amaliah NU. Alasan menentangnya adalah untuk memberantas kemungkaran.
Mendengar hal itu, Sang Kiai berkata, “Kalau mau memberantas kemungkaran, pergi saja ke Israel.” Ternyata pesan Sang Kiai itu diabaikan.
Saat masyarakat mengadakan acara seperti muludan, nisfu Sya’ban, Rebo wekasan, tahlilan dan sejenisnya, si pria itu mempengaruhi para remaja. Katanya acara itu menyebabkan masuk neraka.
Maka Sang Kiai yang mantan pendekar sakti ini habis kesabarannya. Beliau berpesan ke masyarakat agar disampaikan ke pria itu dengan ucapan, “Apakah kamu yang datang ke rumahku, atau saya yang datang ke rumahmu.” Maksud beliau adalah untuk klarifikasi.
Si pria ternyata tidak menanggapi dan tidak datang. Selang tidak berapa lama, si pria itu pindah tempat tinggal. Semoga pindahnya tidak hijrah ke tempat dimana densus menggerebek terduga teroris di hutan Nganjuk.
***
Foto dengan Sang Kiai pada Jumat pagi lalu. Saya dirangkul dan dipepetkan sambil berkata, “anakku”. Entah bagaimana Jumat sore setelah Ashar saya kok ingin menelpon beliau. Ternyata yang menerima telepon adalah putranya dan bilang bahwa Sang Kiai berduka. Tentu saya kaget. Saat saya tanya ada apa? Katanya salah satu putranya meninggal dan mau dimakamkan. Makanya saya dengar dari telepon ada suara bacaan surat Al Iikhlas bareng-bareng. Lahul Fatihah.

No responses yet