Ketika berziarah ke makam Mushonnif kitab Safinatunnaja di Tanah Abang malam Jum’at lau, saya teringat akan sebuah dawuh Imam Syafi’i yang beberapa kali dikutip oleh Siidi Al Habib Umar :
وددت ان ينتشر هذا العلم و لا ينسب الي شيئ منه
” Aku ingin sekali ilmu-ilmuku ini tersebar tanpa dinisbatkan sedikitpun ilmu-ilmu itu padaku “
Menurut Siidi Habib Umar, faktor inilah yang membuat ilmu-ilmu Imam Syafi’i tersebar keseantero dunia hingga saat ini. Beliau sejatinya tak ingin dikenal, tak mau dipuji, bahkan beliau mengimpikan jika ilmu-ilmu yang beliau ajarkan kelak akan tersebar tanpa disangkut pautkan dengan nama beliau. Dan impian beliau pun terwujud, dalam kitab-kitab fiqih yang kita baca, nama-nama ulama pengikut Madzhab Syafi’i seperti An-Nawawi, Ar-Rofi’i, Ibnu Hajar, Ar-Romli Dll justru lebih banyak mendominasi daripada nama Sang Imam Madzhab sendiri..
Syaikh Salim Bin Sumair, tokoh kita di tulisan ini mungkin pernah memohon hal yang sama agar dianugrahi hakikat keikhlasan dan dijauhkan dari kelap-kelip kemasyhuran..
Siapa yang tak mengenal kitab Safinatunnaja ?? Kitab Matan Fiqih paling viral sepanjang masa yang tidak hanya dikaji di bumi nusantara saja, melainkan di Yaman, Syam, Afrika, dan negeri-negeri lainnya.
Dibalik ketenaran kitab Safina yang mendunia itu, banyak yang tidak mengetahui siapa pengarangnya, sejarah hidupnya dan dimana beliau dikebumikan..
Syaikh Salim Bin Sumair adalah putra dari seorang ulama besar, lahir di Dzi Asbah desa yang terletak di dekat Hautoh-nya Habib Ahmad Bin Zein. beliau adalah anak dari Syaikh Abdullah Bin Said Bin Sumair, Salah satu dari 7 ‘macan’ Hadhramaut yang dijuluki Al-Abadilah As-Sab’ah karena ketujuh ulama tsb mempunyai nama yang sama : Abdullah (Termasuk Habib Abdullah Bin Husain Bin Thahir, Syaikh Abdullah Basaudan dll).
Berkat didikan Sang ayah, Syaikh Salim Bin Sumair berhasil menjadi seorang ulama besar yang mengusai berbagai macam ilmu. Tidak hanya mengusai ilmu agama, beliau juga dikenal sebagai ahli dalam bidang politik dan kemiliteran. Dinasti Al-Katiri yang berkuasa di Hadhramaut waktu itu bahkan pernah mengirimnya ke India untuk mempelajari ilmu kemiliteran.
Ketika beliau memasuki usia senja, Sultan Abdullah Muhsin Al-Katiri mengangkat Syaikh Salim sebagai penasehat utamanya. hingga suatu hari, ketika ia merasa Sultan Abdullah sudah tidak menghiraukan nasehatnya dan malah bertindak seenaknya sendiri, beliau memilih untuk hijrah Haidarabad India kemudian ke hijrah ke Indonesia pada tahun 1267 H dan wafat pada tahun 1270 H.
Saya seringkali berfikir, dari ribuan atau bahkan jutaan karya-karya yang dikarang para ulama, mengapa hanya beberapa yang Allah sebarkan dan abadikan manfaatnya hingga saat ini ? Tentunya kitab-kitab itu memiliki sebuah “sirr”, suatu rahasia yang disebutkan Ibnu Athaillah dalam dawuhnya :
الأعمال صور قائمة و روحها وجود سر الاخلاص فيها
” Amal-amal itu bagaikan gambar tak bernyawa, sedangkan ruh-nya adalah “sirr” Ikhlas yang terdapat di dalamnya..”
Demi “Sirrul Ikhlas” itu Syaikh Ibnu Ruslan tega mengikat kitab nadzom Zubad karanganya dengan batu lalu melemparkannya ke lautan, ia lalu berdoa :
” Ya Rabb.. Jika aku memang tulus dan ikhlas dalam mengarang kitab ini, maka angkatlah ia dari dasar lautan.. ”
Seketika kitab itu naik dan muncul ke permukaan untuk menjadi salah satu nadzom fiqh Syafii yang begitu besar manfaatnya hingga saat ini..
Nah, kemungkinan besar Syaikh Salim Bin Sumair juga mempunya tirakat ikhlas khusus yang membuat kitabnya dipelajari diseluruh penjuru bumi. Beliau mungkin juga memesan “permintaan” khusus kepada Allah hingga namanya tidak banyak dikenal dibalik ketenaran yang diraih oleh karyanya. Bahkan banyak yang tidak mengetahui bahwa makam Sang pengarang Mushonnif ini ada di Tanah Abang, tepatnya di pojok kanan Masjid Al-Ma’mur, setelah melewati belakang masjid dan sebuah kebun, ditempat yang menjorok ke bawah dan lebih mirip dengan ruangan bawah tanah.
Yang membuat makam itu kian misterius, ternyata para ulama pakar sejarah masih memperdebatkan dimana Syaikh Salim Bin Sumair dikebumikan, salah satu pengurus Masjid bahkan berkomentar :
” kami tidak bisa membenarkan makam itu adalah makam Syaikh Salim tapi juga tidak bisa menyalahkannya. Karena memang tidak ada tanda-tanda sama sekali.. ”
Yang jelas, Syaikh Nawawi Al-Bantani berkomentar dalam Kasyifatussaja-nya bahwa Syaikh Salim Bin Sumair adalah : ” Al-Hadhromiyyu iqliiman Al-Betawiyyu wafaatan ” Berasal dari daerah Hadhramaut dan wafat di Betawi. Meski begitu, Pendapat yang menyatakan bahwa Syaikh Salim wafat dan dimakamkan di Surabaya juga tidak kalah kuat, dinyatakan oleh Habib Abdullah Assegaf dalam Tarikh Assyu’aro’ menukil dari Habib Syeikh Bin Ahmad Botoputi yang hidup sezaman dengan Syaikh Salim – wafat 1289 H-.
Ditengah teka-teki dimana letak peristirahatan terakhir Syaikh Salim, Saya semakin yakin bahwa beliau sengaja meminta kepada Allah untuk di-khumul-kan. Dan bisa jadi, Hijrahnya beliau dari Hadhramaut ke bumi nusantara bukan hanya karena menghindari sebuah kedhaliman, juga untuk menjauhi kerlap-kerlip kedudukan dan kemasyhuran..
إدفن نفسك في أرض الخمول .. فما نبت مما لم يدفن لم يتم نتاجه
” Pendamlah dirimu ke dalam ‘tanah’ kekhumulan (ke-tidak masyhuran.) Karena sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam, tak akan pernah tumbuh secara sempurna.. ”
Bogor, 6 Januari 2019

No responses yet