Oleh: Khusnul Khotimah, Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka
Di era yang serba modern ini dapat dikatakan menjadi orangtua tidak hanya sekedar
melahirkan, dan menafkahi anak sampai besar lalu selesai. Pada akhirnya orangtua justru
memiliki peran besar juga terhadap perkembangan anak baik perkembangan fisik maupun
psikisnya sendiri. Dimana kalau perkembangan fisik sudah jelas, kita dapat melihat dari
bagaimana bentuk dan ukuran tubuh anak itu sendiri.
Sementara untuk psikis sendiri dapat berpengaruh dalam membentuk karakter anak, untuk
itu dalam mendidik anak kedua orang tua sepatutnya memiliki ilmu dan wawasan terutama
metode mendidik yang merujuk pada rasulullah saw (prophetic parenting), agar dapat
membentuk generasi muslim yang cerdas, shalih dan shalihah sendiri tidak akan terlepas dari
dua pondasi islam yang utama al quran dan al hadits. Hal ini dikarenakan kepribadian
Rasulullah saw merupakan uswatun Hasanah yaitu bersifat baik dalam segala hal, baik dalam
aspek ibadahnya,perkataanya (qauliyah) maupun perbuatannya (amaliyah).
Anak adalah amanah Allah swt. Amanah ini harus dididik untuk menjadi hamba Allah swt
yang shalih dan shalihah. Mendidik menjadi insan yang bertakwa, berakhlak mulia dan sebagai
penerus islam. Kaum muslimin dianjurkan meneladani metode rasul dalam mendidik anak-anak
mereka, Rasulullah saw menepati posisi sentral dalam islam. Anak dalam Islam bisa menjadi
surga atau neraka bagi kedua orangtuanya sendiri. Tanpa disadari seperti berbuat dosa yang
ditanggung oleh orang tua karena kita. Inilah problematika anak zaman sekarang, dimana
banyak anak yang rentan kehilangan sikap percaya diri,mandiri dan mental dewasa.
Nabi saw. bersabda, “Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia
menshadaqahkan (setiap hari) satu sha’.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dari
sahabat Jabir bin Samurah r.a.Menurut Suwaid (2010:137) metode Nabi dalam mendidik anak
dapat direalisasikan ke dalam beberapa hal sebagai berikut:
- Menampilkan Suri Teladan yang Baik.
Keteladanan dalam Pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti
paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos
social anak. Sebab, mayoritas yang ditiru anak berasal dari kedua orang tuanya seperti
ucapan kedua orangtuanya apabila ibu dan ayah sering berbicara kotor, maka anakpun
akan berbicara kotor . Rasulullah saw memerintahkan kepada kedua orang tua untuk
menjadi suri teladan yang baik dalam bersikap dan berprilaku jujur dalam berhubungan
dengan anak. Seperti pepatah mengatakan “ Buah jatuh tak jauh dari pohonya”. - Mencari Waktu yang Tepat untuk Memberi Pengarahan
Memilih waktu yang tepat juga efektif meringankan tugas orang tua dalam mendidik
anak. Rasulullah saw selalu memperhatikan secara teliti waktu dan tempatyang tepat
untuk mengarahkan anak, membangun pola piker anak, mengarahkan perilaku anak
dan menumbuhkan akhlak yang baik pada diri anak ada tiga waktu mendasar dalam
memberi pengarahan kepada anak (Suwaid, 2010:142) yaitu: dalam Perjalanan, waktu
makan, waktu anak sakit. - Bersikap Adil dan Menyamakan Pemberian untuk Anak.
Terkadang seorang anak merasa orang tuanya lebih saying kepada saudaranya, karena
ini membuat anaknya mempuyai perasaan liar. Akibat dari perasaan yang mereka
pendam itu, mereka jadi melakukan perbuatan keji dalam persaudaraan dan
kekerabatan mereka. Rasulullah saw sebagaimana dalam sebuah hadist: “ bersikaplah
adilah terhadap anak-anak kalian, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian, bersikap
adilah terhadap anak-anak kalian”. Nabi saw bahkan sampai tiga kali mengulangi
perintah agar adil kepada anak-anak bahkan beliau mengingatkan sahabatnya untuk
bertaqwa kepada Allah swt tatkala ada di anatara mereka yang kurang adil terhadap
anak-anak mereka. - Menunaikan Hak Anak
Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran dirinya dapat menumbuhkan perasaan
positif dalam dirinya dan sebagai pembelajaraan bahwa kehidupan itu adalah memberi
dan menerima. Sebaliknya, tanpa hal ini akan menyebabkannya menjadi orang yang
tertutup dan dingin. Adapun hak-hak anak diantaranya:
a. Hak mendapatan perlindungan
b. Hak untuk hidup dan tumbuh kembang
c. Hak mendapatkan Pendidikan
d. Hak mendapatkan nafkah dan waris - Do’a
Do’a merupakan landasan asasi yang setiap orangtua dituntun untuk selalu konsisten
menjalakannya. Waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa adalah di pertengahan
malam terakhir dan setiap selesai shalat fardu, karena mendoakan anak dengan segala
kebaikan adalah hadiah terbaik unuk anak. - Membantu Anak untuk Berbakti dan Mengerjakan Ketaatan.
Menciptakan suasana yang nyaman mendorong sang anak untuk berinisiatif menjadi
orang terpuji. Kedua orang tua berarti telah memberikan hadiah terbesar bagi anak
untuk membantunya meraih kesuksasan. - Tidak Suka Marah dan Mencela
Ketika seorang bapak mencela anaknya, pada dasarnya dia sedang mencela dirinya
sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syamsudinal-Anbabi, tidak boleh banyak
mencela anak, sebab hal itu menyebabkan anak memandang remeh segala celana dan
perbuatan tercela (Al- Anbabi, 2000:130)
Kesimpulan :
Pada akhirnya setiap orangtua adalah madrasah pertama anaknya, anak mulai banyak belajar
bagaimana bersikap bukan dimulai saat dia setelah lahir, namun justru saat dalam
kandunganpun anak sudah mulai belajar. Ketika orangtua mengajarkan suatu keburukan maka
kelak keburukan itulah yang orangtua terimana. Namun ketika orangtua mengajarkan kebaikan,
maka kebaikan juga yang orangtua terima.
Referensi :
Abror, Pathil. “Konsep Pola Asuh Orang Tua dalam Alquran (Studi Analisis Ayat-ayat
Komunikasi Orang Tua dan Anak)”, Syamil, vol. 4, no. 1. 2016.
M, Nur Sari Dewi. “Pola Komunikasi Orang Tua terhadap Anak Berbasis Parenting Qur’ani”,
At-Tabayyun: Jurnal Kajian Keislaman, vol. 2, no. 1. 2020.

No responses yet