Menggunakan Subhah (tasbih) untuk menghitung jumlah bacaan dzikir, bukanlah termasuk perkara Bid’ah Dhalalah (sesat). Kalau kita kaji secara seksama dan komprehensif dalil2nya, akan ditemukan banyak hadits mengenai penggunaan alat tasbeh sejak generasi terbaik dalam Islam, serta bisa menjadi dalil yg dhohir bagi siapa pun yg menggunakannya dalam sarana berdzikir, keterangan disyariatkannya penggunaan tasbeh untuk berdzikir tsb, sekaligus sbg bantahan dan tamparan pendapat yg mengatakan bahwa menggunakan tasbeh itu haram dan menyerupai kerjaan yg dilakukan oleh non muslim dari kalangan para biksu dan pendeta.
Al Muhadits al Faqih al Mutafannin As-Sayyid Abul Fadhl ‘Abdullah Bin Muhammad as-Shiddiq al-Ghumari al-Idrisi al-Hasani Asy-Syadzili Al-Maliki Al-Asy’ari rahimahullah (1910 – 1993 M Tangier, Maroko), dalam kitabnya Itqan ash-Shan’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah halaman: 45, mengatakan:
وَالسُّبْحَةُ تَضْبِطُ الأَعْدَادَ الْمَأْثُوْرَةَ، وَلِلْوَسَائِلِ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ فَالسُّبْحَةُ مَشْرُوْعَةٌ.
“Tasbih bisa menghitung jumlah2 dzikir yg dianjurkan dalam sunnah. Dan karena alat2 untuk ibadah memiliki hukum yg sama dgn tujuannya itu sendiri; yaitu ibadah, maka berarti tasbih juga disyari’atkan (Artinya, karena dzikir disyari’atkan maka alat untuk berdzikir-pun disyari’atkan)”.
Imam Ahmad Bi Baba Alawiy as-Syinqithi rahimahullah, salah seorang ulama masyhur dan salah satu tokoh pembesar Thariqah Tijaniyah mengatakan dalam nazham Munyatil Murid :
واتخذ السبحة للاعانة ** وعمل الامام ذي الديانة
“Gunakan tasbeh agar dapat membantu akurasi bilangan yg dihitung, dan menjadi rutinitas ulama besar yg menjadi tokoh agama” (Dawuh Abu Qasim Al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid al-Qawariri al-Khazzaz al-Nahawandi al-Baghdadi al-Syafi’i atau Imam Junaid al-Baghdadi rahimahullah, 830 – 910 M, Bagdad, Irak).
Habib Zein menukil Jalaluddin Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari atau Imam As-Suyuthi rahimahullah (3 Oktober 1445 M – 18 Oktober 1505 M Kairo, Mesir), dalam kitab kumpulan fatwanya berkata: “Tak seorangpun ulama salaf ataupun ulama khalaf meriwayatkan hadits tentang larangan berdzikir dgn menggunakan tasbih. Sebagian besar mereka justru menghitung bacaan dzikir dgn tasbih, dan mereka tidak menganggapnya makruh.”
Dalil Hadits
Hadits Shafiyah Binti Huyay Radhiyallahu Anha (wafat 670 M, Madinah), isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
عَنْ كِنَانَةَ مَوْلَى صَفِيَّةَ قَال سَمِعْتُ صَفِيَّةَ تَقُولُ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا فَقَالَ لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذِهِ أَلَا أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ فَقُلْتُ بَلَى عَلِّمْنِي فَقَالَ قُولِي سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ .
“Dari Kinanah budak Shafiyah berkata, saya mendengar Shafiyah berkata: Rasulullah pernah menemuiku dan di tanganku ada 4000 nawat (bijian korma) yg aku pakai untuk menghitung dzikirku. Aku berkata,”Aku telah bertasbih dgn ini.” Rasulullah bersabda,”Maukah aku ajari engkau (dgn) yg lebih baik dari pada yg engkau pakai bertasbih?” Saya menjawab,”Ajarilah aku,” maka Rasulullah bersabda, ”Ucapkanlah :
سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ.
Maha Suci Allah sejumlah apa yg diciptakan oleh Allah dari sesuatu.” (Riwayat Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi Asy-Syafi’i atau Imam Tirmidzi rahimahullah, 824 – 892 M, Uzbekistan).
Hadits yg diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu (595 M, Mekkah – 674 M, Jannatul Baqi Madinah)
أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ قَالَ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ .
“Dia (Sa’ad bin Abi Waqqash) bersama Rasulullah menemui seorang wanita dan di tangan wanita tsb ada bijian atau kerikil yg digunakan untuk menghitung tasbih (dzikir). Rasulullah bersabda, ”Maukah kuberitahu engkau dgn yg lebih mudah dan lebih afdhal bagimu dari pada ini? (Ucapkanlah): Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya di langit, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya di bumi, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya diantara keduanya, Maha Suci Allah sejumlah ciptaanNya sejumlah yg Dia menciptanya, dan ucapan: اللَّهُ أَكْبَرُ seperti itu, َالْحَمْدُ لِلَّهِ seperti itu, dan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ seperti itu.” (Riwayat Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani atau Imam Abu Daud rahimahullah, 817 – 889 M, Basra Irak)
Al-Qadhi Al-Imam Muhammad Asy-Syaukani Ash-Shan’ani Al-Yamani atau Imam Asy-Syaukani rahimahullah (1759–1834 M Yaman), dalam Kitab Nailul Authar syarh Muntaqal Akhbar menjelaskan: Dua hadis di atas menunjukkan kebolehan menggunakan biji2an, kerikil atau tasbih untuk menghitung bacaan tasbih atau dzikir, berdasarkan taqrir Nabi shalallahu alaihi wasallam terhadap dua wanita tsb dan ketidakingkaran beliau terhadap mereka.
Diriwayatkan dari ahli fiqih dan hadits di kalangan ulama tabiin perempuan, Aisyah ash-Shughra binti Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu Anha (wafat 735 M Madinah usia 84 tahun), dari ayahnya bahwa dia bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah masuk ke rumah seorang perempuan. Perempuan itu memegang biji2an atau krikil yg digunakan untuk menghitung bacaan tasbih. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُعَلَيْكِ مِنْ هَذَا أوْ أفْضَلُ فَقَالَ قُوْلِيْ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَاخُلَقَ فِي السَّمَاءِ، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَاخُلِقَ فِي الأرْضِ، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَابَيْنَ ذَلِكَ، سُبْحَانَ الله عَدَدَ مَاهُوَ خَالِقٌ، وَاللهُ أكْبَرُمِثْلَ ذَلِكَ‘وَالْحَمْد ُلِلّهِ مِثْلُ ذَلِكَ، وَلَاإلهَ إلَّااللهُ مِثْلَ ذَلِكَ‘وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إلاَّباِللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ مَثْلُ ذَلِكَ
Aku akan memberitahu dirimu hal2 yg lebih mudah kamu kerjakan atau lebih utama dari menggunakan kerikil ini. Bacalah “Maha Suci Allah” sebanyak bilangan makhluk langit, “Maha Suci Allah” sebanyak hitungan makhluk bumi, “Maha Suci Allah” sebilangan makhluk antara langit dan bumi, “Maha Suci Allah” sbg Sang Khaliq. “Segala Puji Bagi Allah” seperti itu pula (bilangannya), “Tiada Tuhan Selain Allah” seperti itu pula, ”Allah Maha Besar” seperti itu pula, dan ”Tidak Ada Upaya dan Kekuatan Seian dari Allah” seperti itu pula.” (HR Imam Tirmidzi rahimahullah)
Mengomentari hadits ini, cendekiawan Islam India Abil Hasanat Abdul Hayyi bin Muhammad Abdul Halim al-Luknawi Al-Hanafi rahimahullah (26 Dzul Qa’dah 1264 – 30 Rabi al-Awwal 1304 H / 24 Oktober 1848 – 27 Desember 1886 M), dalam kitab Nuzhah al-Fikri fi Sabhah ad-Dzikr mengatakan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak mengingkari apa yg dilakukan wanita itu. Hanya saja beliau bermaksud untuk memudahkan dan meringankan wanita itu serta memberi tuntutan bacaan yg umum dalam tasbih yg memiliki keutamaan yg besar.
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata:
كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ بِالْحَصَى
“Rasulullah sering kali bertasbih dgn menggunakan kerikil.” (Riwayat Imam Abul Qasim al-Jurjaniy)
Hadits Abu Hurairah (Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi)
Radhiyallahu Anhu (603 – 678 M, Madinah), diriwayatkan oleh Imam Naim Bin al-Muharrarr rahimahullah :
«أَنَّهُ كَانَ لَهُ خَيْطٌ فِيهِ أَلْفَا عُقْدَةٍ، فَلَا يَنَامُ حَتَّى يُسَبِّحَ بِهِ»
Artinya: Abu Hurairah memiliki benang (tasbeh) yg terdiri dari 1000 ikatan, beliau tidak pernah tidur sebelum menggunakannya untuk bertasbih.” (Riwayat Imam Abu Nuaim Al-Isfahani dalam kitab Hilyatul Auliya wa thabaqatul asfiya).
Dari iqrar Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam, berdasarkan hadits di atas dan adanya perbuatan yg dilakukan oleh para shahabat beliau, dapat dijadikan argumen bahwa bertasbih dgn kerikil atau biji2an ada keutamaan atau faedah pahalanya. Karena seandainya tidak ada keutamaannya, berarti Rasulullah menyetujui ibadah yg sia2, yg tidak berpahala, dan jelas hal ini tidak mungkin terjadi. Rasulullah tidak akan mendiamkan sesuatu yg tidak ada gunanya.
Nuruddin Abul Hasan Ali bin Sultan Muhammad al-Hirawi al-Qari Al-Hanafi Al-Maturidi atau Syekh Mulla ‘Ali al-Qari rahimahullah (1014 – 1605 M di Jannat al-Mu’alla Makkah), ketika menjelaskan hadits Sa’d ibn Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu di atas, dalam kitab Mirqat al-Mafatih Syarh al-Misykat al-Mashabih jilid 3 halaman: 54, menuliskan sbg berikut:
وَهذَا أَصْلٌ صَحِيْحٌ لِتَجْوِيْزِ السُّبْحَةِ بِتَقْرِيْرِهِ صَلّى اللهُ عَليْهِ وَسَلّمَ فَإِنَّهُ فِيْ مَعْنَاهَا، إِذْ لاَ فَرْقَ بَيْنَ الْمَنْظُوْمَةِ وَالْمَنْثُوْرَةِ فِيْمَا يُعَدُّ بِهِ.
“Ini adalah dasar yg shahih untuk membolehkan penggunaan tasbih, karena tasbih ini semakna dgn biji2an dan kerikil tersebut. Karena tidak ada bedanya antara yang tersusun rapi (diuntai dgn tali) atau yg terpencar (tidak teruntai) bahwa setiap itu semua adalah alat untuk menghitung dzikir”.
Sementara menurut Al-Qadhi Abu Al-Fadhl ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh bin ‘Imrun bin Musa bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshubi al-Maliki atau Al-Qadhi Iyadh rahimahullah dalam kitab Al-Ghunyah Fishrisit Syuyukh al-Qadhi Iyadh berkata :
Aku mendengar Abu Ishaq Ibrahim bin Sa’id al-Habbal rahimahullah (391 – 482 H / 1001 – 1089 M Mesir) berkata, “Aku mendengar Abu al-Hasan bin al-Murtafiq al-Shufi berkata, ‘Aku mendengar Abu Amr bin Alwan sementara di tangannya memegangtasbih, lalu aku berkata kepadanya, ‘Guru, dgn keagungan isyaratmu dan tingginya tutur katamu, engkau masih juga menggunakan tasbih?.’ Lantas beliau berkata kepadaku, ‘Demikianlah aku melihat guruku, al-Junaid bin Muhammad dan di tangannya ada tasbih. Lalu aku bertanya kepada beliau seperti yg engkau tanyakan kepadaku. Beliau berkata kepadaku, ‘Begitulah aku melihat guruku, Bisyr bin al-Harits dan di tangannya ada tasbih. Lalu Lalu aku bertanya kepada beliau seperti yg engkau tanyakan kepadaku. Beliau berkata kepadaku, ‘Begitulah aku melihat Amir bin Syu’aib dan di tangannya ada tasbih. Lalu aku bertanya kepada beliau seperti yg engkau tanyakan kepadaku. Beliau berkata kepadaku, ‘Begitulah aku melihat al-Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri dan di tangannya ada tasbih. Lalu aku bertanya kepada beliau seperti yg engkau tanyakan kepadaku, maka beliau berkata kepadaku, ‘Anakku, ini (tasbih) kami gunakan pada saat kami memulai (mujahadah) dan kami tidak akan meninggalkannya meskipun kami sudah sampai pada puncak (mujahadah). Aku ingin berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala dgn hati, tangan dan lisanku.’”
Fatwa Mesir
Fatwa Darul Ifta Mesir No. 2724 tahun 2004 yg berisi Hukum Memakai Tasbih ketika Berzikir, Nomor Urut : 296, Tanggal 9 November 2004 M. Oleh Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad Dr. Ali Gomaa أ.د علي جمعة
https://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=296&LangID=5
Berdzikir dgn menggunakan tasbih ataupun alat lainnya untuk menghitung jumlah dzikir adalah perbuatan yg disyariatkan dan diakui oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam. Perbuatan ini juga dilakukan oleh kalangan ulama salaf tanpa ada seorang pun yg mengingkarinya.
Sejumlah ulama juga ada yg menyusun kitab yg berisi anjuran melakukan dzikir dgn memakai tasbih, di antaranya adalah al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah dalam kitabnya al-Minhah fis Sibhah, Muhammad bin Ali bin Muhammad bin ‘Allan bin Ibrahim bin Muhammad bin ‘Allan al-Bakri ash-Shiddiqi asy-Syafi’i Al-Asy’ari al-Makki atau Syaikh Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi rahimahullah (996 – 1057 M Makkah) dalam kitab Iqadul al-Mashabih li Masyru’iyyati Ittikhâdzi al-Masâbîh, dan al-Allamah Abu al-Hasanat al-Laknawi rahimahullah dalam kitabnya Nuzhat al-Fikr fî Sibhat adz-Dzikr.
Al-Hafidh as-Suyuthi rahimahullah berkata setelah menyebutkan hadits dan atsar di atas, “Jika menggunakan tasbih tidak lebih dari sekedar ingin menyamai para tokoh di atas, mengikuti perilaku mereka dan mengharap keberkahan dari mereka, maka alasan ini pun cukup untuk dianggap sbg sesuatu yg sangat penting.
Lalu bagaimana jika tasbih itu mengingatkan kita kepada Allah ta’ala, karena kebanyakan orang jika melihat tasbih akan langsung ingat (berdzikir) kepada Allah. Ini merupakan salah satu faedahnya yg paling utama. Karena itulah, sebagian salaf menamakannya sbg tasbih. Tidak pernah dinukil, baik dari kalangan salaf maupun khalaf (ulama belakangan), larangan menghitung dzikir dgn tasbih. Bahkan, sebagian besar mereka justru menggunakannya untuk menghitung dzikir dan tidak menganggapnya sebagai hal yg makruh.
Wallahu subhanahu wa ta’al a’lam.
Shared by Ahmad Zaini Alawi Khodim Jama’ah Sarinyala Kabupaten Gresik
CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

No responses yet