Sepasang suami istri ini mungkin di mata umum tidak tampak sebagai penghafal Al Qur’an, juga tidak terlihat sebagai ahli riyadloh. Puluhan tahun istri saya kenal dengannya juga tidak tahu kalau satu di antara mereka adalah ahli riyadloh.

Tampilan keduanya ndesoni (ala orang desa). Rumahnya model kuno dengan atap genteng yang tinggi tanpa plafon. Lokasi rumahnya nylempit, mobil tidak bisa masuk halamannya karena akses jalannya setapak hanya untuk sepeda motor. Kalau mobil mau parkir, lokasinya di tanah sebelahnya. Tidak ketinggalan, sekitar rumahnya penuh  pepohonan subur karena dekat sungai. 

Rumah lawas ini dulu jujugan Abah Sholeh (Kiai Sholeh Abdul Hamid) dan Kiai Malik Hamid untuk istirahat. Jaraknya dengan pondok Bahrul Ulum memang dekat, cukup berjalan ke arah barat menyeberang jalan raya dan sungai, sampailah ke tujuan.

Beliau adalah Gus Badi’ bin Kiai Abd Wahid bin Kiai Abd Rauf. Ibunya yang bernama Budhe Siti Arfiyah (almarhumah) masih misanan dengan Abah Sholeh Hamid dari jalur Poleng-Cepoko Nganjuk. 

Budhe Siti Arfiyah jalur  ayahnya sambung ke Kiai Sewulan (Kiai Bagus Harun Basyariyah). Sedang jalur ibunya sambung ke Kiai Ali Imron, pendiri pondok Mojosari Nganjuk (lihat silsilah).

Budhe Siti Arfiyah saat masih hidup menjadi jujugan ibu mertua saat meminta istikharah baik terkait perjodohan kami dan juga saat membangun gubuk kami. 

Suami Budhe Siti yang bernama Kai Wahid atau Mbah Mad dahulu juga menjadi jujugan orang yang ada keperluan khusus. 

Mbah Mad memang mempunyai keahlian khusus. Saat ramainya perang di Timor-Timur era Orba, Mbah Mad banyak dimintai rompi ijazahan. Menariknya, rompi ini ditulis dan ditirakati Budhe Siti (lihat foto saya bertempelkan rompi hasil tulisan tangan Budhe Siti).

Kembali ke Gus Badi’, selesai menamatkan sekolah di Muallimin Tambakberas, beliau menghafalkan Al-Qur’an ke Kiai Masduqi Perak. Saat ini Gus Badi’ mencukupkan diri mengajar di MI Bahrul Ulum Tambakberas sebagai guru swasta. Juga  jualan madu yang kolakan dari almarhum  Kiai Ghufron Sanggrahan, Prambon, Nganjuk. Kemarin pas saya ke rumahnya untuk beli madu,  beliau baru kolakan dari Nganjuk memakai sepada motor.

Sisa waktunya  dibuat nglalar  hafalan Alqurannya yang biasanya sehari target 5 juz. Jam menghafalnya tidak tentu, bisa pagi, atau sore atau malam. Beda lagi dengan istrinya (Ning Dhi’) yang istiqomah nglalar tiap jam 12 malam sampai subuh. Targetnya sama, seminggu khatam, model fami bisyauqin (فمي بشوق). Saat kami temui kemarin pagi, Ning Dhi’ baru turun dari sholat Dhuha. Ning Dhi’ tipe wanita yang betah di rumah sejak dahulu.

Ning Dhi’ (lengkapnya Mudli’ah binti KH Dimyathi, Mayangan, Jogorogo) yang alumni Cukir dan tabarrukan ke Nyai Mangunsari Tulungagung ini tidak hanya istiqomah waktu nglalar, tapi semenjak menikah dengan Gus Badi’, yakni sejak 23 tahun lalu istiqomah puasa hingga saat ini.  Karena kalau puasa bisa semangat dan gampang nglalar, berbeda dengan Gus Badi’ yang kalau puasa malah lemas, maka tidak berpuasa.

Seperti biasa, kalau saya yang orang alit ini sedang jagongan dengan sesama orang alit akan saya pancing bagaimana kehidupannya semasa korona. Seperti biasa juga,  jawabnya beragam, ada yang mengeluh, ada yang menyadari sekarang usaha berkurang tanpa sambat. Penjual tahu dan penjual cilok di pondok  saat saya tanya menjawab penjualannya turun. Beda lagi dengan penjual sayur langganan isitri yang stabil.

Kemarin Gus Badi’ juga saya tanya, dengan santai dan datar memberitahu bahwa para guru  koleganya punya usaha sampingan, entah jualan kerupuk, kue, madu atau yang lain.

Begitulah orang-orang yang Istiqomah dan apa adanya serta tidak neko-neko ini menjalani kehidupan. Mereka  adalah salah satu pilar spiritual para santri dan bangsa.

Foto-foto saya dengan Gus Badi’, rumah dan pondok kecil yang ndeso ala Nganjukan. Tulisan ini semoga bermanfaat bisa diambil pelajaran.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *