Pada 18 Desember 2020, Jumat Pon saya sowan ke makam Sunan Giri dan cucunya (Sunan Prapen). Beliau adalah wali dan spiritualis para negarawan era dulu. Teringat W.L. Olthof dalam “Babad Tanah Jawi” yang mengisahkan sejarah penting tentang peran mereka terhadap negara Pajang dan Mataram. Berikut kisahnya.

Pada suatu ketika Sultan Pajang datang ke Giri beserta  seluruh aparatnya,  Ki Ageng Mataram juga ikut. Waktu itu para bupati di Bang Wetan lengkap semua hadir di situ. Dari Japan, Wirasaba, Kediri, Sura-Baya, Pasuruhan, Madura, Sedayu, Lasem, Tuban. Pati. Sesampai di Giri, mereka membuat pesanggrahan di situ. 

Suatu hari Sunan Parepen (Prapen?) keluar siniwaka. Sultan Pajang serta para bupati duduk berjajar. Pengikutnya duduk dibelakang gustinya masing-masing.

Sultan lalu diperintahkan duduk dekat dengan sang Ulama (Sunan Giri) serta diwisuda menjadi Sultan di Pajang bergelar Sultan Prabu Adiwijaya. Waktu itu diberi sengkalan tahun 1503. 

Lalu hidangan keluar mengalir dari kedaton, Sunan Parepen dan Sultan Pajang serta para bupati bersantap bersama. Sang ulama (Sunan Giri) berkata, ”Anak-anakku para bupati semua, rukun-rukunlah dalam persaudaraan. Jangan ada yang berbeda di dalam budi, bersatulah dalam hati. Bersyukurlah pada Allah dalam kedudukan kalian masing-masing. Yang dititahkan menjadi besar dan kecil, semua itu adalah semata dalam kepastian-Nya. Saya mohon kepada Allah semoga selalu selamat di dunia dan di akhirat.”

Para bupati mengamini semua harapan Sunan Giri. Selesai para bupati dan Sultan bersantap, gantian para abdi yang makan. Sunan Giri sangat begitu tertarik pandangannya kepada Ki Ageng Mataram, sebab Sunan Giri adalah orang yang tajam batinnya. Beliau tahu segala sesuatu yang akan terjadi. Lalu memanggil kepada Sultan Pajang, “Sultan, abdimu yang makan belakangan itu siapakah namanya?” 

Jawab Sultan, ”Itu abdi, penguasa Mataram, kekuasaannya meliputi tanah seluas delapan ratus karya.” Kata Sunan Giri, ”Panggillah maju ke sini, perintahkan duduk sejajar dengan para adipati.” 

Ki Ageng Mataram segera maju. Sunan berkata kepada para bupati, ”Anak-anakku para adipati semua, ketahuilah keturunan Ki Ageng Mataram ini kelak akan menguasai seluruh tanah Jawa. Giri ini pun kelak juga akan tunduk ke Mataram.” 

Mendengar amanat Sunan itu, Ki Ageng Mataram lalu bersujud ke tanah, begitu kagum dan berterima kasih kepada sang Sunan. Lalu mempersembahkan sebuah keris kepada Kanjeng Sunan, tetapi tidak diterima olehnya. Para bupati sangat terkesan melihat Ki Ageng Mataram itu. Sunan Giri lalu memberi perintah para adipati untuk membuat telaga. Para abdi dan para balanya segera bekerja menggali tanah. Akhirnya telaga sudah jadi. Begitu indah dan diberi nama Telaga Patut oleh sang ulama Sunan Giri (Penjelasan Nara sumber ke saya, Ainur Rofiq Al Amin,  telaga itu dikenal sebagai telaga pegat yang lokasinya ada di desa Telaga Patut).

Sultan Pajang serta para bupati sudah diperkenankan kembali ke negerinya masing-masing. Ki Ageng Mataram juga sudah kembali ke Mataram. Sesampainya Sultan di Pajang menyampaikan apa yang menjadi ucapan Sunan Giri tentang masa depan Mataram. Para menteri, bupati, santana keraton setelah mendengar itu sangat terkejut. Putra sultan yang bernama Pangeran Benawa, berunjuk atur, ”Rama Prabu, kalau ramalan Sunan Giri tadi benar, Mataram saya ibaratkan latu sapelik (setitik api). Sebaiknya, segera disiram air agar jangan sampai membara berkobar-kobar. Jika Kanjeng Sultan mengizinkan, Mataram akan saya rusak dengan perang.” 

Para bupati ramai mendukung usul Pangeran Benawa itu. Sultan Pajang berkata perlahan, ”Benar unjuk aturmu itu. Mataram itu tidak seberapa, jika engkau serang dengan perang, pasti hancur. Tetapi ingatlah takdir Allah itu tidak bisa diduga oleh umat manusia, saya takut pada pantangan dari Sunan Giri. Siapa mendahului, pasti bilahi.” Pangeran Benawa serta para punggawa semua menahan dirinya. 

***

Tersebutlah cerita, pada suatu ketika Ki Ageng Mataram sedang duduk dihadap oleh putra dan kerabatnya. ”Anakku dan sanak saudaraku semua, berhubung aku diramal oleh Sunan Giri, bahwa anak turunku kelak akan berkuasa di tanah Jawa, pesan saya, kelak jika kalian merebut wilayah Bang Wetan, pilihlah hari seperti waktu aku diizinkan ikut Sultan menghadap Sunan Giri, yaitu hari Jumuah Paing, bulan Muharam. Ingatlah ini selalu. Apabila kedatangan musuh, jika kalian menghadang musuh itu jangan sampai melewati Gunung Kendeng, sebab akan kalah perangmu. Selanjutnya kelak, jika mengangkat bupati pilihlah dari keturunan kerabat Mataram sebab mereka telah ikut prihatin ikut andil membangun Mataram. Jangan sekali-kali memilih orang di luar keturunan Mataram.” 

***

Foto di Makam Sunan Giri dan Sunan Prapen.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *