Suatu siang saya ke pasar mencari buah garbis. Setelah dapat garbis, saya melihat penjual yang bernama Pak Hamid kok sepi pembeli. Pak Hamid ini mangkalnya selalu di trotoar depan pondok Al Mimbar, Sambong, Jombang (sekedar informasi, pondok Sambong ada relasi kekeluargaan dengan pondok Tambakberas. Istri Mbah Kiai Hamid Chasbullah yang kedua adalah dari pondok Sambong, yang nantinya menurunkan istrinya Gus Imron Hamid).
Saya dekati sambil saya goda “Mokel atau belum?”Jawabnya, “Saya sejak kecil tidak boleh mokel oleh kiai saya.” Pak Hamid melanjutkan bahwa dia tahu sejarah Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Hamid Chasbullah.
Saya tidak terlalu serius menanggapi. Eh dia menguji saya dengan bertanya dimana tempat kelahiran Kiai Hasyim. Tentu saya jawab di dusun Gedang (jarak dengan rumah saya 200 meter). Dia masih melanjutkan, tepatnya di mana? Saya jawab di sekitar masjid Mbah Usman. Tentu ucapan Pak Hamid bahwa dia tahu sejarah para kiai besar tersebut hanya kisah elementer saja.
Saya bangga dengannya yang tiap hari mangkal jualan umbi-umbian sampai siang dalam kondisi panas dan berpuasa. Jualannya hanya itu dan itu, bukan sesuatu yang banyak diminati pembeli. Namun baginya tidak peduli.
Saya tahu tidak banyak pembeli karena saya sering ke pasar dan setiap lewat di depannya sering sepi pembeli. Bagi saya, tetap semangat berjualan yang halal di saat sulit adalah nilai lebih.
Di samping setiap hari jualan, di sebelah lapaknya ditempeli tulisan bahwa Pak Hamid ini juga bisa memijat. Saya belum pernah mencoba pijatannya, suatu saat saya akan meminta dia untuk memijat saya.
Lalu sebelum pamit saya membeli gembili (tanaman umbi-umbian sejenis tanaman uwi). Tanaman ini mulai jarang dibudidayakan, padahal enak sekali.
***
Berbeda dengan Pak Hamid orang desa yang lugu dan jualannya yang halal tidak cepat laku. Ada seorang business manager PT Kimia Farma yang menjual alat rapid test bekas dan bisa untung Rp 1,8 Miliar. Dikabarkan malah sedang membangun rumah mewah.
Bisnis di saat banyak orang ketakutan karena ditakuti tentu sangat menguntungkan secara materi. Tapi keberkahan pasti tiada. Bisnis ini memang sedang laku dan banyak bandit-bandit tanpa nurani ikut memanfaatkan. Namun mereka tidak sadar bahwa pelaku kezaliman akan dicicil “siksanya” saat si dunia oleh yang Maha Kuasa, percaya atau tidak.

No responses yet