Categories:

(Syarah Syahadatain dan Shalawat Setelah Shalat)

Oleh Kharirotus Su’adah (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)

            Diawali dengan basmalah, pada lembar pertama Kitab Sittin dan Doa ini memberi informasi bahwa naskah ini berasal dari Haji Zainudin, sebuah kitab pemberian dari mendiang Haji Abdur Rahim yang tertuliskan dengan pensil. Naskah yang ditulis di atas kertas daluwang milik M. Fahim dari K. Shidiq dari Syamsudin ini ditemukan di Sergang, Batu Putih, Sumenep. Kondisi manuskrip ini masih sangat baik, terlihat dari warna kertas yang belum pudar, penulisan dengan tinta hitam yang masih jelas. Manuskrip ini tersedia di Bla Semarang dengan nomor manuskrip BLAS/SUM/16/FI/44.

Sebelum membaca keseluruhan naskah, naskah ini menyebutkan asma Allah pada permulaannya dengan penulisan basmalah. Pada pembukaan kitab ini, penulis naskah menyampaikan pujian kepada Sang Maha Kuasa serta Nabi Agung, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Secara langsung dalam satu baris pujaan tersebut menyampaikan tujuan dari penulisan Kitab Sittin dan Doa ini. Tujuan tersebut adalah bahwa setiap mukallaf wajib untuk mempelajari dua kalimat syahadat dan memahami maknanya, sehingga tidak cukup hanya sekadar mengetahui dengan taqlid saja. Kedua syahadat harus dipahami dan dipercayai dengan i’tikad yang kuat serta diikuti doa berupa shalawat sebagai wasilah supaya dekat kepada Sang Maha Kuasa.

Pada manuskrip ini menyebutkan dua bab yang akan dibahas. Pertama, sittin merupakan bentuk enam puluh makna dari dua syahadat. Kedua, doa-doa. Pada akhir penjelasan ditutup dengan doa penutup. Pada lembar akhir naskah, terdapat informasi yang ditulis miring di bagian kanan atas halaman bahwa penulisan buku ini hasil ngalap barokah dari Mufti As-Syafi’i dari Makkah yang berasal dari Syaikh Ahmad Al-Badawi, seorang wali Qutub dan pendiri tarekat Badawiyyah yang bermadzhab sunni di Maroko.

Manuskrip ini pun unik dari segi penulisannya. Pada bagian awal pembaca disuguhi bacaan basmalah yang dilukiskan seperti kapal berlayar. Bentuk ini menggambarkan keadaan alam daerah Sumenep yang sebagian besar berupa lautan dan mayoritas masyarakatnya yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Kemudian bagian isi naskah ditulis dengan tulisan Jawa Pegon kemudian ditulis seperti memaknai gandul yaitu menuliskan tanda khusus untuk memberi tanda mubtada’ atau khabar, lalu menuliskan alif – ya’ sebagai tanda “tegese” yang berarti ‘yaitu’, sedangkan tanda koma ditandai dengan tiga titik. Adapun akhir kalimat ini ditandai dengan 7 titik, satu titik berada di tengah dan ke enamnya melingkari satu titik tersebut sehingga membentuk bunga yang mekar. Ciri-ciri khas inilah dapat kita ketahui nilai kesenian dari penulis naskah atas ketelatenannya dalam penulisan naskah.

Penulisan pada manuskrip ini dibedakan dua macam. Pada saat menyebutkan bab sittin menggunakan tulisan pegon tanpa harakat dengan ukuran tulisan yang lebih kecil dari pada ukuran tulisan doa. Adapun tulisan doa dituliskan memakai harakat dengan model khat tersendiri dari penulis. Ketika menuliskan teks tersebut menggunakan khat jenis tsulusi, namun ketika penulisan huruf ‘sin’ ‘س’ menyerupai bentuk khat diwani. Begitu pula penulisan doa yang berharakat ini mengikuti mushaf usmani yang ditandai dengan penggunaan alif kecil di atas atau di bawah huruf ketika bacaan mad thabi’i. Pembedaan ini menunjukkan bahwa kebenaran dalam penulisan doa lebih utama daripada tulisan biasa. Bahwa masyarakat saat itu pula sudah mengenal tipe-tipe khat dan seni yang bisa dikombinasikan.

            Kitab Sittin ini mensyarahi syahadat tauhid dan syahadat rasul dengan bahasa Jawa. Seperti yang tertulis pada halaman kedua setelah pembukaan berikut ini:

setuhune kelakuan ora ono Pengeran kang sinembah kelawan benere kang tetep ingdalem wujude anging dzat kang aran Allah lan tegese Allah iku dzat kang wajib wujude. Kang maha suci saking adam. Tur kang dingin Allah ora kedingin kelawan Adam. Kang Maha Suci Allah saking anyar. Tur kang langgeng Allah ora ketekan Adam. Kang Maha Suci Allah saking rusak sirna. Tur kang ono liyane Allah iku sekabihe kang anyar. Kang Maha Suci Allah saking pepada. Maka tegese Allah iku dudu jirim dudu ‘aradh. Dudu jisim dudu jauhar. Orano kiwo tengene. Orano ngarep burine. Orano nisur dukure. Orano kiwo tengene uwong. Orano ngarep burine wong. Orano nisor dukure uwong. Ora manjing ingdalem uwong. Ora bebekas kaya uwong. Ora kaya ono-ono dzate Allah. Orano weruh ing sejatine dzate Allah anging Allah ta’ala dewe.” 

“Sesungguhnnya tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya yang kekal wujudnya kecuali hanya Dzat Allah. Allah itu Dzat yang wajib adanya. Yang Maha Suci dari Adam (Manusia). Pun Allah Dzat Yang Dahulu tidak terdahului oleh  Adam (Manusia). Allah Yang Maha Suci dari sesuatu yang baru. Pun Allah Dzat Yang Maha Kekal tidak seperti Adam. Allah Yang Maha Suci dari kerusakan dan ketiadaan. Bahwa sesuatu yang selain Allah adalah baru. Allah Yang Maha Suci dari persamaan dengan makhluk.  Maka dari itu Allah bukanlah bagian-bagian bukan makhluk halus. Bukan sebuah tubuh bukan sesuatu yang nampak. Tidak ada kiri kanannya. Tidak ada depan belakangnya. Tidak ada bawah atasnya. Tidak ada manusia di kiri dan kanan-Nya. Tidak ada manusia di depan dan di belakang-Nya. Tidak ada manusia di bawah dan di atas-Nya. Tidak masuk dalam kategori manusia. Tidak memiliki bekas seperti manusia. Tidak ada yang menyamai Dzat Allah. Tidak ada yang tahu tentang sesungguhnya Dzat Allah, kecuali hanya Dzat Allah Ta’ala sendiri”

Dari cuplikan syarah syahadat ini menyampaikan sifat-sifat Dzat Allah Yang Maha Suci tanpa ada yang menyamai. Bahwa Dzat Allah tidak sama dengan wujud manusia. Bahwa hanya Allah Yang Maha Mengetahui akan Dzat-Nya, maka tugas seorang hamba wajib untuk mengimani-Nya, dan tidak perlu mencari tahu akan keberadaan Dzat-Nya.

Adapun cuplikan dari syahadat Rasul disampaikan sebanyak 4 halaman setelah pensyarahan syahadat tauhid. Berikut cuplikannya pada halaman pertama dan kedua:

anekseni ingsun angweruhi isun  aniqadaken setuhune kanjeng Nabiyullah Muhammad iku dadi utusane Allah. den utus maring sekabihe makhluk. Lan tegese kanjeng Nabi Muhammad iku wong lanang kang merdeka. Kang putera Kiai Abdullah. Kang putera Kiai Abdul Muthalib kang putera Kiai Hasyim kang putera Kiai Abdi Manaf. Kang Ibu Dewi Aminah. Kang Anusuni Dewi Halimah. Kang Dzahir ana Makkah. Dadi Nabi dadi utusan ana Makkah. Lawas-lawas ngalih maring Madinah. Kelawan pakune Allah. Sakit ana Madinah. Seda ana Madinah. Den kubur ana Madinah. Ing dalem omahe dewe Aisyah. Bangsane Bangsa Arab. Bangsa Hasyim. Bangsa Quraisy. Bangsa Ismail. Lan tegese Kanjeng Nabi Muhammad wong kang shadiq wong kang temen ing dalem pengakune dadi utusane Allah. lan ing dalem sekabihe pituture apa barang kang den kandaake kanjeng Nabi Muhammad iku bener kabeh”. 

“Saya bersaksi dan saya beri’tikad bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ia diutus kepada seluruh makhluk. Nabi Muhammad adalah seorang laki-laki merdeka putra dari Kiai Abdullah putra Kiai Abdul Muthalib putra Kiai Hasyim putra Kiai Abdi Manaf. Ibunya bernama Dewi Aminah. Wanita yang menyusuinya bernama Dewi Halimah. Ia hidup di Makkah menjadi Nabi dan Rasul di Makkah. Setelah lama di Makkah kemudian berhijrah ke Madinah. Atas ketetapan Allah beliau sakit di Madinah, hingga wafat di Madinah. Dikubur di Madinah tepatnya di rumah Aisyah. Ia seseorang berbangsa Arab, Bangsa Hasyim, Bangsa Quraisy, Bangsa Ismail. Kanjeng Nabi Muhammad adalah orang yang shadiq yaitu orang yang benar-benar jujur dalam pengakuannya sebagai utusan Allah. Semua tutur kata yang disampaikan Nabi Muhammad itu benar seluruhnya.”

Cuplikan syarah syahadat rasul ini menjelaskan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah untuk menyampaikan risalah keislaman kepada umat manusia seluruh alam. Setelah itu dilanjutkan dengan menyebutkan identitas Nabi mulai dari nasab, hingga menyebutkan sifat fisik Nabi Muhammad pada akhir syarah, yaitu “Yang indah wajahnya, yang putih kemerah-merahan warna kulitnya, tidak memiliki kecacatan dalam diri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam.” Dari penyebutan fisik Nabi Muhammad SAW ini kita dapat memahami bahwa semulia-mulianya ciptaan, tidak akan menyamai sang Khaliq. Melalui penyebutan sifat-sifat Nabi dan penggambaran fisik Nabi inilah yang menjadi pembeda antara Sang Khaliq dan makhluk.

Bait akhir dari syarah syahadat rasul ditutup dengan tasbih, salam kepada Rasul, dan pujian kepada Allah. Setelah itu, dilanjutkan penyebutan macam-macam doa setelah salat:

Doa pertama, dibaca setelah salat khusus setiap malam Jum’at: 

أَللَّهُمَ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد النَّبِيِّ الاُمِّيِّ الحَبِيْبِ العٰالي القدْرِ العَظِيْمِ اٰلجَاهِ وَعَلٰى اٰلِه وَصَحْبِه وَسَلِّم

Doa kedua, dibaca setelah salat sebanyak 3 kali selain hari Jum’at. Khusus pada hari Jum’at dibaca 100 kali:

صَلوٰتُ اللّهِ وَمَلٰائكَتِه وَ اَنْبِيٰائِه وَرُسُلِه وَجَمِيْعِ خَلْقِه علَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكٰتُهُ

Doa ke tiga, setelah shalat pada hari jum’at dibaca 80 kali:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النّبِيِّ الاُمِّيِّ

Doa ke empat, setelah shalat asar pada hari jum’at sebelum berpindah tempat duduk, dibaca 80 kali:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّد النَّبِيِّ الاُمِّيِّ وَعَلٰى اٰلِه وَسَلِّمُ تَسْلِيْمًا

Doa setelah shalat boleh dibaca setiap hari, terutama pada hari jum’at, karena malam jum’at merupakan waktu yang banyak dianugerahkan pahala.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمّد صَلاٰةً تُكْرِمُ بِهَا مَثْوٰهُ

Doa sholat yang boleh dibaca setiap hari

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدٍ وَ اٰلِه وَ اَصْحَابِه وَ اَزْوٰجِه وَاَوْلاَدِه وَذُرِّيَّتِه وَ اَهْلِ َيْتِه وَ اَصْهَارِه وَ اَنْصَارِه وَ اَشْيَائِه وَمُحِبِّه وَ اُمَّتِه وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ اَجْمَعِيْنَ يَا اَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ

            Doa yang disebutkan dalam kitab ini tertulis dalam empat halaman dengan fokus pada doa yang hendaknya dibaca setiap setelah melaksanakan salat setiap hari, dan ada pengkhususan pada hari jum’at. Doa ini berisi shalawat. Namun dengan wajah yang berbeda-beda, dan spesialisasi yang berbeda-beda. Ibarat singkong yang bisa dimasak menjadi kolak, getuk, kemplang, gobet dan lain-lain namun tetap saja berasal dari satu kesatuan, singkong. Aneka masakan singkong ini pun disesuaikan kebutuhan gula dan garamnya, waktu penyajiannya baik pada pagi hari atau malam hari. Begitu pula wirid ini, berasal dari shalawat yang dibaca setiap setelah shalat, dengan jumlah bacaan yang berbeda, pun pada waktu yang berbeda karena memang ada waktu-waktu khusus yang lebih diunggulkan atas dikabulkannya doa seseorang. Sebagai hamba yang lemah, harus memiliki i’tikad dan keyakinan kuat kepada Allah, serta menghubungkan doa kepada kekasih Allah, Rasulullah Muhammad Shallalahu Alaihi Wa sallam.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *