Oleh : Nadya Dwicahyani (Universitas Muhammadiyah Prof.Dr Hamka)
Pendahuluan
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, yang terdiri atas, suami dan istri berserta
anak anaknya. Kehidupan keluarga sebagai kelompok sosial hidup secara berkelompok, tidak
menyendiri, akan tetapi berada dalam kehidupan sosial dengan budanyanya untuk memenuhi
kebutuhan jasmani dan rohani serta memberikan kesempatan untuk bersosialisasi dengan para
anggota dalam keluarga termasuk anak-anaknya.
Setiap keluarga memiliki problem tersendiri. Begitu banyak problem yang dialami dalam keluarga
baik problem anak, perselingkuhan, dan perceraian, dimulai dengan kurangnya komunikasi yang
baik dalam keluarga. Proses komunikasi dapat berjalan dengan baik kalau dalam keluarga saling
memahami dan saling membuka diri untuk bisa menyelesaikan berbagai problem.
Adapun dalam dunia Islam, teknik-teknik berkomunikasi sudah bukan hal yang asing lagi
termasuk tentang tata cara berkomunikasi yang efektif karena hal ini telah dicontohkan oleh
Rasulullah Saw dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Rasulullah Saw dengan kemampuan
retorikanya telah mampu menciptakan suatu kecemerlangan yang luar biasa di tengah kehidupan
masyarakat Arab jahiliah sehingga mampu membangun suatu peradaban yang gemilang.
Terjemahnya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhan mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhan
mu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (Departemen Agama RI, 2012: 174)
Ayat tersebut menggambarkan bahwa manusia telah melakukan komunikasi ketika masih berada
dalam kandungan dan itulah komunikasi pertama yang dilakukan oleh manusia yakni komunikasi
dengan Tuhan-nya dalam bentuk pengakuan atas keberadaan Tuhan sebagai Sang Pencipta
Jika pola komunikasi di atas dikaitkan dengan pola komunikasi keluarga, maka orangtua harus
memberikan pembiasaan yang baik agar tertanam dan terbentuk kepribadiaan dengan baik,
memberikan pendidikan baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, dan melakukan
aktivitas komunikasi yang baik antara orangtua dan anak, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diharapkan. Oleh karena itu, hubungan antara orangtua dan anak harus terjalin dengan baik dengan
menggunakan pola-pola tertentu, ada tiga pola hubungan orangtua dan anak yang akan
menimbulkan efek yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Ketiga pola
hubungan tersebut yaitu :
ketiga pola hubungan tersebut yaitu :
- Keluarga yang demokratis
Dalam keluarga ini, anak akan mudah bergaul, berinteraksi dengan yang lain, aktif dan ramah
dengan orang lain. Anak tidak tertutup dan membuka diri terhadap kebenaran-kebenaran yang
datang dari luar dirinya. Anak juga akan berani berpendapat dan senang berdiskusi atau
mengutamakan musyawarah dan mufakat sebelum memutuskan sesuatu - Keluarga yang apatis
Anak yang dibesarkan dalam keluarga seperti ini, tidak aktif atau bahkan sering menarik diri dari
kehidupan sosial. Perkembangan fisik anak yang dibesarkan dalam keluarga seperti ini cenderung
terhambat. Anak sering frustasi dan dapat menyebabkan mudah membenci dan mencurigai orang
lain. Hal ini terjadi karena tidak mendapatkan interaksi yang baik di dalam keluarga. - Keluarga yang otoriter
Pola hubungan ini, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang otoriter biasanya tidak berani
melawan, tidak agresif, dan selalu tergantung pada orang lain atau orangtuanya. Anak yang didik
dengan pola ini memiliki kreativitas yang minim, daya fantasi yang kurang, sehingga mengurangi
kemampuan anak untuk berpikir abstrak.
Komunikasi dalam Keluarga Perspektif Islam
Komunikasi merupakan proses pertukaran dan pemaknaan pesan dalam dalam pikiran individu,
antarindividu atau kelompok individu melalui interaksi sosial. Interaksi sosial ini dapat terjadi
secara face to face atau tatap muka dan non tatap muka
Komunikasi dalam keluarga terdiri atas 3 bagian : yaitu komunikasi antara suami dan istri, dan
komunikasi antara orangtua dan anak, serta komunikasi antarsaudara
Komunikasi suami dan istri
Komunikasi ini dibutuhkan untuk menjaga keutuhan keluarga. Keutuhan keluarga akan
tercipta jika dimaksimalkan komunikasi ini. Oleh karena itu, keluarga atau suami-istri
harus mengetahui cara yang tepat, efektif dan efisien dalam melakukan komunikasi ini.
Komunikasi antara orang tua dan anak
Keharmonisan keluarga terletak pada hubungan yang baik antara orangtua dengan anak.
Komunikasi antara orangtua dan anak memiliki pengaruh yang penting dalam membentuk
kepribadian anak. Anak memiliki pribadi yang baik dan jauh dari hal-hal negatif karena
komunikasi antara anak dan orangtuanya terjalin dengan baik. Begitu juga sebaliknya.
Komunikasi antara anak dengan orangtua dilakukan dengan cara anak
Komunikasi antar saudara
Komunikasi antarsaudara tidak kalah pentingnya dengan komunikasi yang lain dalam
keluarga. Komunikasi yang baik di antara saudara akan mendukung keutuhan keluarga.
Oleh karena itu, dalam Islam sangat mendorong umat manusia untuk selalu menjalin
keutuhan keluarga melalui tali silaturahim.
Penutup
Dalam Islam, komunikasi efektif dalam keluarga memiliki peran penting dalam membangun
hubungan yang sehat antara anggota keluarga. Berikut adalah beberapa penutup penting dalam
komunikasi efektif dalam keluarga menurut perspektif Islam:
- Sabar dan Pengendalian Diri: Komunikasi yang efektif membutuhkan sabar dan pengendalian
diri. Dalam situasi yang menegangkan atau konflik, penting untuk menjaga ketenangan,
mengendalikan emosi, dan berbicara dengan lembut serta santun. - Saling Mendengarkan: Salah satu aspek penting dalam komunikasi efektif adalah saling
mendengarkan. Ketika berbicara dengan anggota keluarga, berikan perhatian penuh dan dengarkan
dengan seksama. Hindari menginterupsi atau memotong pembicaraan mereka, dan berikan
kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk berbicara. - Berbicara dengan Hikmah: Dalam Al-Quran, Allah SWT menekankan pentingnya berbicara
dengan kata-kata yang baik dan bijaksana. Oleh karena itu, dalam komunikasi keluarga, hindari
penggunaan kata-kata kasar, menghina, atau merendahkan. Sebaliknya, gunakan bahasa yang
lembut, penuh kasih sayang, dan menjaga adab dalam berbicara. - Menghormati Pendapat: Setiap anggota keluarga memiliki pendapat dan sudut pandang yang
berbeda. Penting untuk menghormati pendapat mereka, meskipun tidak selalu setuju. Hindari
mengkritik atau menyalahkan tanpa alasan yang jelas. Bila ada perbedaan pendapat, ajak untuk
berdiskusi dengan tenang dan mencari solusi yang terbaik. - Membangun Kepercayaan: Komunikasi efektif dalam keluarga juga melibatkan membangun
kepercayaan satu sama lain. Jujurlah dalam berkomunikasi, hindari berbohong atau
menyembunyikan informasi penting. Ketika anggota keluarga merasa bahwa mereka dapat
mempercayai satu sama lain, komunikasi akan menjadi lebih terbuka dan lebih baik. - Menggunakan Komunikasi Non-Verbal: Selain komunikasi verbal, komunikasi non-verbal juga
memiliki peran penting dalam keluarga. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kontak mata dapat
mengungkapkan perasaan dan emosi yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Oleh karena
itu, penting untuk memperhatikan komunikasi non-verbal anggota keluarga untuk memahami
pesan yang sebenarnya. - Doa Bersama: Doa merupakan sarana penting dalam komunikasi keluarga dalam perspektif
Islam. Melakukan doa bersama sebagai keluarga dapat memperkuat ikatan spiritual dan
membangun kedekatan dengan Allah SWT. Melalui doa, anggota keluarga dapat saling memohon
kebaikan, keberkahan, dan ketenangan.
Komunikasi efektif dalam keluarga menurut perspektif Islam melibatkan adab, kasih sayang, dan
saling menghormati. Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, diharapkan dapat mempererat
hubungan keluarga, membangun kepercayaan, dan menciptakan lingkungan yang harmonis dalam
keluarga.

No responses yet