Oleh: Ahmad Faqih, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
Generasi Z adalah orang yang lahir sekitar tahun 1995 hingga 2010. Menurut World Health Organization (WHO), remaja adalah orang yang dalam rentang usia 10 sampai 19 tahun. Dapat disimpulkan remaja generasi Z adalah orang yang bisa dikatakan dengan kelahiran dari tahun 2003 sampai 2012. Remaja generasi ini lebih suka berinteraksi dengan komputer dan berkomunikasi dengan sistem online yang tanpa harus bertatap langsung dengan temannya maupun orang lain. Remaja generasi Z adalah anak yang sangat melek teknologi karena lahir di zaman yang serba canggih sehingga bisa berbahaya jika tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, karena teknologi yang canggih tidak melulu memberikan dampak yang positif.
Kesehatan Mental Remaja Generasi Z
Saat ini, generasi Z banyak menghabiskan waktunya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang di seluruh dunia dengan melalui Tiktok, Facebook, Whatsapp, Instagram, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan remaja kurang komunikasi secara verbal, mudah mendapat cyberbullying, dan memiliki sifat egosentris dan individualis. Remaja saat ini juga banyak yang tiba-tiba harus menjelajahi lingkungan baru, lingkaran pertemanan yang lebih luas, pendidikan atau karir yang semakin menuntut. Hal ini juga menyebabkan berbagai masalah dan konflik yang kerap muncul akibat perubahan tersebut, sehingga tidak sedikit yang mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan mengalami gejala depresi dalam menghadapi permasalahan di usia ini dan di zaman yang serba canggih ini.
Para remaja ini belum banyak memahami cara mengelola stres dengan baik. Pemecahan masalah yang paling sering mereka lakukan adalah bercerita dengan teman, menghindari masalah, dan mencari informasi sendiri cara menyelesaikan masalahnya dari internet. Namun, ada juga yang akhirnya menyakiti diri sendiri, putus asa dan bahkan ingin mengakhiri hidup. Remaja generasi ini memerlukan arahan untuk terhindar dari segala penyakit kesehatan mental. Jika tidak, akibatnya remaja generasi Z yang belum memiliki iman dan akhlak yang kuat akan mengalami berbagai permasalahan mental.
Zikir
Agama Islam mengajarkan cara bagaimana remaja muslim generasi Z memperkuat iman agar terhindar dari permasalahan kesehatan mental, seperti dengan cara berzikir kepada Allah Swt. Contoh bacaan zikir adalah tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan juga istigfar. Ketika seseorang sedang sholat pun itu sudah termasuk zikir kepada Allah Swt. maka jangan lupa mengerjakan sholat lima waktu, dan perbanyak sholat sunnah lainnya, terutama Sholat Tahajud karena banyak keistimewaannya. Zikir pun bisa dilakukan ketika di luar sholat. Jadi, ketika tidak lagi sholat pun perbanyak zikir karena, ingat Janji-janji Allah yaitu, barang siapa yang mengingat Allah, maka Allah pun akan mengingatnya.
Zikir merupakan salah satu cara mengolah batin dengan menyebut nama dan sifat Allah secara berulang-ulang dengan tawakal dan berserah diri kepada Allah sehingga mendapatkan ketenangan dan keteduhan jiwa. Pada akhirnya zikir dapat menghindarkan diri dari rasa takut dan cemas dalam menghadapi berbagai permasalahan kesehatan mental karena kehidupan dan tidak lupa berdoa kepada Allah, karena Allah akan mengabulkan bagi hambanya yang berdoa.
Kesimpulan
Jadi, berzikir bagi remaja muslim generasi Z sangatlah penting karena, pada usia ini terjadi perubahan-perubahan psikologis yang menonjol dan di zaman yang serba canggih yang dapat menerima banyak informasi dari mana saja yang jika tanpa disaring dengan baik akan terjerumus ke dalam lingkungan sosial atau kehidupan yang tidak sesuai dengan tuntutan ajaran agama Islam. Oleh karena itu, zikir sangatlah penting bagi para remaja karena dapat menjerat jiwa yang sedang gelisah atau memberi ketenangan. Para remaja juga diharapkan mempunyai teman yang baik dan kuat pada agamanya, agar bisa menjadi tempat curahan hati dan pemberi saran yang baik, karena dengan menyampaikan curahan hati saja ke teman yang baik sudah memberi ketenangan.
Referensi:
Bhakti, C. P., & Safitri, N. E. (2017). Peran bimbingan dan konseling untuk menghadapi generasi z dalam perspektif bimbingan dan konseling perkembangan. Jurnal Konseling GUSJIGANG, 3(1), 104-113.
Fatmawaty, R. (2017). Memahami Psikologi Remaja. Jurnal REFORMA, 6(2), 55–65.
Khamim, N. (2019). Penerapan pendidikan agama islam pada keluarga millenial. Attaqwa. Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 15(2), 132 142.
Nislawaty, Handayani, F., & Ayuni, P. (2022). Gambaran pengetahuan remaja puteri kelas vi tentang kesehatan reprodukasi di sekolah dasar inkam kabupaten kampar tahun 2021. Jurnal Doppler, 6(1), 120-125.
Subur. (2016). Peran pendidikan agama islam dalam perkembangan jiwa remaja. Jurnal TARBIYATUNA, 7(2), 167-185.

No responses yet