Penulisan Al-Qur’an sebelum Fathu Makkah kadang tidak sesuai dengan qoidah imla’, seperti:

لإيلف قريش

إلفهم رحلة الشتاء والصيف.

Pada qoidah imla’ maka ditulis:

لإيلاف قريش إيلافهم رحلة الشتاء والصيف

Akan tetapi tulisan Al-Qur’an tetap tidak boleh diganti. Harus tetap sama seperti dalam mushaf.

Hal itu menunjukkan kebenaran Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi diutus sebagai orang Ummi untuk bangsa yang ummi.

هو الذي بعث في الأميين رسولا منهم

keummian itu bukanlah aib, akan tetapi merupakan keistimewaan. Seperti disebutkan dalam nadlom Burdah:

كفاك بالعلم في الأمي معجزة * في الجاهلية والتأديب في اليتم

Sedangkan penulisan setelah Fathu Makkah, maka sesuai dengan qoidah imla’. Salah satunya setelah ditulis oleh Muawiyah bin Abu Sufyan.

Seperti kata أفواجا dan توابا pada surat An-Nashr. Dalam dua kata itu, huruf Alif ditulis setelah wawu. Surat ini turun setelah Fathu Makkah.

Coba bedakan dengan surat Al-Kafirun yang turun sebelum Fathu Makkah.

قل يأيها الكفرون dan ولا أنتم عبدون ما أعبد

Pada qoidah imla’ maka akan ditulis:

يا أيها الكافرون

ولا أنتم عابدون ما أعبد

Wallohu A’lam.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *