Salah satu tabiat kejahatan, kekurangajaran dan kenggaplekan manusia, menurut Imam Ghozali, adalah orang baru mau bersyukur kalo dia tahu ada orang yang lebih susah dan lebih buruk keadaannya dari dirinya. Dari situ, hakikatnya dia menganggap dirinya lebih baik dari orang lain. Lalu baru mau dia bersyukur.
Ini sebenernya penyakit yang menyamar jadi kebaikan. Maka Imam Ghozali memperingatkan kita tentang hal ini. Obat penyakit ini menurut beliau adalah menyadari bahwa Gusti Allah memberikan kelebihan pada kita, sebenarnya itu ada hak orang lain.
Misal kita sehat, lihat orang sakit. Maka sebenarnya Gusti Allah menitipkan hak orang sakit untuk dirawat kepada kita. Begitu juga tentang harta. Hakikatnya Gusti Allah menitipkan harta orang miskin pada kita. Maka kita harus mengeluarkan hak orang lain itu dari diri kita lewat zakat dan sedekah. Jika harta itu tidak dikeluarkan, seperti genangan air, akan jadi kotor.
Nah, di sinilah salah satu hikmah zakat dan sedekah. Yaitu membersihkan hati dari penyakit merasa lebih baik dari seseorang. Makanya, disebut zakat dan sedekah yang kita keluarkan itu sumber kotoran yang bikin kita punya penyakit sombong.
Gak heran, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjaga diri dan keluarga beliau dari harta zakat dan sedekah. Karena pada hakikatnya, zakat dan sedekah itu kotoran para manusia. Ada orang kok mengharap sedekah, ya persis mengharap kotoran.
Kotoran baru bisa bermanfaat jika diberikan pada orang yang bisa memanfaatkannya. Kayak kita mau bersihin septiktank, bukan polisi yang kita panggil, tapi tukang sedot WC. Mereka paling bahagia kalo dapet kotoran kita. “Rejekiku Soko Silitmu” kata mereka. Karena hanya tukang sedot WC yang bisa menjadikan kotoran kita jadi duit.
Begitu juga kalo mau zakat dan sedekah. Kita cari orang yang tepat dan bisa memanfaatkannya. Syukur-syukur bisa jadi jariyah kita. Namun harus disertai batin yang tidak merasa lebih baik dari orang yang kita sedekahi.
Mugi manfaat.
#AyoNyarkub #ArbainFiUshuliddin #ImamGhozali

No responses yet