Ilmu dan harta kadang menjadi dua hal yg tidak bisa disatukan dalam satu waktu. Bahkan kita tidak akan mendapatkan setengah ilmu walau seluruh jiwa dan raga sudah kita khidmahkan untuknya.
Ini adalah adalah cerita antara guru dgn muridnya, guru alim dan muridnya yg alim. Dua manusia ini menjadi orang penting dalam cerita Mazhab Hanafi; Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Marzuban atau Imam Abu Hanifah rahimahullah (5 September 699 M, Kufah – 14 Juni 767 M, Bagdad, Irak) dan muridnya Imam Abu Yusuf atau Ya’qub bin Ibrahim bin Habib bin Khanis bin Saad al-Anshari al-Jalbi al-Kufi al-Baghdadi Al-Hanafi rahimahullah (738 M, Kufah – 798 M, Bagdad, Irak).
Abu Yusuf menimba ilmu kepada ulama2 besar di zamannya, seperti Hisyam bin Urwah, Abu Ishaq as-Saybani, Abu Muhammad Atho’ bin Saib al-Kufi, Anas bin Malik, (dalam Ilmu Hadist). Muhammad Ibnu Abdurrahman bin Abi Laila, Al-Laits bin Saad, dan Abu Hanifah (dalam Ilmu Fikih), nama yg terakhir inilah yg banyak memberikan inspirasi terhadap pemikiran Abu Yusuf, selama 17 tahun belajar bersamanya. Kelak abu Yusuf menjadi salah satu ulama madhab Hanafi termasyhur dan terpercaya di zamannya.
Di bawah bimbingan Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf mencapai sukses yg luar biasa. Abu Yusuf memang dikenal sbg salah satu murid terkemuka dari Imam Abu Hanifah. Meski begitu, hubungan antara guru dan murid ini sering diwarnai dgn perbedaan pendapat di antara keduanya.
Pesan Imam Hanafi
“Pertama-tama, carilah ilmu, lalu kumpulkanlah harta dari yg halal, kemudian menikahlah. Jika Engkau disibukkan mencari harta sa’at mencari ilmu, Engkau tidak akan mampu mencari ilmu, karena hartamu akan mendorongmu untuk membeli budak, lalu engkau disibukkan dengan urusan dunia.
Jangan sibukkan dirimu untuk mengurus istri sebelum engkau mendapatkan ilmu, karena kesempatanmu untuk belajar akan sirna, terlebih jika Engkau telah disibukkan dgn anak dan anggota keluargamu, lalu Engkaupun terpaksa mencari harta, bekerja, untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan meninggalkan aktivitas mencari ilmu.
Dahulukan mencari ilmu sa’at engkau masih muda, ketika hati dan perasaanmu masih kosong dari kesibukan lain. Lalu setelah itu, carilah harta hingga ia terkumpul padamu, jika Engkau sudah mempunyai harta, maka bolehlah Engkau memikirkan untuk segera menikah.”
Nasehat guru menggapai sukses
Nasihat tsb sangat mujarab dari seorang guru. Tidak berlebihan jika ilmu dulu baru menikah, sedikit berlama2 di majlis ilmu juga bukan berarti lupa menikah. Tidak. Tetap menikah. Tenang sajalah.
Nasihat ini membawa Imam Abu Yusuf menuju kursi Qadhi Al-Qudhot (hakim tertinggi negara). Dengan ilmunya ia diamanahi untuk mejadi hakim negara, memutuskan perkara dgn seadil2nya, sesuai dgn aturannya, bukan sesuai dgn pesanan atasannya.
Mungkin nasihat ini juga bukan hanya untuk Imam Abu Yusuf saja, siapa tahu nasihat ini juga mujarab untuk mereka yg mendambakan murid atau anak agar menjadi ulama terkemuka, yg menjadi pembawa cahanya baru bagi agama, masyarakat dan negara.
Semoga bermanfaat
Wallahu A’lam Bish showab
From various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet