“Tidak ada dari seorang mukmin kecuali baginya dua pintu. Pintu naiknya amal seorang mukmin. Pintun turunya rizki seorang mukmin. Maka ketika mukmin tadi mati kedua pintu itu menangis.”
HR. Tirmidzi

Seorang manusia tidak tahu menahu, apa, bagaimana, dan mengapa ia lahir di dunia. Pun juga tentang keadan sebelum ia lahir dan pasca kematiannya. Itu semua terjadi di luar kendali dan kehendaknya. Ia tidak pernah tau keadaan sebelum ia lahir di dunia, dan apa yang kemudian terjadi pasca kematiannya.

Pada dasarnya memang manusia tidak tahu menahu apa yang dipastikan untuknya. Bagaimana ia harus menjalani hidup dan bagaimana ia mengatur nyawanya sendiri. Namun ketika ia ditakdirkan sebagai penghuni dunia ini ia diberi bekal. Termasuk di antaranya adalah kesempatan beramal dan rizki.

Antara kesempatan beramal dan rizki ini akan terus menyertai manusia. Selama ia hidup di dunia. Sebab keduanya adalah paket yang pasti ia terima. Terkait hal ini dalam sebuah riwayat di katakan, “Tiada dari seorang mukmin kecuali baginya dua pintu. Pintu naiknya amal seorang mukmin. Pintun turunya rizki seorang mukmin. Maka ketika mukmin tadi mati kedua pintu itu menangis.”

Dari riwayat di atas jelas, bahwa minimal manusia memiliki dua bekal dalam kehidupan yang salurannya disebut dengan pintu. Pintu naiknya amal–sebagai wujud adanya kesempatan, dan pintu turunnya rizki. Pitu amal disediakan sebagai jalur diterimanya amal. Sedang pintu rizki adalah saluran rizki manusia turun. Selama manusia hidup dua pintu ini akan terbuka. Terus menerus sebagai jalur lalulangnya amal dan rizki manusia.

Jika manusia sudah pada saatnya ia harus meninggalkan dunia ini, maka dua pintu ini akan tertutup. Keduanya akan menangis karena tugas yang ia emban telah usai.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia tidak dapat mengatur segalanya. Termasuk ketika ia hidup di dunia, pun ia tidak dapat mengaturnya. Termasuk juga ketika ia mendapat fasilitas dari Allah untuk kehidupan di dunia. Fasilitas itu akan terus ada selama manusianya hidup. Sebaliknya fasilitas itu akan berkahir jika kematian telah menghampiri manusia.

Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 04-02-2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *