Usaha memeriksa berbagai istilah dan konsep-konsep Agenda Pembangunan 9 pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, membawa saya pada berbagai penjelajahan. Penjelajahan ini menuntun saya kepada penjelajahan, pertanyaan-pertanyaan, dan ketidaktahuan-ketidaktahuan berikutnya. Saya suka sekali omongan bijak Konfusius, seorang guru dan filosof kuno asal Tiongkok. “Saat Anda tahu sesuatu dan mempertahankan bahwa Anda mengetahuinya; dan ketika Anda tidak tahu sesuatu, dan memungkinkan Anda untuk tidak mengetahuinya- ini adalah pengetahuan,” katanya.
Pepatah bijak ini saya temukan pada buku karya Mark Petticrew dan Helen Roberts berjudul Systematic Reviews in the Social Sciences: A Practical Guide dan terbit pada 2016. Saya sampai pada buku ini karena dituntun tulisan Maria J. Grant dan Andrew Booth “A typology of reviews: an analysis of 14 review types and associated methodologies”. Grant dari Universitas Salford Inggris dan Andrew dari Universiras Sheffield Inggris.
Seperti tergambar dari judul, ulasan sistematik (systematic reviews) ini merupakan satu dari 14 tipe yang dikaji Grant dan Andrew. Jenis lainnya antara lain literature review, critical review, meta-analysis, rapid review, dan scope review. Jenis-jenis ini membantu kita dalam mengulas berbagai hasil kajian, laporan, dan berbagai dokumen. Saya mempelajari pendekatan ini sebagai cara memahami metodologi riset sosial.
Sebetulnya, ini bukan pokok ceritanya, melainkan bagaimana saya hendak memahami apa itu primordialisme dan bagaimana para akademisi membicarakannya. Priomordialisme, selain fundamentalisme dan konservatisme, menjadi salah satu istilah yang dipakai dalam RPJMN sebagai salah satu “biang kerok” aksi-aksi intoleransi di Indonesia.
Saat berusaha memahami primordialisme ini, sampailah saya pada tulisan John Coakley “’Primordialism’ in nationalism studies: theory or ideology?” Coakley akademisi asal Universitas Queen Belfast Irlandia Utara dan Univesitas College Dublin Irlandia. Saya memahami pelan-pelan apa yang dia bicarakan.
Di bagian akhir tulisannya, Coakley berusaha menyimpulkan bagaimana kelebihan dan kekurangan istilah primordialisme dengan istilah-istilah tersebut. Untuk mengujinya, ia merujuk tulisan John Gerring dari Universitas Boston tentang bagaimana membuat konsep yang baik. Tulisan itu diberi judul “What Makes a Concept Good? A Criterial Framework for Understanding Concept Formation in the Social Sciences” dan terbit pada 1999. Coakley sendiri berusaha meyakinkan pembacanya bahwa primordialisme akan lebih baik jika dilihat sebagai bahan dalam nasionalisme ketimbang sebagai penjelasan tentang nasionalisme.
Bagaimana membuat konsep yang baik ini menjadi penjelajah lain saya untuk memahami kajian-kajian sosial. Dengan membaca cepat artikel ini, saya jadi berpikir rupanya tidak mudah menemukan dan mencari istilah yang pas dan tepat. Membaca ini, saya jadi makin sadar hidup para akademisi ini memang tidak mudah. Seringkali membuat yang sulit makin sulit. Kalimulya 14 Juli 2020
Sumber tulisan: https://www.facebook.com/notes/alamsyah-m-djafar/primordialisme/10158471341959500
Sumber foto: http://florisotto.blogspot.com/

No responses yet