Prof. Abdurrahman Mas’ud : Dakwah Walisongo, Canggih dan Brilian

1
194

Jakarta Timur, jaringansantri.com – Menurut Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph. D., kita sebagai orang yang berasal dari Pesantren, memiliki dua keteladanan. Pertama, Universal model, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah seluruh dunia. Kedua, domestik model, yaitu wali songo dan para ulama.

“Inilah yang membedakan Islam Nusantara atau dunia pesantren dan dunia lain,” kata pak Dur, sapaan akrabnya.

“Karena kita kaya dan diperkaya dengan domestik model. kita sangat lekat dengan kearifan lokal kita,” imbuh Kepala Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI ini.

Hal itu disampaikan dalam kajian rutin Islam Nusantara Center (INC) yang kali ini di selenggarakan di rumah pribadi pak Dur, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur. Sabtu, 01 Desember 2018.

Manurut pak Dur, ada kontinuitas teladan Islam yang dibawa Rasulullah kemudian diteruskan oleh ulama terdahulu. Kemudian termanifestasikan dalam laku kehidupan manusia di Nusantara. “Dari nabi, sahabat, Walisongo dan ulama atau kiai. Tidak langsung ke Nabi,” ujarnya.

“Islam yang kita peluk sekarang, yang moderat dan toleran, ini bagian dari kontinuitas itu. Inilah yang ditaati para santri. Ini adalah proses modeling itu,”
tandasnya.

Dakwah yang dilakukan wali songo, lanjut pak Dur, merupakan cara atau jalan yang sempurna dan canggih. “Bukan dakwah yang demo, itu bukan. Apalagi dengan kekerasan. Dakwah itu dilakukan dengan sangat sederhana. Dengan cara yang tidak mengusik tradisi lokal yang ada,” jelas alumni  Qudsiyah Kudus 1980 ini.

Ia mengatakan “salah satu ulama yang saya bahas dalam desertasi saya adalah KH r
Raden Asnawi Kudus. Umurnya hampir satu abad. Menulis kitab pegon fasholatan yang masih digunakan hingga saat ini. Ini saya kategorikan sebagai kiai keliling, yang dakwah kemana-mana.”

“Dakwah-dakwah seperti inilah, dakwah yang brilian. Ini kehebatan, keagungan, dan kecanggihan sufi jawa. Mampu menyerap elemen-elemen dalam dan luar. Tapi tetap berdiri di atas prinsip-prinsip Islam tentunya,” pungkasnya.

Hadir juga sebagai pembicara dalam kajian tersebut antara lain : Gus Zainul Milal Bizawie, Ah. Ginanjar Sya’ban (Direktur INC), Drs. Muhammad Zain (Kepala Puslitbang Lektur Keagamaan Kementerian Agama RI).

Kajian yang bertema “Jejaring Ulama Haramain – Nusantara : Jejak Intelektual Arsitek Pesantren”, sebenarnya diangkat dari disertasi Pak Dur.

Terkait itu, Gus Milal menjelaskan 5 kategori tokoh ulama yang berperan penting dalam mempelopori, menjadi arsitek berdirinya pesantren. Sementara Ah. Ginanjar Sya’ban menjelaskan tiga karya yang menjelaskan tokoh-tokoh tersebut. Lalu, Dr. M. Zen melengkapi dengan mengungkapkan siapa guru Walisongo di dalam beberapa karya. (Zainul Wafa).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here