Psikologi dan Pendidikan Dalam Oleh: Cempaka Anggraini Rusli dan Zahrotul Kamilah (Program Studi Psikologi-Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka)
Abstrak
Psikologi dan Pendidikan dalam Islam merupakan kajian yang menggabungkan pemahaman mendalam tentang jiwa manusia (psikologi) dengan prinsip-prinsip pendidikan dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana konsep-konsep psikologis dapat diaplikasikan dalam konteks pendidikan Islam, serta bagaimana nilai-nilai Islam dapat membentuk perkembangan psikologis individu. Melalui kajian literatur dan analisis data, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model pendidikan Islam yang lebih holistik dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Pendahuluan
Pendidikan Islam adalah suatu proses menggali, membentuk, menggunakan, mengembangkan, mengingat dan menciptakan pemikiran manusia. Melalui media pendidikan, bimbingan, pelatihan dan pengabdian yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam, terbentuknya umat Islam yang sejati yang mampu mengendalikan, mengatur dan merana kehidupannya selama berabad-abad. Bertanggung jawab penuh dan beribadah kepada Allah SWT. Psikologi secara sederhana didefinisikan sebagai studi tentang perilaku dan hubungan antar manusia. Perilaku individu tidak hanya terdiri dari tindakan yang terlihat tetapi juga seluruh keadaan internal dan seluruh reaksi terhadap pengaruh berbagai faktor lingkungan. Organisasi manusia sangatlah kompleks. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi organisme hidup mencakup seluruh manusia. Pendidikan Islam dan psikologi tidak dapat dipisahkan, dan dalam kajian Islam istilah kepribadian lebih dikenal dengan As-Shakshiya. Syakhsiyah berasal dari kata Syakh yang berarti perseorangan. Kata itu diberikan kepada ya’ nisbath dan menjadi syakhsiyah, suatu kata benda tiruan (masdar shina’y) yang berarti kepribadian. Dalam literatur Islam, khususnya khazanah klasik abad pertengahan, kata shakshiya (sebagai padanan kepribadian) tidak banyak dikenal. Ada beberapa alasan mengapa istilah ini tidak begitu dikenal. Pertama, istilah “shakshiyah” tidak muncul dalam Al-Qur’an dan Sunnah, kecuali beberapa hadis yang merujuk pada istilah “shakshi” yang berarti “pribadi” dan bukan “kepribadian”. Kedua, para filosof dan sufi sudah terbiasa menggunakan istilah akhlaq dalam literatur Islam klasik. Penggunaan istilah ini didukung oleh ayat Alquran dan hadis Nabi. Ketiga, istilah “Shakshiyya” pada dasarnya tidak dapat mewakili nilai-nilai fundamental Islam apa pun yang mengungkap fenomena atau perilaku batin manusia. Hal ini dikarenakan istilah “Shakshiya” yang sering digunakan dalam psikologi kepribadian Barat mengacu pada gambaran kepribadian, sifat, atau perilaku unik seseorang, sedangkan istilah “Akhlak” menggambarkan sifat baik dan buruk seseorang lebih menekankan pada aspek penjurian. Tindakan. Shakshiya adalah Akhlak yang terdevaluasi (tidak ada penilaian baik atau buruk), tetapi Akhlak adalah Shaksha yang bernilai.
PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN
Pengertian Psikologi
Secara umum, psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia, yang dianggap sebagai cerminan dari kondisi jiwa seseorang. Lebih spesifik, psikologi merupakan disiplin ilmu yang menyelidiki perilaku fisik manusia melalui metode observasi objektif, dengan fokus pada rangsangan dan reaksi yang mempengaruhi perilaku tersebut.
Dalam kajian linguistik, istilah “psikologi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “psyche,” yang berarti jiwa, dan “logos,” yang berarti ilmu atau pengetahuan. Oleh karena itu, psikologi sering kali diartikan sebagai ilmu tentang jiwa, atau disingkat sebagai ilmu jiwa. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa pengertian psikologi tidak sepenuhnya identik dengan ilmu jiwa, meskipun ada kesamaan dalam maknanya.
Pendapat ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Gerungan dalam bukunya, “Pengantar Psikologi Umum,” yang ditulis oleh Bimo Walgito. Gerungan menjelaskan bahwa meskipun istilah “psikologi” dan “ilmu jiwa” memiliki arti serupa, keduanya tidak sepenuhnya setara. Istilah psikologi mengandung kata “psyche” yang berarti jiwa dalam bahasa Yunani, sedangkan “logos” merujuk pada ilmu, sehingga istilah ilmu jiwa sebetulnya hanya merupakan terjemahan dari psikologi.
Pengertian Pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah “pendidikan” berasal dari kata “didik,” yang menggambarkan proses yang bertujuan untuk mengubah sikap dan perilaku individu atau kelompok. Proses ini dirancang untuk mematangkan diri melalui pengajaran dan pelatihan. Secara sederhana, pendidikan dapat dipahami sebagai usaha manusia untuk membentuk kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan merupakan bimbingan yang disampaikan oleh pendidik untuk mengembangkan aspek jasmani dan rohani peserta didik, sekaligus membentuk kepribadian yang ideal. Pendidikan sejatinya bukan sekadar penyampaian materi tanpa nilai-nilai spiritual, karena ilmu pengetahuan yang tidak dipadukan dengan akhlak yang baik berpotensi menimbulkan bahaya. Proses pendidikan ini adalah transformasi yang melibatkan transfer pengetahuan dan nilai, berlangsung sepanjang hayat manusia atau dikenal dengan pendidikan seumur hidup. Menurut Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, pendidikan diartikan sebagai “tuntutan dalam kehidupan tumbuhnya anak-anak. ” Artinya, pendidikan berperan dalam mengoptimalkan seluruh potensi yang ada dalam diri anak, sehingga mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai individu dan anggota masyarakat. Dari berbagai pemahaman di atas, jelas bahwa pendidikan adalah proses bimbingan, pembinaan, atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak untuk mencapai kedewasaan, agar anak dapat melaksanakan tugas hidup secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada orang lain.
Pengertian Psikologi Pendidikan Islami
Psikologi Pendidikan Islami merupakan cabang ilmu yang memusatkan perhatian pada hubungan antara psikologi dan pendidikan dalam konteks Islam. Untuk memahami psikologi pendidikan Islami secara mendalam, penting untuk terlebih dahulu memahami definisi istilah tersebut. Secara sederhana, psikologi pendidikan Islami terdiri dari dua kata utama, yakni “psikologi” dan “pendidikan Islam. “
a. Psikologi
Secara etimologis, psikologi adalah istilah yang diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, “psychology. “ Istilah ini terdiri dari dua komponen yang berasal dari bahasa Yunani: “psyche,” yang berarti jiwa atau ruh, dan “logos,” yang berarti ilmu. Jika kedua kata ini digabungkan, artinya menjadi ilmu tentang jiwa.
Seiring berjalannya waktu, psikologi telah mengalami perkembangan yang pesat dan menjadi salah satu bidang penelitian yang diminati oleh banyak ahli. Berbagai pakar memberikan interpretasi yang beragam mengenai definisi psikologi. Salah satunya, Walgito mengartikan psikologi sebagai ilmu terapan yang secara ilmiah mempelajari perilaku manusia dan fungsi mentalnya. Sementara itu, Muhibbin menjelaskan bahwa psikologi adalah ilmu yang mengeksplorasi tingkah laku manusia, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, dalam konteks individu maupun kelompok, serta dalam relasinya dengan lingkungan.
Dalam pandangan lain, Crow dan Crow mendeskripsikan psikologi sebagai kajian tentang tingkah laku manusia dalam interaksinya dengan individu lain dan lingkungan. Perilaku yang dimaksud mencerminkan ekspresi jiwa yang terwujud melalui gerakan tubuh. Dengan demikian, psikologi dapat dipahami sebagai kajian ilmiah yang mendalami perilaku manusia secara individu, termasuk interaksi mereka dalam konteks sosial.
b. Pendidikan Islam
Selanjutnya, istilah pendidikan berasal dari kata “didik,” yang menurut KBBI dalam bahasa Indonesia berarti memelihara dan memberikan latihan. Secara etimologis, pendidikan berasal dari istilah Yunani “peadagogie,” yang terbentuk dari dua kata: “pais” yang berarti anak, dan “agogos” yang berarti membimbing. Gabungan dari kedua kata tersebut menciptakan pengertian tentang memberikan bimbingan kepada anak.
Dalam pengertian yang lebih luas, John Dewey mendefinisikan pendidikan sebagai proses pertumbuhan dan penyesuaian manusia secara intelektual dan emosional, yang membentuk kemampuan dasar individu. Sementara Hasan Langgulung menekankan pendidikan sebagai proses persiapan generasi muda untuk mengambil peran mereka, dengan mentransfer pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang selaras dengan fungsi dan tugas manusia sebagai khalifah di bumi.
Kedua definisi ini menunjukkan perbedaan pandangan; Dewey lebih menekankan pengembangan kecakapan intelektual dan emosional, sedangkan Langgulung menyoroti pentingnya pengembangan spiritual dan pembentukan kepribadian peserta didik yang bertanggung jawab. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan dengan usaha sadar dan terencana untuk mendewasakan individu yang belum dewasa, diwakili oleh peserta didik, oleh mereka yang lebih dewasa atau pendidik. Proses pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik.
Dalam konteks pendidikan Islam, istilah yang sering muncul adalah tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib, di mana masing-masing memiliki makna terkait dengan memelihara, mendidik, dan meneladani. Maka, pendidikan Islam dapat dipahami sebagai proses pendewasaan individu dengan mengembangkan potensi fisik, spiritual, dan jiwa, untuk membentuk kepribadian insan al-kamil yang bertanggung jawab dalam melaksanakan perannya sebagai khalifah.
c. Psikologi Pendidikan Islami
Setelah memahami konsep dasar psikologi dan pendidikan, kita beralih untuk membahas psikologi pendidikan Islam. Secara umum, psikologi pendidikan, sesuai pendapat Crow dan Crow, adalah ilmu yang menjelaskan situasi pengajaran pada anak, proses pembelajaran, serta berbagai kondisi yang memengaruhi proses tersebut. Berdasarkan berbagai definisi yang telah diuraikan sebelumnya dan sejalan dengan penjelasan Prof. Dr. Saiful Akhyar Lubis, M. A. , kita dapat menyimpulkan bahwa psikologi pendidikan Islam adalah ilmu pengetahuan yang membahas manusia beserta potensi-potensinya secara komprehensif, serta upaya untuk mengembangkan potensi tersebut guna mencapai tujuan Pendidikan Islam, yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Psikologi pendidikan Islam adalah salah satu cabang kajian psikologi yang fokus pada isu-isu kejiwaan yang berkaitan dengan pendidikan, dengan fondasi teori dan konsep yang diambil dari ajaran Islam. Dalam konteks ini, psikologi pendidikan Islam dapat dipahami sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari pendidikan Islam dari perspektif psikologi, serta bagaimana cara menerapkan atau mengintegrasikan ilmu psikologi dalam konteks pendidikan Islam.
Ilmu ini bertujuan untuk mendalami perilaku manusia sebagai pihak yang terlibat dalam proses pendidikan dan potensi yang mereka miliki, dengan harapan mencapai kesempurnaan hidup sesuai dengan ajaran Islam. Kesempurnaan yang dimaksud adalah tercapainya tujuan pendidikan yang sejalan dengan perkembangan berkelanjutan potensi jasmani dan ruhani, atau dalam istilah yang lebih luas, dimensi fisik dan spiritual manusia.
Dalam konteks psikologi pendidikan Islam, telah disepakati bahwa istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan aspek psikologi adalah “ilm nafs” Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa makna “an-nafs” tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsurnya, yaitu aspek jasmani dan ruhani. Manusia memiliki hakikat yang ganda; ia adalah jiwa dan raga, sekaligus merupakan entitas yang bersifat jasmani dan rohani. Pandangan ini juga sejalan dengan pernyataan Al-Rasyidin, yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari unsur-unsur materi dan non-materi. Ini menunjukkan adanya dimensi manusia yang mencakup baik aspek yang dapat dilihat (materi) maupun yang tak kasat mata (non-materi).
Penutup
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia, yang dianggap sebagai cerminan dari jiwa. Di sisi lain, pendidikan dapat dipahami sebagai usaha manusia dalam membentuk kepribadian sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dan budaya. Pendidikan Islam, khususnya, adalah suatu usaha yang ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, sehingga peserta didik dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri mereka, yakni al-jism (fisik), al’aql (akal), al-nafs (jiwa), dan al-qalb (hati), demi menjadi manusia yang utuh. Manusia yang utuh adalah mereka yang bersyahadah kepada Allah Swt. dan menyadari peran serta tanggung jawab mereka sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di dunia ini.
Tujuan pendidikan Islam adalah menciptakan individu berkepribadian Muslim, baik secara lahiriah maupun batiniah, yang berkomitmen untuk mengabdikan seluruh amal perbuatannya dalam mencari keridhaan Allah Swt. Dengan demikian, esensi dari cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan generasi yang beriman dan berpengetahuan, saling mendukung satu sama lain.
Dalam konteks hubungan antara psikologi dan pendidikan Islam, penting untuk menekankan perlunya peran psikologi dalam memahami aspek jiwa, mengingat bahwa subjek didik adalah manusia yang memiliki jiwa. Sebelum menjamurnya psikologi modern, konsep jiwa telah dibahas dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam klasik di bawah tema ilm nafs.
Daftar Pustaka
Hadi Imam Anas. 2017. Peran Penting Psikologi Dalam Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 11, Nomor (2). Hal252-253.
Fitri Helma. 2017. URGENSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAMI DALAM PENGAJARAN. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab. Hal 142-144, 217, 219,220.
Arifa Anni Panggabean, dkk. 2021. Urgensi Psikologi dalam Pendidikan Islam. Vol. 8, Edisi (1) Hal 30.Islam

No responses yet