1. Ada FB yang diunggah kemarin dan diberi jempol 7000-an orang hingga hari ini. Dia memuji pujaannya, dan tentu itu haknya dan tidak apa-apa. Tokoh-tokoh yang dipuji dia tegaskan dengan kalimat, “…dengan segala kekurangannya Pak Prabowo masih sangat baik dibandingkan dengan yg lain.” Dia juga mengklaim Indonesia tidak akan punya 100 jet tempur kalau bukan beliau Menhannya.
Dia juga mengapresiasi MRS, “….Di luar Pak Prabowo, yg masih saya hormat dan respek adalah beliau, bukan karena beliau keturunan Nabi, atau Imam Besar, tapi lebih karena kepribadiannya beliau yg jujur dan sangat peduli pada umat , serta sangat cerdas utk bicara Bangsa…..”
Dia juga memuji Pak Anies, “…Tokoh lain yg saya kagumi , meski masih dibawah mereka berdua adalah Anies Baswedan.”
2. Saya setuju sekali dengan tulisannya di paragraf selanjutnya bahwa dia mangkel atau tidak suka bila ada orang menyebut Pak Prabowo dengan gelar Pak Timbul. Saya tidak mengerti siapa yang memanggil demikian.
3. Tapi kalau kita baca lengkap satu artikelnya di atas, akan kesulitan memahami alur dan kedalaman nalarnya terutama saat menyinggung Islam. Awalnya dia menulis bahwa dia tidak mencampuradukkan masalah perjuangan agama. Eh di paragraf lain dia bilang, “Kalau Pak Prabowo punya pilihan yg lebih baik pasti milih jadi Presiden, kalau kemudian dia mau menjadi Menteri Pertahanan agar bangsa ini tidak mudah terjajah, dan agama Islam tidak musnah di bumi Indonesia.”
4. Kok tidak kapok-kapok mengkaitkan agama Islam secara sembrono. Sepengtahuan saya, ormas besar Islam baik NU maupun MD saat memuji para tokohnya tidak ada yang mengkaitkan dengan musnahnya Islam di Indonesia. Lha ini Pak Prabowo yang bukan ulama, bukan pemegang Ormas besar, bukan penulis buku tentang agama, juga bukan panglima perang yang mau maju melawan penjajah seperti Israel…tiba tiba ditempeli dengan kalimat di atas. Silakan mengapresiasi Pak Prabowo dalam ranah di “kemenhannya,” tapi jangan kaitkan dengan hal yang bukan garapan Pak Prabowo dan bisa memicu sentimen agama bagi orang awam. Apakah kita mau terus mengeksploitasi agama dalam politik
5. Nampaknya setelah capres cawapres yang berlaga di tahun lalu bersatu dalam kabinet masih ada saja yang menggunakan Islam secara serampangan untuk tujuan politik. Terakhir adalah apa yang diucapkan seorang tokoh https://www.viva.co.id/berita/nasional/1334195-cuit-menag-ingin-gebuk-islam-said-didu-dipolisikan. Nalar apa lagi kok yang namanya Gus Yaqut putra Kiai mau menggebuk Islam? Sebenarnya saya juga tidak setuju kalau dipolisikan, tapi semoga bisa menjadi pelajaran.
6. Wahai para pengguna medsos yang mulia dan bermartabat (hehehe bukan khutbah lho), sudahilah “memaksa” dan semena mena menggunakan Islam. Masak mata kita belum terbuka bahwa para politikus saat ini bersatu dalam kabinet. Cukuplah sindiran Yusril bahwa saat pilpres 2019 umat Islam banyak dimurtadkan dan jumlahnya tinggal separo.https://www.jpnn.com/news/yusril-ihza-mahendra-diminta-membela-habib-rizieq-jawabannya-tegas-menohok

No responses yet