Ada tiga hal yang ingin saya ulas dalam tulisan singkat ini, yaitu tentang Refly Harun, Nur Sugik Raharja, dan NU.
Refly Harun dikenal sebagai pakar hukum tata negara. Dan kepakarannya sempat mencuat karena analisanya yang kuat dan kritiknya terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap menyimpang.
Akan tetapi nalar kritisnya tetiba hilang bak ditelan bumi. Kemanakah sang doktor hukum yang biasanya bernas? Usut-usut punya usut ternyata sang doktor sedang menikmati kursi empuk Komisaris Utama Pelindo 1. Sejak mendapatkan kue empuk kursi komisaris, praktis sang doktor tidak lagi kritis dan garang.
Hingga akhirnya ia harus rela kehilangan kursi empuknya setelah dicopot oleh Menteri BUMN Erick Thohir.
Sebagai seorang aktifis, citra adalah aspek prinsip yang tidak boleh ternoda. Citra buruk yang sempat muncul akibat kehilangan nalar kritis saat menikmati kue kekuasaan sebagai Komisaris Utama harus segera dipulihkan. Tentu perlu beberapa langkah untuk memulihkan citra seseorang.
William L Benoit Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Ohio University mencetuskan sebuah teori dalam memulihkan citra seseorang yang dikenal dengan Image Restoration Theory. Dalam teorinya ada lima langkah yang bisa dipilih untuk memulihkan citra seseorang.
Namun, yang relevan dalam kasus Refly Harun adalah Evading of Responsibility. Strategi ini dilakukan dengan mengurangi resiko dan konsekwensi dari apa yang akan dilakukannya dengan tidak melupakan tujuan utamanya untuk memulihkan citra. Cara ini bagaikan permainan billiyar dimana bola putih sengaja disodok kepermukaan walaupun tujuannya ingin menggolkan bola lainnya. Biasanya strategi ini dilakukan dengan cara dan alternatif penangkal jika diperlukan : provocation (provokasi). Dan kalau terjadi sesuatu diluar prediksinya, maka senjata berikutnya adalah ; defeasibility (pengakuan bahwa ia kurang informasi), accident (penegasan bahwa semuanya diluar dugaan jika ada hal yang urgent), good intention (pengakuan bahwa sebenarnya ia punya tujuan baik diujungnya). Kalau dalam kaidah fiqih, Refly sedang memainkan ujicoba
ما لا يدرك كله لا يترك كله
Nur Sugik yang tetiba mendeklarasikan diri sebagai Gus Nur. Sudah mafhum bahwa Nur Sugik tidak banyak paham agama. Membaca naskah turots sebagai mata-rantai keilmuan Islam dia tidak bisa. Dan itu diakui sendiri dalam wawancara kamuflase dengan Ahmad Dhani tempo hari. Jangankan baca kitab, membaca al-qur’anpun pernah salah dan kesalahan ini dipertontonkan secara luas. Tapi orang ini memang unik. Bahkan secara pribadi saya menyebut orang ini sebagai tokoh terunik abad ini. Mengapa? Karena dibalik kebodohannya, ia dengan sangat percaya diri (bahkan over confidence) menafsir makna ulama dalam al-qur’an dengan memesaukkan unsur binatang. Sebenarnya saya mau auto ngakak tapi takut dosa. Ternyata warotsatul anbiya’ itu kadang berwujud ular, ayam, anjing dan lain-lain versi Nur Sugik. Untung yang menyampaikan tokoh terunik abad ini sehingga kita dipaksa memaklumi kapaditasnya. Sebab para mufassir, ketika akan menafsir ayat perlu menguasai belasan disiplin keilmuan. Tidak cukup tata bshasa Arab, Nahwu-Shorof. Lah, jangankan satu disiplin ilmu, membaca kitan saja ia berterus terang tidak bisa. Dan membaca al-qur’anpun pernah kepeleset. Tapi dengan berapi-api tanpa merasa bersalah berani menafsir ayat. Hhmm fenomena akhir zaman. Coba kalau yang menafsir tokoh NU, Ansor, Banser, wah bisa didemo berjilid-jilid tuh.
Aneh bin ajaib para fansnya malah semakin terbius dan semakin antusias untuk mewawancarai Nur Sugik. Ya mungkin, kalaupun bukan ilmu yang didapat minimal berkahnya kalee…
Kelayakan Nur Sugik untuk mendapatkan anugerah tokoh terunik lainnya adalah kekhasannya dalam berdakwah. Dari mulutnya seringkali meluncur kata-kata kotor, comberan dan lacur. Bahkan, disamping mulut kotor yang meluncur dalam dakwahnya, juga seringkali disertai ekspresi yang meledak-ledak layaknya aktor laga. Karena keunikan inilah saya sampai kesulitan untuk mencari terminologi yang pas dalam teori psykologi untuk menggambarkan sosok Nur Sugik ini.
Paling tidak sosok Nur Sugik terlukiskan dalam mutiara hikmah
سيرة اامر ء تنبا عن سريرته
Pasti Nur Sugik tidak paham dan bingung bacanya
NU sudah tidak aneh dibully, baik organisasinya apalagi tokoh-tokohnya. Kalau dipikir-pikir, ini bukan hal yang aneh dan baru.
Proses kelahiran NU 1926 pun berawal dari bullying kelompok puritan terhadap amaliyah sehari-hari kaum sarungan ini.
Tidak hanya amaliyah, bahkan tokoh-tokoh terasnyapun tidak luput dari bullying komunitas sumbu pendek dan nyinyiriyyun. Tokoh sekaliber Mbah Hasyim Asy’ari yang mendapat gelar hadlarotus syech karena kepakarannya dibidang hadits yang hafal kutubus sittah baik matan maupun syarah serta menguasai seluk beluk sanadnyapun juga dibulli. Jadi sejak era Mbah Hasyim Asy’ari sampai era Kyai Said Aqil Sirajd pimpinan NU selalu dibully. Mulai dianggap penjilat penjajah, syiah, liberal, PKI adalah sematan-sematan yang diberikan kaum nyinyiriyun tadi. Tidak ada satupun pimpinan NU yang aman dari bullying. Lantas bagaimanakah nasib NU?
Ternyata NU tidak mati, layupun tidak. Justru NU tumbuh semakin besar dan menjadi organisasi terbesar. Jadi, NU tetaplah besar dan dewasa, tidak perlu reaktif. Cukuplah diproses secara hukum dan kawal sampai tuntas.
Ingat, moment hari santri jangan sampai dijadikan alat oleh para pengasong khilafer untuk membakar situasi yang sedang dihadapi NU
Tetaplah pada pijakan
من سار على الدرب وصل

No responses yet