Jama’ah : “Jo katanya Allah itu memberi rejeki pada mahluknya secara merata atau adil. Tetapi kenapa aku tidak bisa punya kendaraan seperti si Joni yang kaya raya itu? Dia seumuran denganku dan aku tahu keluarganya juga tidak kaya-kaya amat. Ya sebelas duabelas denganku.”

Paijo : “Kang jangan banyak mengeluh, bersyukurlah dengan apa yang sudah diberikan Allah kepada akang. Allah itu maha adil dan kita tak perlu ragu akan hal itu.”

Jama’ah : “Tapi Jo, kalau memang adil kenapa aku tetap seperti ini saja dari dulu. Sementara kamu saja sudah mulai berubah dan lebih sejahtera sejak menikah.”

Paijo : “Kang saya nasehat dari Yuk Tin ketika mengeluh seperti akang saat ini. Kata Yuk Tin, semua rejeki manusia itu nilainya sama.  Bedanya hanya di prosesnya saja. Saya dan sampeyan ini keliatannya saja beda tapi sebenarnya kalau dicermati dan direnungkan akhirnya juga sama.”

Jama’ah : “Kok bisa Jo, kan keadaan kita berbeda.”

Paijo : “Justru karena keadaan kita berbeda itulah, makanya semua terlihat beda. Kalau kita bandingkan dengan para ulama yang katanya akang lebih baik rejekinya dari pada kita. Cobalah lihat betapa perjuangan mereka menuntut ilmu begitu berat dan menguras tenaga, pikiran dan harta. Sementara kita yang tukang cangkruk dan keluyuran sejak muda nggak banyak keluar tenaga, pikiran dan harta. Demikian juga saat ini, tanggungjawab kita juga tak seberat para ulama itu. Tapi jatah kebutuhan dasar hidup kita tetap relatif sama dengan mereka.”

Jama’ah : “Astaghfirullah, benar kamu Jo. Kenapa aku tidak mikir sejauh itu ya? Para pengusaha itu harus menanggung honor karyawannya. Kita nggak perlu mikir bayari siapa, cukup kasih uang saku anak dan belanja istri. Apalagi dalam situasi kayak begini, mereka tambah stress karena usahanya terhambat wabah. Trimakasih Jo. Semoga aku bisa sabar menjalani hidup.” #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *