Bicara sabar berarti mbahas gimana cara kita memunculkan jiwa yg aktif (nafsun naathiqoh) sebagai lokomotif yang memacu kita untuk beramal sholeh, meninggalkan hal yg remeh temeh, bersikap selayaknya orang berakal, tenang dan manusiawi.
Sehingga dengan kata lain, sabar bermakna beranjak meninggalkan karakter jiwa yang pasif (nafsush shoomitah), yaitu jiwa yang menyerah kalah, brutal dan berbagai karakter kebinatangan yang membawa kepada keputusasaan dari rahmat Gusti Allah. Untuk itulah, sabar butuh keilmuan yang malakah.
Imam Ghozali menambahkan bahwa sabar itu setengah bagian dari iman dan yang setengahnya lagi adalah syukur.
Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW
الإيمان نصفان : نصف صبر، ونصف شكر
“Komposisi iman itu 50% berisi sabar dan 50% syukur”
Kalo kita bisa sabar dan syukur, maka komplitlah keimanannya.
Ketika Kyai Arwani Amin Kecopetan
Berbicara sabar dan syukur, ada cerita keteladanan dari Mbah Yai Arwani Amin Kudus tentang bagaimana contoh manusia yang sabar dan syukur yang mapan dan sempurna.
Suatu hari ketika bepergian, di saat beliau turun dari bus di terminal Terboyo Semarang, Mbah Yai Arwani kecopetan. Entah sudah tahu atau memang pura-pura tidak tahu, Mbah Yai Arwani tidak peduli jika baru saja kecopetan. Santri yang mendampingi dan tahu kejadian kecopetan terkejut, seketika itu pula mereka pada mengejar pencopetnya.
“Copet …! Copet …!” teriak para santri sambil mengejar. Suasana menjadi gaduh, serabutan, karena orang lain ikutan mengejar pencopet.
Tapi sayang, pencopetnya terlalu lincah berlari dan tampaknya cukup menguasai medan hingga gagal ditangkap. Para santri pada kecewa dan marah-marah pada pencopet yang sudah raib itu. Berani-beraninya si copet mengganggu Mbah Yai, begitu kira-kira pikir mereka.
Copetnya pun keterlaluan, tidak lihat-lihat siapa yang akan dijadikan korban. Dan tentu saja, pencopet tidak peduli hal itu. Mungkin yang diingat oleh pencopet adalah uang, uang dan uang.
Bagi copet, siapa saja yang pegang uang, uang tetap bernilai uang. Yang juga tak kalah mengherankan adalah Mbah Yai Arwani, tidak peduli dengan apa yang barusan terjadi. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Tenang-tenang saja, sibuk dengan dzikirnya. Sampai-sampai santrinya harus memberi tahu bahwa Kyai baru saja kehilangan dompet disikat pencopet.
“Mbah Yai, Njenengan baru saja kecopetan!” kata santrinya memberitahu.
“Oh, ya?” jawab Mbah Yai Arwani santai.
“Benar, Mbah Yai. Tapi kami gagal menangkapnya! Keterlaluan betul pencopet itu!”
“Alhamdulillah …. Sudahlah kalian tidak perlu ribut-ribut. Saya bersyukur, yang dicopet itu saya!”
“Apa maksudnya Kyai?”
“Syukur, syukur, Alhamdulillah. Karena saya yang dicopet, bukan saya yang jadi pencopetnya!”
Tentu saja para santri pada bengong mendengar jawaban Mbah Yai Arwani, pikirannya pada gak nyampek.
“Kok bisa begitu Kyai?”
“Sekarang apa jawab kalian jika aku tanya, lebih baik mana, menjadi orang yang dicopet atau menjadi tukang copetnya?” tanya Mbah Yai Arwani kemudian.
Jawaban Mbah Yai Arwani tersebut sungguh tak terbantahkan, masuk akal banget. Nuansa zuhud dan kesufian mengiringi ucapan-ucapan beliau. Para santri yang menyertai beliau pada geleng-geleng kepala tanda paham dan takjub.
Dan para santri pun mendapat pelajaran berharga yang belum pernah mereka jumpai dalam teori. Rupanya, dalam musibah pun bisa timbul rasa syukur, seperti yang sudah dicontohkan Mbah Yai Arwani.
Cerita yang mampu membuat kita tersenyum dan juga mendapat banyak hikmah di dalamnya. Salah satunya, betapa sabar dan syukur itu tidak bisa terpisahkan sebagai satu kesatuan yang membentuk iman. Syukur tidak hanya ketika kita mendapatkan sesuatu. Dan bersabar pun tidak hanya ketika kita kehilangan sesuatu.
Sabar Tetap Butuh Saling Menguatkan
Orang sambat kan berarti hidupnya ada yang tidak normal, jadi perlu dinasehati, didukung dan didoakan biar normal lagi. Artinya, normalnya orang ya sabar, susah senang bisa menikmati hidup dan bersyukur. Tapi yang namanya “menasehati” itu bukan “menggurui”.
Kita memang disuruh saling menasehati, bukan menggurui orang yang belum tentu mau menganggap kita guru. Yang dinamakan nasehat itu ialah mengharap kebaikan untuk orang lain, begitu dawuh KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo.
Intinya, orang disuruh saling menasehati dalam arti saling mendukung, mendoakan dan menguatkan sesamanya dalam kesabaran biar hidupnya normal, bukan tambah runyam dengan ocehan kita.
Terkait nasehat, ada anekdot.
Sugeng minta nasehat ke Kyai Sarip tentang masalah rumah tangganya yang kehidupan seksualnya monoton. rupanya istri Sugeng kurang inisiatif dalam masalah ranjang. Bahkan terang-terangan, Sugeng pingin nikah lagi karena tidak sabar.
“Loh, jangan nikah lagi, Geng!” Sahut Kyai Sarip, “Nyakiti istri itu bikin gak enak hidupmu. Lagian, lihat prejenganmu, yakin gak bakal sanggup ente poligami!”
“Trus gimana dong, Kyai?” Tanya Sugeng.
“Perbaiki saja, minta istrimu kalo di ranjang jangan diem aja kayak debog, biar ranjangnya anget, minimal suara mengeluh lah!”
“Melenguh? Kayak sapi gitu dong, Kyai?” Sugeng gak mudeng.
“Eh, bukan melenguh. Mengeluh, suara ‘ah..uh ah..uh’ gitu lah, mosok gak paham?” Ralat Kyai Sarip.
“Ooo, ya, paham Kyai, nanti saya coba bilang ke istri,” Jawab Sugeng.
Malamnya, pas naik ke ranjang, Sugeng menyampaikan nasehat Kyai Sarip ke istrinya, “Sayang, kata Pak Kyai, biar ranjang kita anget dan membara lagi, kamu jangan diem aja,”
“Trus, aku kudu gimana, Mas?” Tanya istrinya.
“Nanti pas aku sentuh, kamu keluarkan suara ‘mengeluh’, yang seru kalo bisa, paham kan?” Kata Sugeng.
“Mengeluh ya? Paham, Mas,” jawab istrinya singkat.
Permainan pun dimulai. Sugeng menyentuh istrinya dengan hot, si istri pun spontan mengeluh, “Duh Maaas.. Cabe di pasar pada nooaik tuinggiii, daging juga pada nooaik 10 ribu, aduuuuh… Mana jalan becek, gak ada ojek! Aku kuwesel deh jadinya, Mas!”
Rupanya, istri Sugeng bener2 “mengeluh” di ranjang.
Jadi, Sabar itu…
Sebagai penutup pembahasan Bab Sabar, kita rangkum intisari semua pembahasan sabar yang udah kita bahas.
- Sabar hakikatnya adalah tegak dan seimbangnya agama seseorang (secara akal, adab dan keilmuannya) dalam menghadapi gejolak hawa.
- Sabar itu bukannya tidak ngapa-ngapain atau bertindak ngawur.
- Andaikan orang itu bisa sabar dan sangat meyakini keagungan ayat Gusti Allah, maka Gusti Allah pasti menjadikan mereka panutan dan dibimbing langsung oleh Gusti Allah lewat hidayah ilmu.
- Tanda orang yang diberi keyakinan dan berbuah kesabaran itu gak bakal lari dari Gusti Allah. Malahan dia semakin gak peduli kehilangan materi atau dunia, apapun itu, asal hatinya tetap percaya pada Gusti Allah.
- Sabar itu bermanfaat bagi manusia modern karena sabar berarti progress menuju hal positif, sanggup mengelola stress (manajemen stress), kondisi psikologis terjaga dan kesehatan tubuh terjaga.
- Orang gak cukup ngaku beriman biar bisa mendapat petunjuk Gusti Allah. Kudu dibarengi amal sholeh, baik kesholehan pribadi maupun sosial. Karena itulah, manusia harus saling menguatkan kesabaran sesama manusia.
- Ada 2 alasan kenapa manusia butuh saling menguatkan biar bisa sabar setiap waktu. Yaitu :
- Kehidupan manusia itu kadang mencocoki dengan kecenderungannya dan kadang tidak. Pas keadaan enak, manusia umumnya merasa gak butuh sabar dan lupa bersyukur. Pas keadaan gak enak, manusia suka goyah dan lupa menjaga akal.
- Tidak semua orang bisa mengevaluasi dirinya sendiri dan mengerti bagaimana bersabar menghadapi kenyataan di tiap kondisi.
- Ada 4 macam kenyataan yg perlu diketahui strateginya biar bisa sabar di dalamnya, yaitu: melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan, mencapai keinginan dan menghadapi kepahitan
Jelasnya, sabar itu juga mengandung arti tahu diri dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Syaikh Musthofa Ghulayayni dalam Idhotun Nasyiin, menjelaskan bahwa manusia itu punya jiwa berakal (nafsul aqliyah) dan jiwa goblok (nafsu jahilah).
Jiwa berakal punya ciri sabar karena berilmu, sehingga sanggup tenang dan mendetail dalam menghadapi masalah. Jiwa goblok punya ciri suka gupuh (panik) di depan masalah karena gak punya ilmu, sehingga bingung dalam menghadapi masalah.
Maka, dawuh Syaikh Ghulayayni, syarat sabar itu punya ilmu. Bukan hanya tau teori, tapi juga sudah pengalaman dan jadi kebiasaan. Jadi maksudnya ilmu di sini adalah sesuatu yang sudah mapan dan jadi karakter di hati dan pikiran. Malakah istilahnya.
Misal saya ngaku ahli kopi karena bisa sabar kalo ada masalah perkopian. Saat menemukan kopi tertentu, karena udah malakah tentang kopi, saya bisa menjelaskan detail green bean, proses hulu hilirnya, metode seduhnya, dan lain-lain hingga detail.
Jadi, orang bisa sabar kalo sudah ahli yang memang fokusnya ke situ. Maka kalo bukan ahlinya, mending diserahkan pada ahlinya buat membereskan, daripada ngamuk-ngamuk gak jelas gara-gara gak bisa sabar.

Maka kalo sampeyan percaya saya ahli kopi, sampeyan kudu percaya kalo saya bilang kopi sachet Arabika Gayo Takengon dari Mawlikopi ini enak. Rasa gurih, asem, legit dan fruity saling bersaling-silang menggoyang lidah. Lebih enak diseduh tanpa gula. Cocok buat penikmat kopi yg menghindari konsumsi gula berlebih. Kalau tertarik silahkan klik Disini

No responses yet