Imam Ghozali dawuh, “Sesungguhnya Gusti Allah Ta’ala Maha Mendengar dan Maha Melihat, Dia Yang senantiasa mendengar dan melihat. Tidak terhalang dari pendengaran-Nya, apapun itu, walau lirih. Dan tidak terlewat dari penglihatan-Nya, apapun itu, walau sifatnya lembut. “
Gusti Allah adalah Tuhan, sehingga pasti secara akal, Dia Maha Mengetahui sehingga pasti Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Gusti Allah dawuh
إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An Nisaa’ 58)
Sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat Gusti Allah yang Qodim. Artinya sifat tersebut melekat pada Dzat Gusti Allah Yang Qodim, senantiasa ada, tidak terpisah dan tidak putus nyambung.
Tidak akan terlewat sekecil, selirih atau semikro apapun dari pendengaran-Nya dan penglihatan-Nya. Sehingga semua bisikan hati kita, azam kita, niat kita, hingga perbuatan kita secara sembunyi-sembunyi itupun senantiasa jelas terdengar dan terlihat oleh Gusti Allah, tidak terlewat sedetik pun. Karena Dia-lah yang menciptakan semua yang dzohir dan ghoib.
Imam Ghozali melanjutkan.
“Jarak tidak menghalangi pendengaran-Nya dan kegelapan tidak menghalangi pandangan-Nya.”
Karena Dia tidak bergantung jarak, tempat, gelap-terang, ruang, warna dan apapun yang jadi sifat makhluk. Justru Dia-lah pencipta itu semua, sehingga semua tidak berpengaruh bagi-Nya. Lari kemanapun kita, tidak akan bisa lari dari pendengaran-Nya dan penglihatan-Nya.
Imam Ghozali melanjutkan.
“Gusti Allah Maha Melihat tanpa bantuan apapun termasuk bola mata dan retina, Maha Mendengar tanpa bantuan apapun termasuk gendang telinga dan saluran telinga. Seperti halnya Dia Maha Mengetahui tanpa bantuan hati, Maha Menghancurkan tanpa bantuan bentuk fisik, Maha Mencipta tanpa bantuan alat. Tidak ada sifat makhluk yang menyerupai sifat-Nya, seperti tidak ada bentuk makhluk yang menyerupai Dzat-Nya”
Karena secara akal sehat, pencipta itu pasti berbeda dengan ciptaan. Makhluk butuh alat sebagai pendukungnya agar bisa berdiri, berjalan dan hidup. Maka Gusti Allah jelas berbeda dalam segi apapun dengan makhluk. Sehingga tidak butuh pendukung apapun.
Sebagaimana alam robot yang diciptakan manusia. Robot kalo bisa nggosip, pasti heran, manusia sebagai pencipta mereka kok bisa berpikir tanpa prosesor, berjalan tanpa rotor, hidup tanpa transistor. Gak bisa dibayangkan oleh alam robot.
Begitu juga kita, gak akan bisa membayangkan bagaimana Gusti Allah mendengar dan melihat tanpa telinga dan mata, walau realitanya begitu. Karena secara akal sehat, pencipta pasti berbeda dengan ciptaan. Kalau makhluk butuh alat, Tuhan pasti tidak butuh. Dan hal itu tidak terbayangkan oleh kita, karena memang tidak untuk dibayangkan. Apapun yang kita bayangkan, maka itu bukan Gusti Allah.
Seperti dawuh Imam Hambali
مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك
“Apapun yang kamu bayangkan dalam hatimu tentang Gusti Allah, maka Gusti Allah tidak seperti yang kamu bayangkan”
Maka, harus jadi keyakinan bahwa Gusti Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat tanpa butuh bantuan alat. Karena akal sehat mengatakan pencipta pasti berbeda dengan ciptaan. Dan hal itu sekaligus sebagai realita yang tidak bisa kita tolak.

No responses yet