Jama’ah : “Jo kenapa dalam Al Qur’an Allah menandai hadirnya qiamat dengan tiupan sangkakala?”

Paijo : “Tuhan itu hakekatnya “menyiapkan” semua penjelasannya dengan ukuran kebiasaan manusia. Dahulu kala ketika akan berperang sebagian manusia memulainya dengan tiupan terompet sangkakala. Perang itu bentuk kiamat kecil. Jadi mungkin Tuhan ingin manusia agar cepat paham terhadap peringatan akan datangnya hari akhir.”

Jama’ah : “Jo, dunia kan pernah heboh pada tahun 2015 dengan adanya suara mirip sangkakala yang terdengar di Eropa, Amerika dan Australia. Ada yang percaya itu sebagai peringatan akan datangnya akhir zaman. Ada pula yang yakin bahwa itu sebatas fenomena alam semata. Kalau menurutmu gimana?”

Paijo : “Kang apa menariknya sih bicara soal akhir zaman? Toh sekarang ini tanpa sangkakala kita sudah ada di ujung zaman. Apalagi jika kita yakin bahwa  risalah kenabian Baginda Muhammad kita jadikan pedoman. Beliaulah nabi terakhir dan sudah hampir 1500 tahun lalu kehadirannya dan belum ada tanda-tanda kenabian baru. Padahal jarak kenabian itu ya sekitar 500 tahun jika ukurannya dibandingkan dengan kelahiran nabi Isa alaihi salam.”

Jama’ah : “Lho kalau begitu suara sangkakala itu benar-benar sebagai tanda kiamat semakin dekat Jo?”

Paijo : “Aku tidak bilang begitu kang? Tapi maksudku adalah dekat dan jauh itu sangat relatif buat masing-masing orang. Hanya saja tanda-tandanya yang dijelaskan Allah dalam kitab suci Nya itu yang bisa kita jadikan ukuran-ukuran kedekatannya. Konon pada tahun 1970 juga sudah terdengar suara mirip sangkakala dan entah kemudian berulang lagi atau tidak saya tidak tahu. Tapi yang jelas suara pada tahun 2015 semakin jelas dan nyata karena rekaman teknologi yang dibuat manusia.”

Jama’ah : “Apakah tanda bahwa manusia yang sudah mulai meninggalkan ayah ibunya, pasangan dan anak-anaknya, karena lebih sibuk mengurus kesenangan pribadi itu juga jadi tanda kehadiran kiamat Jo?” 

Paijo : “Begitulah kang yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Tapi kita kan punya penafsiran yang berbeda kang, meskipun ayatnya sama. Setiap jiwa bisa merasakan makna tersembunyi dari setiap ayatnya. Kalau akang perhatikan, makna dalam surat Abasa yang akang singgung di atas, yang tafsirannya menurut perasaan akang begitu. Maka memang benar saat ini kita sedang mengarah pada situasi egoisme tingkat tinggi. Orang tua, saudara, pasangan dan anak-anak kita semua sibuk sendiri-sendiri. Hampir-hampir saja tidak ada  kesalingan peduli di antara mereka karena sibuk dengan kesenangannya sendiri-sendiri.” 

Jama’ah : “Ya Allah Jo, aku kok semakin takut, masa aku tidak jadi kawin Jo?” 

Paijo : “Segeralah menikah kang, mumpung kiamat yang sesungguhnya belum benar-benar datang. Ha ha ha.” #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *