Santri dan Peci

0
527
gambar seorang santri memakai peci, sumber; google image

Jaringansantri.com- Peci merupakan salah satu identitas nasional yang banyak dipakai oleh warga Indonesia. Apapun suku  agamanya, mulai dari rakyat biasa hingga pejabat memakainya. Memang, sejak pertemuan Jong Java di Surabaya  pada Juni 1921,  Soekarno mulai mengenalkan diri sebagai pemuda berpeci. Ia mengatakan : “Kita memerlukan lambang daripada kepribadian Indonesia. Peci dipakai oleh pekerja-pekerja bangsa Melayu, dan itu asli kepunyaan rakyat kita.”

Sebagai lambang identitas bangsa, peci tidak serta merta dikenal luas tanpa adanya sistem yang mengaturnya. Salah satu yang berperan aktif untuk melestarikan pemakaian peci adalah pondok pesantren dan madrasah. Di lembaga pendidikan Islam tersebut, peci bahkan ada yang dijadikan sebagai seragam resmi. Di samping itu ternyata dalam sejarah, para tokoh Islam  juga memberikan pengaruh untuk menampakkan identitas bangsa Indonesia melalui peci. Beberapa ulama yang berpengaruh terhadap pemakaian peci adalah Kiai Sholeh Darat dan Sayyid Utsman al-Batawi.

Kiai Sholeh Darat  dalam Kitab Majmu’at al-Syari’at al-Kifayat li ‘awam (1892 M) memasukkan misi perlawanan terhadap para penjajah dengan menganjurkan waga muslim memakai peci untuk membedakan dengan para penjajah.  Sedangkan Sayyid Utsman al-Batawi dalam Kitab al-Qawanin al-Syar’iyyah li Ahl al-Majalis al-Hukumiyyat wa al-ifta’iyyat (1883 M) mengkritik pegawai-pegawai  bangsa pribumi di kantor-kantor pemerintah Belanda yang mengenakan pakaian serupa dengan orang Belanda. Mereka melepas peci dan mengganti dengan topi serta mengenakan baju berdasi agar dianggap sebagai bagaian pegawai pemerintahan.

Dalam keseharian, kita sering menyebut penutup kepala yang tebuat dari kain bahan beludru dan  yang diruncingkan kedua ujungnya ini dengan sebutan  peci,  kopiah atau songkok.   Lantas, mengapa disebut demikian?

Pertama mengenai peci. Zaman Belanda peci itu ditulis ‘’Petje’’ yang berasal dari kata ‘’pet’’ (topi) dan “je” yang mengesankan ‘’sesuatu yang kecil” dimana biasa dipakai oleh bangsa Melayu.  Ada juga yang mengatakan bahwa peci merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga yaitu kuluk yang lebIh sederhana daripada mahkota, sebagaiman yang disematkan pada Raden Fattah saat pengukuhan sebagai Sultan Demak.

Kedua mengenai kopiah. Ada yang menyebut kopiah diadopsi dari Bahasa Arab, Kaffiyeh. Namun aslinya bentuk kaffiyeh yang dari Timur Tengah berbeda dengan kopiah. Kaffiyeh merupakan kain penutup kepala berbentuk persegi yang dilipat pada bagian tengah hingga menjadi bentuk segitiga dan berbahan katun. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa kopiah itu berasal dari kata ‘’kosong di-pyah’’ dalam Bahasa Jawa artinya kosong dibuang. Maksudnya, kebodohan dan rasa dengki harus dibuang dari isi kepala manusia.

Sedangkan songkok, ada yang mengatakan berasal dari kata skull cap yang berarti batok kepala topi, sebutan oleh Inggris untuk penggunanya di Timur Tengah. Kemudian di wilayah melayu kata tersebut berubah pelafalannya menjado song kep dan akhirnya disebut songkok. Namun, ada pula yang menganggap songkok berasal dari singkatan ‘’Kosong dari Mangkok’’ yang artinya kepala ini seperti mangkok kosong yang harus diisi dengan ilmu pengetahuan.

Dari sekian nama peci, kopiah atau songkok, mana yang sering kalian sebut?

 

(Diolah dari Ensiklopedi Islam Nusantara edisi Budaya Kemenag RI tahun 2016)