Kita ini punya umur terbatas. Umur terbatas berarti amalnya terbatas. Itu pun belum tentu semua diterima. Kadang kita mikir, dengan modal apa kita bisa dapat ridho dan bahagia di akhirat yang selamanya itu? Rasanya gak nyandak pikiran kita. Pokoknya gambaran gelap lah kalo mikir itu.

Imam Ghozali pun membuat solusi yaitu gerakan “Satu Amal Berjuta Niat”.

Satu amal berjuta niat itu sangat mungkin banget. Amal itu jadi bukti fisik pengabdian yg wajib ada, tapi sifatnya terbatas. Tapi juga jangan lupa, hal yg paling menentukan amal diterima atau tidak adalah ada atau tidaknya niat. Kalau semua niat baik diadakan dlm satu amal, itu mungkin dilakukan.

Analoginya, kalo amal itu sebuah corong, catatan amal itu seperti tangki bensin, maka niat ini adalah bensinnya. Biar bensin bisa masuk tangki dgn tepat, maka perlu corong. Karena corong itu pangkal mulutnya besar, maka memungkinkan kita memasukkan berliter-liter bensin ke dalam tangki. Kalo kita isi setetes demi setetes, ya makan waktu yg lama.

Nah, seperti kita tahu, sering satu amal sholeh itu punya dimensi keutamaan yg banyak. Hal ini kebanyakan dibeberkan oleh Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam keterangan terpisah. Kalau semua keutamaan satu amal tersebut kita kumpulkan dalam niat satu amal tersebut, keutamaan amal itu bisa dicapai semua.

Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW

إن الملائكة ترفع صحيفة عمل العبد فيقول الله تعالى : 《ألقوها، فإنه لم يرد بها وجهي، واكتبوا له كذا وكذا》. فتقول الملائكة : إنه لم يعمل منها شيئا. فيقول الله عز وجل : 《إنه نواه، إنه نواه》

“Malaikat membeberkan catatan amal seorang manusia di hadapan Gusti Allah. Kemudian Gusti Allah berfirman 《Koreksi catatan amal itu, sebenarnya orang itu tidak hanya bermaksud demikian di hadapan-Ku, tambahkan tulisan di catatan amalnya begini, begini dan begini》. Malaikat heran : Lho, Gusti, orang ini tidak beramal demikian. Jawab Gusti Allah 《Tidak, orang ini benar-benar berniat demikian, orang ini benar-benar berniat demikian》”

Di situ jelas disebutkan bahwa dalam catatan amal, orang itu tidak beramal demikian. Tapi gara2 ada niat yang banyak, amal yang satu itu berbunga dan berkembang jadi banyak amal. 

Nah, lewat gerakan satu amal berjuta niat ini kesempatan kita buat memenuhi catatan amal dgn amal baik biar pantes dapet ridho dan hidup senang di akhirat, walau amal kita terlihat remeh, mbah.

Setelah mengetahui prioritas, menurut Imam Ghozali, agar punya niat yang lurus adalah memunculkan rasa gembira, semangat dan senang. Rasa senang ini elemen penting yg mengantarkan kita untuk niat beramal dgn ikhlas.

Karena kalo masih lesu trus dipaksa beramal, nanti ada rasa jengkel dalam beramal. Niat pun cuma basa-basi akibat belum timbul rasa amal itu sbg kebutuhan mendesak. Niat disertai rasa jengkel ini tandanya gak ikhlas. Akibatnya di pikiran, amal jadi semacam problem, tentu gak ada harapan diterima amalnya.

Analogikanya kayak seorang yg sakit harus menghindari makanan tertentu dan menambah porsi makanan tertentu biar obat yg diberikan itu bisa bekerja maksimal. Sehingga kesembuhannya bisa diharapkan.

Misal kalo orang bangun tidur, trus terdengar adzan, jangan dipaksa buat sholat. Mending disuruh ngopi2 dulu atau guyon2 dulu sejenak, biar fisik dan hatinya bangun. Sehingga saat ibadah nantinya itu full power. Ibadah yg full power ini kemungkinan besar diterima.

Itulah kenapa doa buruk itu lebih cepat diterima daripada doa baik. Karena doa buruk biasanya muncul dari hati yg marah sepenuh hati, full power emosinya, tulus gak pakek tapi. Dan manusia itu cenderung ikhlas kalo pake emosi. Karena ikhlas, maka cepat diterima. 

Sedangkan doa baik biasanya gak sepenuh hati. Kadang terselip berharap imbal balik. Artinya gak ikhlas. Makanya sulit keterima.

Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW

فليعبد أحدكم ربه طاقته، إن الله لا يمل حتى تملوا

“Maka mengabdilah pada Tuhan sesuai kemampuan kalian, Sesungguhnya Gusti Allah tidak akan bosan dengan ibadahmu, malah kamu yang akan bosan sendiri dan kehilangan semangat”

Artinya, kalo mau muncul ikhlas, kita wajib beribadah dengan cara yg mudah dijangkau, adanya gairah, ada semangat, muncul rasa senang dan bahagia. Jangan sampai beramal atas dasar keterpaksaan dan akhirnya mempersulit diri, sementara tubuh dan pikiran belum siap. 

Dawuh Sayyidina Ibnu Darda’ RA,

إني لأستجم نفسي بشيء من اللهو فيكون ذلك عونا لي على الحق

“Sesungguhnya saya selalu menghabiskan waktu bersenang-senang dengan hobby saya, hingga timbul rasa bosan dan jengkel dgn hobby itu karena sudah menyita waktu untuk melaksanakan kewajiban”

Sayyidina Ali Karomalluhu Wajhah dawuh,

روحوا النفوس، فإنها إذا أكرهت عييت

“Puaskan jiwamu dulu, sesungguhnya saat ada kejengkelan maka lemah semangatnya”

Jadi, sebelum niat beramal, kita bangun rasa gembira, semangat dan senang agar muncul rasa butuh untuk beramal. Hilangkan dulu rasa jengkel, lesu dan loyo. Sehingga jiwa raganya seger, siap niat beramal.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *