Diceritakan: Sang perindu; Rabi’ah Al-‘Adawiyyah setiap kali malam mulai menampakan gelapnya, ia perindah pakaiannya, demi bergegas menemui kekasihnya, dia ucapkan kalimat sakral, sebagai izin untuk bertemu Tuhannya: “Allah-u Akbar”, dia telah mulai, bercengkrama dengan sang kekasih. 

Tubuhnya terlihat berada di atap rumahnya, sejatinya, ruh Rabi’ah berada di tempat indah nan suci, ia mulai menjalani indahnya hubungan dia dengan Tuhannya. Usai shalat isya, menunaikan kewajiban, ia asik dengan munajat. 

إلهي، غابت النجوم، و نامت العيون، و غلقت الملوك ابوابها، و خلا كل حبيب بحبيبه، و هذا مقامي بين يديك.

Duhai Tuhanku, 

Bintang-bintang sudah meredupkan cahayanya.

Mata para manusia sudah menutup kelopaknya. 

Para penguasa juga mulai merapatkan pintunya. 

Dan setiap kekasih sedang bermesraan dengan kekasihnya, 

Ini lah tempatku, bermunajat diantara pangkuanmu.

Pujian-pujian terus mengalir dari lisan Rabi’ah, cinta memenuhi seluruh relung hatinya, semua kalimat indah sudah ia persiapkan untuk ia persembahkan kepada Tuhannya. Namun, dunia ini bukanlah tempat keabadian, malam tidak selamanya ada, pada waktunya, mentari akan memberi tanda ia akan datang, ayam jantan mulai berkokok, dan fajar pun mulai menampakan sinarnya.

Rabi’ah berkata:

هذا الليل قد ادبر، و هذا النهار قد اسفر، فليت شعري أقبلت مني ليلتي، فأهنى أم رددتها علي فأعزى،و عزتك لو طردتني عن بابك ما برحت عنه لما وقع في قلبي من محبتك.

Malam ini mulai hilang,

Sedangkan siang sudah mulai tampak, 

Jika saja malam ini engkau Terima, 

Betapa bahagianya aku, 

Namun, jika engkau tolak, betapa celakanya aku. 

Demi kemuliaan engkau, seandainya engkau usir diriku dari pintu harapanmu, 

Aku tidak akan pergi dari kasihmu, meski hanya selangkah, 

Karena cinta, telah memenuhi seluruh cela dihatiku. 

Berada di titik klimaks cinta, air mata yang dari tadi mengalir terus mengalir bagai mata air yang tak kunjung kering, Rabi’ah belum puas dengan curhatan yang ia utarakan dengan kekasihnya, semua kenikmatan yang Tuhan berikan, belum dibalas dengan ucapan terima kasih yang sepenuh hati, kenikmatan munajat itu, ia tutup dengan untaian puisi cinta yang mengalir dari dermaga rindu:

يا سروري و منيتي و عمادي # و أنيسي و غايــتي و مرادي

انت روح الفؤاد انت رجائي # انت لي مؤنس و شوقك زادي

O, Senang dan harapanku, sandaran sekaligus temanku, engkau puncak dari keinginanku. 

Engkau adalah ruh kalbuku, harapan dan teman dalam sendiriku, kerinduan kepadamu yang menjadi bekal hidup dan matiku. 

انت لولاك يا حيائي و أنسي # مـا تشـتت في فــسيح البــلاد

كم لك مــنه و كم لك فــضل  # من عــطاء و نــعمة و ايــادي

Engkau, seandainya bukan karena engkau, aku tidak akan pergi mengelilingi dunia yang luas. Sudah berapa banyak pemberian untuk ku, hadiah, kenikmatan dan kebaikan yang kau berikan kepadaku. 

حـبك الآن بــغيتي و نعيمي # و جــلاء لعيـن قلـبي الصــادي

ان تكن راضـــيا علي فإني # يا منى القلــب قـد بدا اســـعادي

Saat ini, hanya cinta Engkau yang menjadi cita dan kenikmatanku, juga sebagai penerang mata hatiku yang berkarat. Jika saja Engkau ridha kepada ku, betapa bahagianya aku, wahai harapan hati, telah nampak kebahagiaanku. 

Diserap dari Syarah Lamiyah Ibn Al-Wardi hal 22

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *