Sayyidina Zaid bin Haritsah adalah salah satu pemeluk Islam paling awal dari kalangan bekas budak (mawla) Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sayyidina Zaid menjadi satu-satunya sahabat Kanjeng Nabi yang disebutkan namanya dengan jelas dalam Al Quran Surat Al Ahzab ayat 37.

Sayyidina Zaid bernama panjang Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka’ab bin Abdul Uzza bin Umru’u Al Qois  bin Amir bin An Nu’man bin Amir bin Abdu Wudd bin Auf bin Kinanah bin Bakr bin Auf bin Udzrah bin Zaidullah bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabaroh. 

Semasa kecil, Zaid diculik dan ditawan oleh satu kabilah yang menyerang desa Bani Ma’n, tempat tinggalnya. Karena pada saat itu masih masa perbudakan, maka para tawanan dijual sebagai budak di pasar ‘Ukadz. Tidak terkecuali si Zaid kecil.

Ayah Zaid, Haritsah bin Syurahbil, tentu sangat sedih karena kehilangan anak. Beliau menggubah syair yang begitu menyayat. Gambaran seorang ayah yang kehilangan anak. Syairnya kalau diterjemahkan :

Aku menangis karena Zaid, dan aku tidak tahu apa yang dia kerjakan  

Apakah dia masih hidup hingga bisa diharapkan ataukah ajal telah datang kepadanya? 

Demi Allah, aku tidak tahu, namun aku pasti akan mengembara mencarinya

Apakah sepeninggalku, dataran rendah telah membinasakanmu ataukah gunung yang membinasakanmu?  

Duhai syairku, apakah zaman mempunyai angin?  

Cukuplah dunia bagiku, jika engkau kembali kepadaku  

Ketika matahari terbit, dia mengingatkanku kepadanya 

Dia menghadirkan ingatan kepada Zaid ketika ia teibenam 

Jika angin bertup, angin tersebut menggerakkan ingatan tentang dia  

Duhai lama nian kesedihanku karena dia  

Aku akan duduk di atas unta pilihan berjalan ke bumi dengan sungguh-sungguh 

Aku tidak bosan mengembara dan unta tidak bosan menjelajah  

Duhai kehidupanku, atau kematian datang kepadaku  

Semua orang akan mati, kendati ia tertipu oleh angan-angan kosong 

Sementara nasib Zaid bin Haritsah, dikisahkan bahwa ada seorang bernama Hakim bin Hizam bin Khuwailid datang dari Syam dengan membawa budak-budak. Di antaranya Zaid bin Haritsah dan anak kecil yang belum baligh. 

Kemudian bibi Hakim, Sayyidah Khodijah binti Khuwailid, istri  Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallama bertandang ke rumahnya. Hakim berkata kepada Siti Khodijah, “Bibi, pilihlah mana di antara dua orang tersebut yang anda sukai, maka saya hadiahkan untuk anda”.

Sayyidah Khodijah memilih Zaid kemudian mengambilnya. Kanjeng Nabi SAW mengetahui Siti Khodijah mempunyai budak baru bernama Zaid. Lalu Beliau SAW meminta Siti Khodijah menghadiahkan Zaid kepada beliau.  

Khadijah pun menghadiahkan Zaid  kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kemudian Kanjeng Nabi Muhammad SAW memerdekakan  Zaid dan mengadopsinya jadi anak angkat. 

Ini terjadi sebelum wahyu turun kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Satu hari, Haritsah, ayah kandung Zaid, mendengar bahwa Zaid hidup dan menjadi anak angkat keluarga Sayyidina Muhammad SAW. Gak pake lama, Haritsah langsung menemui Zaid di rumah Kanjeng Nabi SAW. Haritsah memperkenalkan diri sebagai ayah kandung Zaid kepada Kanjeng Nabi dan menceritakan asal mula kenapa Zaid bisa terpisah dengan dirinya.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW pun bersabda kepada Zaid, “Jika kamu mau, silahkan kamu tetap tinggal bersamaku. Atau jika kamu mau, silahkan pulang dengan ayahmu!” 

Zaid menjawab pertanyaan Kanjeng Nabi, “Aku lebih suka tinggal bersamamu, Yaa Abal Qosim”

Hal ini karena Zaid merasa selama ini sangat nyaman tinggal di lingkungan keluarga Sayyidina Muhammad. Zaid merasa perlakuan Sayyidina Muhammad sangat baik, penuh kasih sayang dan tidak membedakannya dengan anak kandung beliau. Sayyidina Zaid sangat mengetahui keluhuran akhlaq Kanjeng Nabi, baik saat menjadi tuan, ayah dan pemimpin keluarga.

Maka sejak saat itu, Sayyidina Zaid tinggal bersama keluarga Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tak heran, saat wahyu turun kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Zaid langsung tanpa ragu membenarkan Beliau SAW, menjadi salah satu orang yang masuk Islam pertama kali dan sholat bersama Beliau SAW.

Saat Gusti Allah menurunkan ayat,  

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ

“Panggillah mereka dengan menggunakan nama ayah-ayah mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah” (Al-Ahzab: 5).  

Sayyidina Zaid pun berkata, “Aku Zaid ibnu Haritsah.”

Dengan begitu, Zaid tidak melupakan siapa dia dan dari siapa asal-usulnya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *