Oleh: Agus Sunyoto
Pasuruan adalah kota pelabuhan kuno yang di jaman Airlangga disebut Paravan, yang semakna dengan nama Ayodhya. Di dalam Negarakretagama Pasuruan disebut sebagai salah satu tempat yang dilewati iring-iringan rombongan Raja Majapahit Hayam Wuruk dalam perjalanan ke timur (Riana,2009), namun tidak terdapat keterangan siapa penguasa bawahan Majapahit yang berkuasa di tempat itu.
]Dalam Negarakertagama, pupuh 35 disebutkan: “Sampai Paravan (Pasuruan menyimpang jalan keselatan menuju Kepanjangan mengikuti jalan raya, kereta berjalan beriringan ke Andoh Lawang ke Kedung Peluk dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Selanjutnya Baginda menuju Singasari dan bermalam di balaikota.”]
Pada paruh pertama abad ke-16 – sampai setelah runtuhnya Majapahit 1527 Masehi – Pasuruan dipimpin oleh Raja Garuda (Gamda) bernama Menak Supethak, putera Patih Majapahit, Mahudara. Menurut Tome Pires (1944) Menak Supethak diketahui sebagai pendiri ibukota Pasuruan dan dikenal memerangi penguasa Surabaya dan menghalangi penyebaran Islam di wilayah timur.
Menak Supethak sangat berkuasa karena menjadi menantu Adipati Menak Pentor Blambangan (1500-1531) dan ayah dari Adipati Dengkol. Serat Kandhaning Ringgit Purwa menuturkan bagaimana Menak Supethak dan puteranya, Adipati Dengkol membantu saudaranya, Raden Pramono menyerang dan menguasai Kadipaten Sengguruh.
Menurut Babad Sangkala Pasuruan jatuh pada tahun 1535 Masehi setelah diserang pasukan Demak di bawah Sultan Trenggana. Pasuruan kemudian dimasukkan ke dalam wilayah Madura, Sumenep, Sidayu,dan Gresik yang dipimpin oleh menantu Sultan Trenggana, Aria Pojok yang bergelar Ki Demang Laksamana. Pada masa Demak jatuh setelah terbunuhnya Sultan Trenggana pada 1546 dalam penyerbuan ke Panarukan, Pasuruan di bawah kekuasaan keturunan Ki Demang Laksamana.
Menurut Hageman (1852) pada saat Pajang memperluas wilayah ke timur, Pasuruan di bawah kekuasaan Panembahan Lemah Duwur, keturunan Ki Demang Laksamana. Sedang menurut Padmasoesastra (1912), Panembahan Lemah Duwur adalah menantu Sultan Pajang.
[Diketahui Pangeran Arosbaya putra Ki Demang Laksamana mempunyai 2 orang putra yaitu Pangeran Langgar Jamburingin dan Pabembahan Lemah Duwur. Pangeran Arosbaya menikahkan Pangeran Langgar Jamburingin dengan Ratu Pembayun, putri Sultan Trenggono dan melahirkan Ratu Harisbaya yang diperistri oleh Panembahan Ratu dari Cirebon. Adapun Panembahan Lemah Duwur (1531-1592) dinikahkan dengan salah putri Sultan Hadiwijaya dan melahirkan Raden Koro/Pangeran Tengah (1592-1621) ayah dari Raden Prasena /Cakraningrat 1 (uwak Trunajaya).]
Pada masa Mataram awal, Pasuruan memiliki wilayah sampai jauh ke pedalaman. Babad Sangkala menyebut bahwa pada tahun 1501 Jawa (1579 Masehi) orang-orang Pasuruan menyerang dan menghancurkan Kediri. Menurut Babad Tanah Jawi dan Babad Sangkala, sebelum Pasuruan ditundukkan Mataram terjadi pertarungan antara Bupati Keniten, bawahan Adipati Pasuruan dengan Panembahan Senapati di Kali Dadung (Madiun) pada tahun 1513 Jawa atau 1591 Masehi.
[Diketahui beberapa bupati yang bersekutu dengan Panembahan Madiun (putra bungsu Sultan Trenggono) di Purabaya yang tidak tunduk pada kekuasaan Mataram waktu itu adalah Surabaya, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Kedu, Brebek, Pakis, Kertosono, Ngrowo (Tulungagung), Blitar, Trenggalek, Tulung (Caruban), dan Jogorogo.]
C.C.Berg dalam disertasi berjudul De Middlejavaansche historische traditie (1927) mengutip sumber Kidung Pamancangah tentang serangan Maharaja Bali Di Made (1623-1642) dari kerajaan Gelgel yang mengirimkan 20.000 orang pasukan untuk menyerang tentara Mataram di Pasuruan dibawah pimpinan seorang panglima asal Tabanan, Ki Gusti Wayahan Pamadekan (raja bawahan dari Tababan).
[Dari sumber: Hans Hägerdal, “‘From Batuparang to Ayudhya; Bali and the Outside World, 1636-1656”, Bijdragen tot de Taal-, Land en Volkenkunde 154 1998, pp. 70-1. diketahui bahwa Kerajaan Gelgel mengklaim Blambangan di Jawa Timur, Lombok, dan Sumbawa (termasuk bagian timurnya, Bima) termasuk wilayah kekuasaannya di tahun 1630-an.]
Di dalam Babad Arya Tabanan disebutkan bahwa Ki Gusti Wayahan Pamadekan atau Angrurah Wayahan Pamadekan diperintahkan oleh Dalem Di Made di Sukasada untuk menyerang Jawa bersama adiknya, Ki Gusti Made Pamadekan atau Kyai Ngurah Pacung. (Keduanya adalah putra Ki Gusti Ngurah Tabanan’Prabu Winalwan/Betara Mekules).
Dalam pertempuran hebat dengan pasukan Mataram di Pasuruan, yang terjadi pada tahun 1635 Masehi itu dikisahkan Kyai Ngurah Pacung mundur bersama pasukannya. Sedang kakaknya, Ki Angrurah Wayahan Pamadekan yang tubuhnya kebal senjata berhasil ditawan oleh Mataram dan kemudian diambil menantu oleh Sultan Agung (1613-1646) dari Mataram, memiliki putera bernama Raden Tumenggung, yang kelak menjadi tokoh yang diketahui bernama Ki Dermayuda.
Tidak ada keterangan apakah setelah menjadi menantu Sultan Mataram Ki Angrurah Wayahan Pamadekan diangkat menjadi penguasa Pasuruan, namun pada masa Amangkurat I Bupati Pasuruan adalah putera Kyai Dermayuda, yang dilanjutkan oleh Anggajaya, yang menurut sumber-sumber Belanda adalah orang Bali.
Ini bisa bermakna, Ki Angrurah Wayahan Pamadekan setelah memeluk Islam dan diangkat menjadi Bupati Pasuruan menggunakan nama Ki Dermayuda, yang digantikan puteranya, Ki Dermayuda II. Anggajaya, kiranya adalah putera Ki Dermayuda II, jadi wajar jika oleh Belanda tokoh Anggajaya ini disebut orang Bali dan diangkat menjadi Bupati Pasuruan pada Mei 1680 berurutan dengan pengangkatan kakaknya, Anggawangsa, yang menjadi Bupati Surabaya bergelar Jangrana (De Graaf, 1989).
Dalam Inkomend Briefboek tertanggal 24 April 1686 yang tersimpan di Jepara terdapat laporan bahwa Surapati sudah membangun pangkalan di Pasuruan. Sunan Amangkurat II secara kurang sungguh-sungguh mengusir Surapati dari pangkalannya justru di Besuki. Lalu Sunan memerintahkan Cakraningrat untuk menertibkan keadaan.
Sunan juga dilaporkan memrintahkan Pangeran Nerangkusuma, Puger, Panular, dan Raden Martawijaya untuk mengepung Surapati. Anehnya, Surapati justru lolos karena membawa surat jalan atas nama Sunan, sehingga berhasil lolos menyeberangi sungai Brantas di Kediri, selanjutnya lewat Wirasaba menuju Bangil dan menyerbu Pasuruan. Bupati Pasuruan Anggajaya dilaporkan lari ke Surabaya dan Pasuruan diduduki Surapati yang mengangkat diri menjadi raja dengan gelar Raden Aria Wiranegara.
Dalam Inkomend Briefboek tertanggal 28 Mei 1686 disebutkan bahwa Jayalelana, Adipati Banger (Probolinggo), dan Bupati Bangil, Wirasuta, bergabung dengan Surapati.
Kabupaten Bangil
Sebagai sebuah wilayah, Bangil adalah daerah hunian yang sangat tua yang terbukti dengan sisa-sisa arkeologi dari kebudayaan jaman batu dari era Paleolithikum sampai Megalithikum seperti alat-alat batu yang ditemukan di hulu Sungai Welang di Purwodadi, menhir di dusun Betro Desa Wonosunyo, punden berundak-undak di lereng Gunung Penanggungan yang disebut candi Kendalisada, prasasti Gulung-gulung dari era Pu Sindok bertarik 20 April 929 Masehi, Prasasti Cungrang yang juga dari era Sindok, sampai Candi Jalatunda dan Belahan dari era Airlangga pada perempat awal abad 10.
Di dalam naskah Tantu Panggelaran disebutkan bahwa sewaktu Bhattara Parameswara mengembangkan Agama Hindu dengan membuka caturbhasa mandala di Sagara, Sukayajna, Kukub, dan Kasturi yang sebagian lokasinya terletak di wilayah Bangil.
Meski wilayah tua, nama Kabupaten Bangil secara eksplisit baru disebut secara formal dalam laporan harian (daghregister) VOC selama pemberontakan Trunojoyo pada paruh kedua dekade 1670-an Masehi. Menurut Sejarah Dalem, di Pasuruan terdapat Kadipaten Kapulungan yang Adipatinya – disebut Ki Gede Kepulungan – akan diambil menantu oleh Sultan Pajang. Orang-orang taklukan dari dekat Bangil yang dibawa ke Mataram pada jaman Sultan Agung, disebut Wong Gajah Mati (dari daerah Gajah-pen).
Menurut laporan harian (daghregister) tertanggal 7 Maret 1675, Gerongan, Pelabuhan Bangil yang merupakan pelabuhan beras terbesar, jatuh ke tangan pemberontak Makassar di bawah Karaeng Galesong. Kapten Jan Franszen melaporkan bahwa dalam rangka menumpas Trunojoyo dan sekutunya, Karaeng Galesong, panglima Mataram Kiai Panji Karsula berencana akan pergi ke Sidakare (Sidoarjo) dan Bangil. Pada akhir April 1676, Bangil berhasil diduduki.
Pembentukan Kabupaten Bangil kemungkinan berkaitan dengan perjanjian antara Kompeni dengan Mataram tahun 1677 tentang ganti rugi atas biaya-biaya yang telah dikeluarkan kompeni selama peperangan membantu Mataram, yang harus dibayarkan pada Desember 1678, di mana Sunan Amangkurat II dengan terpaksa membayar ganti rugi kepada kompeni itu dengan menyerahkan pelabuhan Gresik, Surabaya dan Pasuruan (Balitbangda Kab.Gresik, 2008).
Catatan panjang-lebar kompeni tentang permainan ‘sandiwara’ Sunan Amangkurat II yang diam-diam berperan dalam kemunculan Surapati sebagai Adipati Pasuruan, yang didukung Bupati Banger (Probolinggo) Jayalelana, dan Bupati Bangil, Wirasuta, yang dianggap mengganggu pelabuhan Pasuruan yang sudah menjadi milik kompeni,dapat dilihat sebagai ketidak-tulusan Sunan melepas Pasuruan dan Surabaya.
Hadiah 1000 ringgit yang dijanjikan Jan Struys, Residen Surabaya, bagi siapa saja yang dapat menangkap Surapati ternyata tidak membuat Bupati Jayalelana dan Bupati Wirasuta tertarik, sebaliknya malah memihak Surapati. Dan selama Amangkurat II berkuasa, Surapati tetap tidak terkalahkan oleh kekuatan gabungan Mataram dan kompeni.
Pada masa kekuasaan Pangeran Puger yang bergelar Pakubuwono I yang didukung kompeni, pemberontakan Surapati berhasil dipatahkan pada tahun 1707 Masehi, terutama setelah Mataram mengerahkan bantuan dari berbagai kabupaten untuk mendukung kompeni menumpas kekuatan Surapati.
Atas persetujuan kompeni, Sunan Pakubuwono I pada tahun 1707 Masehi mengangkat dua orang putera Bupati Gresik, Kyayi Tumenggung Pusponegoro, yaitu Kyayi Tumenggung Puspodirjo sebagai Bupati Bangil dan Kyayi Tumenggung Puspodirono sebagai Bupati Pasuruan. Bupati Puspodirjo berkuasa di Bangil sangat lama, yaitu sampai tahun 1740.
Menurut Serat Kekancingan Ngewrat Silsilah Putra Wayah Tedhak Turunipun Kjaji Toemenggoeng Poesponegoro Bupati gresik kaping I (1688-1696), keturunan Kyayi Tumenggung Puspodirjo yang menjadi bupati dan pejabat di Kabupaten Bangil adalah: Mas Ngabehi Puspodirono, putera Kyayi Tumenggung Puspodirjo (Patih Bangil), Kyayi Sutaprana (Sahbandar Bangil, menantu Kyayi Tumenggung Puspodirjo), R.T.A.Notoadiningrat (Bupati Bangil, putera Mas Ngabehi Puspodirono), R.A.Kromojoyo Adinegoro (Bupati Bangil, menantu Mas Ngabehi Puspodirono), Mas Ngabehi Kromodipuro (Patih Bangil), Mas Ngabehi Wiryodipuro (Wedana Gempol), Ngabehi Sasrawijaya (Letnan Infanteri Barisan Jawa Bangil), Ngabehi Puspoyudo (Demang Kepulungan), Ngabehi Sumodirejo (Aris Kejapanan), Ngabehi Puspodiwongso (Demang Kepulungan), Mas Ngabehi Kromoadikusumo (Aris Kejayan).
Sumber dari Serat Kekancingan ini bersesuaian dengan Regering Almanaak yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda yang menyebutkan nama-nama dan jabatan-jabatan Resident, Assistant Resident, Regent (Bupati), Patih, Jaksa, Sipir Penjara, dll.
Dalam Regerings Almanak tahun 1829, misal, disebutkan bahwa Radeen Tommongong Notto Adie Ningrat adalah Regent van Bangil, berurutan dengan nama Radeen Adipatie Nitie Adie Ningrat Regent van Passaroean. Sebelum Noto Adiningrat, Ragent van Bangil (Bupati Bangil) menurut Regerings Almanak adalah Raden Adipati Kromo Joijo Adi Negoro.
Sampai masuk awal abad ke-20 Kabupaten Bangil tetap terpisah dari Kabupaten Pasuruan. Berdasar Regerings Almanak tahun 1934, disebutkan bahwa Bangil adalah Regentschap Bangil (Kabupaten Bangil) dan yang menjabat Regent van Bangil adalah Raden Adipati Ario Harsono (pensiun tahun 1915), yang menjabat Patih adalah Raden Drajat (pensiun tahun 1931), Regentschaps Secretaris 2dee klasse (Sekkab Kelas 2) Mas Singgih (pensiun tahun 1930), dengan tiga daerah kawedanan yaitu Kawedanan Bangil (jabatan dirangkap Patih, Raden Drajat), Kawedanan Poerworedjo (dijabat Mas Ngabehi Soebirman Koesoemodiprodjo, pensiun 1934), Kawedanan Pandakan (dijabat Mas Soedarmo Notoamidarmo, pensiun 1934).
Adapun masyarakat Arab di Bangil dipimpin oleh Luitenant der Arabieren Sech Mohamad bin Salim bin Naphan. Itu artinya, pada saat pengembangan Kabupaten Pasuruan ditetapkan oleh pemerintah colonial Belanda 1 Januari 1901 M berdasar Staatblad 1900 No.334 dan pembentukan Kota Pasuruan pada 1 Juli 1918 M berdasar Staatblad 1918 No.320, Regentschap Bangil masih eksis sebagai kabupaten.
Kepustakaan
Babad Arya Tabanan dan Ratu Tabanan: – Terj. A.A.Gde Darta , dkk, Denpasar, Upada Sastra, 1989
Babad Sangkala: – Naskah di Museum Nasional Jakarta Koleksi Brandes No.608.
Babad Tanah Djawi: – Terbitan Balai Pustaka tahun 1934-1941, 24 Jilid.
Berg, C.C., De Middeljavaansche historische traditie, Santpoort, 1927,
Graaf, H.J.de, Terbunuhnya Kapten Tack: Kemelut di Kartasura Abad XVII, Jakarta: Grafitipers,1989
Hageman,JCzn.J, Hanleiding tot de kennis der geschiedenis, aardrijkskunde, fabelleer en
tijdrekenkunde van Java, 2 Jilid, Batavia, 1852.
Padmasoesastra, Ki., Sadjarah Dalem pangiwa lan panengen, wiwit saka Kandjeng Nabi Adam
toemeka Karaton Soerakarta lan Ngajogjakarta Adiningrat, Semarang-Soerabaja, 1912.
Pires, Tome, Suma Oriental (ed.& translated by Armando Cortesao), London: Hakluyt Society, 1944.
Regerings Almanak 1829, 1934.
Riana, I Ketut, Kakawin Desa Warnnana Uthawi Nagara Krtagama, Jakarta, Gramedia: 2009.
Serat Kandha:- Naskah di Museum Nasional Jakarta Koleksi KBG.No.540
Serat Kandhaning Ringgit Purwa: – Menurut Naskah Tangan LOr.6379 (disalin R.S.Subalidinata &
I.Supriyanto), 9 jilid, diterbitkan Djambatan tahun 1985.
Serat Kekancingan Ngewrat Silsilah Putra Wayah Tedhak Turunipun Kjaji Toemenggoeng
Poesponegoro Bupati Gresik Kaping I (1688-1696), kawedalaken dening YKB PKG KT
Poesponegoro Surabaya, 2010.
Tantu Panggelaran: – Naskah di Museum Sonobudoyo Jogjakarta No.S-6.
Tim Peneliti Balitbangda Kab.Gresik, Kajian Sejarah Kyai Tumenggung Pusponegoro Bupati Gresik,
Gresik: Balitbangda Kab. Gresik, 2008.

No responses yet