Sebentar lagi kita akan memasuki bulan puasa, Mbah. Yaitu Bulan Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat. Sehingga wajib bagi semua muslim untuk melaksanakannya.
Nah, biar puasanya sah, lancar dan gak kuper2 amat tentang puasa, maka kita perlu mengetahui tentang ilmu puasa dan wawasan seputar puasa. Untuk tulisan saya seputar puasa, saya kasih tagar #IlmuKetahuanPuasa biar ntar gampang nyarinya. Itung2 juga mengingat lagi biar ilmunya nempel terooos.
Puasa Ramadhan diwajibkan atau difardhukan pada bulan Sya’ban tahun 2 Hijriyah. Setelah mendapat perintah kewajiban, Kanjeng Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama sempat berpuasa sebanyak 9 (sembilan) kali bulan Ramadhan. Sekali beliau SAW berpuasa 30 hari, sisanya beliau berpuasa 29 hari.
Ini dikutip dari kitab Fiqihus Shiyaam, karya Mbah Syaikh Muhammad Hasan Hito digabung dengan cerita yang saya ingat dari guru saya. Menurut beberapa sumber para Imam hadits, pada mulanya Kanjeng Nabi mensyariatkan puasa 3 hari tiap bulan juga puasa Asyura’. Hukumnya pun belum wajib, siapa yang mau puasa ya puasa kalo nggak, ya nggak. Lalu turun surat Al Baqarah ayat 183-184 “.. Kutiba alaikumus shiyaam.. dst”.
Tapi karena ayatnya masih umum dan masih belum ditentukan waktu yang pasti, maka muslimin waktu itu tidak seragam waktu puasanya. Pokoknya puasa beberapa hari di sembarang bulan, itu sudah mencukupi kewajiban. Ada pula muslimin yang tidak puasa sama sekali namun memberi makan orang miskin dengan ukuran tertentu, sesuai ayat tersebut.
Lalu turun surat Al Baqarah ayat 185 “Syahru Ramadhanal ladzii unzila fiihil qur’an.. dst”. Dari situ, waktu puasa wajib akhirnya diseragamkan, yaitu pada bulan Ramadhan. Lalu ditetapkan bahwa hukumnya wajib berpuasa bagi siapa saja yang melihat munculnya hilal bulan Ramadhan, selama dia sanggup berpuasa dan memenuhi syarat puasa. Bila tidak, baru menggantinya di hari yang lain dan/atau membayar fidyah.
Sedangkan puasa di hari lain tetap disyariatkan, tidak dicabut, namun sebatas puasa tathowwu’ atau sunnah. Dari situ hukum puasa terus disempurnakan dengan ayat-ayat selanjutnya di surat yang sama hingga dijabarkan lebih lanjut oleh Kanjeng Nabi tentang keutamaannya dan hukum-hukum yang lain. Sehingga jadilah bulan puasa wajib itu hanya puasa Ramadhan, sedang yang lain dihukumi sunnah seperti yang kita amalkan selama ini.
Di awal-awal diwajibkannya puasa Ramadhan, orang yang berpuasa diperbolehkan makan, minum dan berhubungan seksual hanya mulai dari waktu isya’ hingga waktu dia tertidur. Sehingga ada shahabat yang sholat Isya’ lebih awal, lalu tertidur, tidak sempat makan minum, boro-boro berhubungan seksual, mbah.
Dengan waktu puasa sangat panjang seperti itu, sangat menyulitkan bagi para shahabat untuk melakukan puasa. Apalagi iklim Arab bila malam tiba, dengan udara dinginnya, sangat mudah membuat orang mengantuk hingga tidak sempat makan, minum dan berhubungan seksual dengan semestinya. Maka banyak yang memilih membayar fidyah daripada melakukan puasa.
Hal ini dikeluhkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad, seperti salah satunya keluhan dari Sayyidina Umar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Maka turunlah Surat Al Baqarah ayat 187 yang menghapus cara puasa yang demikian. Maka sejak itu, waktu puasa adalah mulai munculnya fajar hingga terbenam matahari. Setelah matahari terbenam, orang yang berpuasa diperbolehkan makan, minum dan berhubungan seksual dengan istrinya hingga terbit fajar. Seperti waktu puasa yang seperti kita jalankan sekarang.
Ramadhan adalah bulan ke 9 dalam kalender Hijriyah. Ramadhan, yang dalam arti bahasa berarti waktu-waktu yang sangat terik atau waktu puncaknya musim panas. Ramadhan juga dimaknai yang membakar. Syaikh Ahmad Muqri pengarang kitab Al Misbah dawuh, “Ramadhan adalah nama bulan. Bulan tersebut dinamakan “Ramadhan” karena asalnya dari kata “Ar Romadho” yang berarti sangat panas”.
Dalam perputaran musim di Arab, ketika Ramadhan tiba adalah saat puncaknya musim panas. Sumur-sumur mengering sehingga sering terjadi pertikaian antar suku Arab jahiliyah untuk memperebutkan sumur dan wadhi.
Oleh Gusti Allah, dalam Bulan Ramadhan diturunkan Al Qur’an kepada Kanjeng Nabi Muhammad lalu ditekankan dalam awal Surat Al Baqarah 185, sebagai bulan turunnya Al Qur’an sebagai pembeda yang baik dan yang bathil. Maka untuk memuliakan peristiwa tersebut, ditetapkan kewajiban berpuasa dalam Bulan Ramadhan dengan harapan hal-hal buruk yang sering terjadi di bulan itu bisa diredam untuk menghormati waktu di mana diturunkannya Al Qur’an. Jadi kasarannya, bulan Ramadhan adalah bulan ulang tahun Al Qur’an, kita diperintahkan untuk memuliakannya dengan puasa wajib dan ibadah lainnya.
Ramadhan juga dimaknai sebagai bulan yang membakar dosa-dosa bagi yang mau memanfaatkannya. Dalam Tuhfatul Khabib didawuhkan, “Bulan ini disebut dengan bulan Ramadhan karena kata “Ramadhan” diambil dari kata “Ar Romadho” yang berarti membakar karena bulan Ramadhan adalah membakar dosa-dosa”.
Maka tidak heran para ulama disebut tidak pernah atau jarang tidur di bulan Ramadhan. Memperbanyak ibadah dan mengaji. Dengan harapan, lewat barokah keistimewaan Bulan Ramadhan, semua dosa dihanguskan oleh Gusti Allah.
RAMADHAN, BULAN PERAYAAN AL QUR’AN
Bulan Ramadhan di jaman salaf benar-benar dirayakan sebagai bulan perayaan Al Qur’an, mbah. Teraweh di jaman salaf benar-benar dijadikan ajang pelampiasan kecintaan dengan cara pembacaan Al Qur’an sebanyak-banyaknya.
Di jaman khulafaur rasyidin, Sinuhun Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab RA memerintahkan Sayyidina Ubay bin Ka’ab RA dan seorang lagi yang juga punya pengetahuan joss di bidang Al Qur’an, mengajak kaum muslim untuk sholat teraweh berjamaah 20 rokaat. Dalam setiap rokaatnya, mereka berdua masing-masing membaca 200 ayat. Dan kaum muslimin sangat menikmati teraweh berjamaah sepanjang itu dan baru selesai sekitar akhir malam menjelang sahur.
Lalu di jaman ulama salaf, para ulama ada yang mengkhatamkan Al Qur’an dalam teraweh 3 hari sekali, 7 hari sekali, 10 hari sekali. Imam Ibnu Syihab Az Zuhri diriwayatkan punya kebiasaan ketika bulan Ramadhan yaitu mengkhatamkan Al Qur’an berkali-kali dan memberi makan orang-orang.
Imam Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa Imam Syafi’i sehari sekali khatam 2 kali, sehingga satu bulan Ramadhan beliau khatam 60 kali. Siang khatam sekali dan malam khatam sekali, itu yang diluar sholat. Begitu juga Imam Hanafi.
Nah, semoga umat muslim jaman sekarang bisa niru beliau-beliau para ulama generasi salaf. Mau merayakan bulan Ramadhan ini dengan ngaji dan ngaji. Kurang lancar gak usah nyerah mbah, ngaji sampek elek pokoknya.
PENYEBUTAN BULAN RAMADHAN
Ashab Madzhab Maliki memakruhkan orang yang menyebut nama “Ramadhan” tanpa dimudhofkan atau digandeng dengan kalimat “Syahru/Bulan”. Sehingga menurut Madzhab Maliki, penyebutan yang benar adalah “Syahru Ramadhan” atau “Bulan Ramadhan”. Karena menurut Ashab Madzhab Maliki, Ramadhan adalah salah satu dari asma Gusti Allah Ta’ala.
Hal ini didasarkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abu Hurairoh, bahwa Kanjeng Nabi dawuh melarang orang menyebut Ramadhan tanpa dimudhofkan dengan kalimat Syahru, karena itu asma Gusti Allah. Hendaknya, lanjut hadits tersebut, sebutlah secara lengkap “Syahru Ramadhan” atau “Bulan Ramadhan”.
Namun menurut Imam Baihaqi, Imam Nawawi dan ulama Madzhab Syafi’i, hadits tersebut dhoif sehingga hukum makruh pun teranulir. Yang membuat dhoif hadits ini, menurut Imam Baihaqi adalah masalah jalur sanad antara Imam Mujahid dan Imam Hasan ada cacatnya. Kemudian, di beberapa hadits shohih lain yang juga diriwayatkan oleh Sayyidina Abu Hurairoh, matan hadits memuat dawuh Kanjeng Nabi yang menyebut “Ramadhan” tanpa menyebut “Syahru Ramadhan”.
Namun ada juga ulama yang berpendapat dengan menafsilkan hadits tersebut, bahwa bila disebut “Ramadhan” saja dengan maksud “Bulan Ramadhan”, maka tidak makruh. Kalau sebaliknya, menyebut “Ramadhan” dengan kalimat yang ambigu, maka makruh. Misalnya menyebut, “aku puasa Ramadhan”, “aku sholat di malam Ramadhan”, “Ramadhan adalah bulan mulia”, maka itu tidak makruh. Namun kalau disebut “datang Ramadhan”, “aku suka Ramadhan”, “selamat datang Ramadhan”, maka makruh. Biar tidak makruh, maka ditambah kata “Bulan” di depan “Ramadhan”.
Nah, itu semua sekelumit fakta tentang Bulan Ramadhan di kalangan ulama.

No responses yet