Nasehat saya untuk Felix Siauw terkait bacaan al-Qur’annya, Surat al-Jumu’ah ayat pertama, yang banyak keliru itu ternyata mendapat cukup banyak tanggapan dan komentar, baik langsung maupun tidak dari para pembaca. Saya bukan hanya mendapatkan pujian, tetapi juga panen kritikan dan celaan dari para pengagumnya, mulai dari yang disampaikan dengan sindiran hingga yang tidak sopan. Mendapat pujian, popularitas, atau menghindari kritik dan celaan sama sekali bukanlah tujuan hidup saya. Keduanya bisa dan biasa saya terima dengan rasa syukur dan rasa sabar.

Baca Juga : Belajar Dulu Baca Al-qur’an Dengan Benar Kepada Para Ahlinya Sebelum Menjadi Ustadz

Saya menyampaikan kritik itu karena Felix Siauw bukanlah musuh saya, melainkan karena dia saudara saya sesama muslim, sebangsa, dan sesama manusia yang beda nasab, beda nasib, beda nisab, beda pendapat, dan beda pendapatan. Semua itu saya lakukan dengan tulus dalam tiga kerangka niat, yaitu tawashaw bil-haqqi (saling menasehati untuk berlaku benar), tawashau bish-shabri (saling menasehati untuk bersikap sabar), dan tawashau bil-marhamah (saling menasehati agar berkasih sayang). Minimal agar menjadi bahan renungan bagi kita semua yang sempat membacanya.

Apa yang saya tuliskan itu hanyalah pembuktian berdasarkan data, ceramahnya di Youtube, dan tanpa sedikitpun dusta, apalagi fitnah terhadapnya, bahwa kebenaran ilmiah tidak bisa dibantah. Para pengagum Felix Siauw pun tidak mampu membelanya, kecuali hanya dengan mencaci maki saya sekenanya. Tak seorangpun di antara mereka yang sanggup menunjukkan kekeliruan tulisan ilmiah saya itu.

Kritik saya terhadapnya, dan siapa saja yang bersifat sama dengannya dalam membaca al-Qur’an, sengaja saya tuliskan di media sosial bukan dengan niat untuk mencemarkan nama baiknya, melainkan karena ceramahnya sebagai data yang saya kritisi itu juga disebarluaskan melalui media sosial, dan karena kesibukan yang amat padat tidak memungkinkan bagi saya untuk menemuinya.

Nasehat atau kritik saya itu untuk menjaga agama dari penyimpangan. Meskipun saya menyebut nama jelasnya, tanpa inisial, sebenarnya kritik itu saya tujukan juga untuk siapa saja, terutama untuk para ustadz “selebritis” yang rajin berdalil dengan ayat al-Qur’an dalam ceramahnya, namun masih keliru dilihat dari berbagai sisi ilmu, keliru makharij al-huruf-nya, salah tajwid-nya, tidak tepat i’rab-nya, menyimpang terjemahnya dan tafsirnya, penyimpulan hukumnya, maupun tidak ditempatkan pada tempatnya. Apalagi jika motivasinya untuk mencari keuntungan duniawi dan atau sebagai pembenar dari suatu kegiatan politik penegakan khilafah untuk menggantikan NKRI, meskipun dibungkus dengan alasan dakwah.

Bayangkan betapa destruktifnya suatu upaya untuk menghalalkan berbagai macam cara demi meraih kekuasaan politik penegakan khilafah, di mana ayat al-Qur’an (baca: agama) hanya dijadikan sebagai alat pembenar bagi hawa nafsu para pejuangnya. Bayangkan betapa amat memprihatinkan jika seseorang yang telah bergelar ustadz itu terus merekrut pengikut sebanyak-banyaknya dari kalangan awam demi menegakkan khilafah, sebuah mimpi besar, padahal membaca satu ayat al-Qur’an dengan benar saja tidak mampu. Bayangkan betapa kata “khilafah” yang sama sekali tidak disebut dalam satu ayatpun dalam al-Qur’an dipahami sebagai satu-satunya sistem pemerintahan dan bentuk negara yang absah, menafikan dan men-taghut-kan semua sistem, bentuk negara selainnya, dan semua peraturan perundang-undangan buatan manusia tanpa kecuali, dengan sambil mengutip ayat al-Qur’an yang menyebut manusia sebagai “khalifah”.

Dari sisi tersebut, propaganda penegakan khilafah yang kesannya benar karena dilandasi ayat tentang “khalifah” adalah khilaf yang nyata dan membahayakan persatuan, khususnya Persatuan Indonesia. Yang oleh sebab itu, siapa pun “pendakwahnya” perlu merenungkan kembali apa yang saya nasehatkan itu, agar kembali ke jalan yang benar, yakni belajar agama kembali untuk mencari kebenaran hakiki dan turut serta mencintai tanah tumpah darahnya.

Menyampaikan nasehat adalah melaksanakan kewajiban, karena nasehat itu amat berguna bagi orang yang beriman. Nasehat atau kritik yang konstruktif itu menjadi berguna hanya jika ada kerendahan hati, bagi yang mampu menundukkan egonya, bagi yang mau menyadari kekeliruan gagasan dan langkah-langkahnya selama ini. Tidak mungkin atau mustahil semua muslim tersesat jalan dalam praktek beragama hanya karena tidak setuju dengan upaya “dakwah” penegakan khilafah oleh Felix Siauw beserta rombongannya. Tidak mungkin semua pemerintahan dan negara di dunia ini mutlak salah, taghut, dar al-kufri, yang karenanya wajib diperangi dan diruntuhkan. Justru yang wajib diperangi adalah hawa nafsu kita semua, khususnya hawa nafsu dan mimpi buruk para pengasong khilafah atau yang sejenisnya yang selalu haus akan kekuasaan, kedudukan, popularitas, serta “isi tas”.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *