Bertubuh kerempeng sakit-sakit an karena diserang tbc— aktifis Hizbul Wathan kepanduan Muhammadiyah. Ditandu dari bukit ke bukit terus bergerilya melawan kompeni.
*^^^**
Sudirman biasa disebut, tokoh Muhammadiyaj ini ulet dan militan tak pernah ada kata menyerah meski dibenam sakit — semangat cinta tanah air membuat tubuhnya sekuat baja —- tekadnya keras membatu seperti Uhud.
Dunia terkesima. Belanda keder. Soekarno berdecak kagum tulis Daniel s Lev pada kegigihan Sudirman bergerilya. Orang ambawara ini membuat Indonesia tetap eksis dihitung sebagai sebuah negara yang layak diakui merdeka.
Sudirman berpesan pendek : Tentara Nasional Indonesia punya satu kewajiban: mempertanyakankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya’. Tentara bukan golongan yang berdiri di luar masyarakat, akan timbul dan tenggelam bersama negara. Bukan alat kekuasaan atau kepentingan golongan.
*^^^^*
Sudirman adalah ideolog, konseptor yang futuristik mengedepankan negara di atas segalanya sebagaimana yang diajarkan pada kepanduan Hizbul Wathan di Muhammadiyah.
Dalam sejarah perjalanan TNI, memang ada pasang surut termasuk beberapa yang belok arah karena pengaruh dan kekuatan ideologi—- setidaknya ada sekitar tujuh Jendral angakatan darat yang menjadi kurban keganasan ideologi PKI.
Jiwa patriotik mempertahankan dan menjaga kedaulatan negara hendaknya dilakukan TNI di saat sebagai prajurit aktif l, bukan menunggu setelah purna baru lantang bicara tentang keselamatan dan menjaga negara. Artinya bukan lampiasan sakit hati atau kesadaran yang tumbuh terlambat setelah tidak menjabat.
*^^^*
Terakhir saya berpikir bahwa dicabutnya Dwifungsi ABRI adalah pelemahan. Menempatkannya dalam posisi marjinal, jauh dari rakyat dan itu sebuah kerugian besar— bahwa dulu ada penyimpangan tidak dibantah tapi mencabut dwifungsi ABRI adalah sama dengan memotong kaki dan tangan secara sistematis.
Selamat hari Jendral Besar Sudirman. Rahayu Rahayu Rahayu

No responses yet