Kehidupan kita akan mencapai puncak kesuksesan dan kebahagiaan ketika memiliki iman yang kuat, ilmu yang hebat, amal yang dahsyat, disertai sikap ikhlas dan disempurnakan dengan istikamah.
Kata terakhir yang penulis sebut akan menjadikan seseorang tetap teguh berada pada jalan kebaikan yang sudah dipilihnya.
Ibnu Manzur dalam Kamus Lisan al-‘Arab menjelaskan bahwa secara bahasa (literal), istiqamah bermakna i’tidal (lurus), istiwaa (lurus dan setimbang).
Imam al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menerangkan bahwa istikamah adalah tegak lurus atau konsisten untuk selalu menaati Allah Swt, baik dalam keyakinan, perkataan dan perbuatan, kemudian tetap dalam kondisi semacam itu secara terus-menerus”.
Istikamah dalam pengertian kita biasa dimaknai dengan sikap konsisten, teguh memegang prinsip, terus-menerus, kontinu, berkesinambungan dalam melakukan suatu amal. Dan istikamah ini menjadi ciri mulia dan bernilainya suatu amal saleh di hadapan Allah Swt.
Rasulullah Saw menegaskan, “Amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus (kontinu) walaupun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis tersebut secara tegas dikatakan bahwa kualitas amal yang sangat dicintai Allah Swt adalah keterjagaannya, kesinambungannya, mudawamah-nya. Amal terbaik adalah yang meskipun sedikit, tetapi dikerjakan dengan istikamah, terus menerus. Daripada dalam jumlah yang banyak, tetapi hanya sekali waktu saja.
Ilustrasi sederhana tentang hal ini adalah bahwa ketika kita tadarus (membaca) al-Qur’an, misalnya, maka jauh lebih baik beberapa ayat yang kita baca, tetapi rutin kita lakukan setiap hari, daripada sekali baca 1-2 Juz, kemudian berhenti tidak membacanya lagi di lain waktu.
Istikamah adalah kata kunci yang menunjukkan tingkat keimanan seseorang. Kita mengenal istilah fluktuasi atau pasang surut keimanan. Ada ungkapan yang menyebutkan, “al-iimaanu yaziidu wa yanqushu”, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Untuk menjaga keimanan kita tetap stabil, bahkan bisa naik terus-menerus adalah dengan menjaga sikap istikamah. Teguh dan tetap pada prinsip dalam berakidah, menjalankan ibadah serta muamalah sesuai dengan koridor syariah.

No responses yet