Tempat kedua agar diusahakan menghadirkan hati demi sholat khusyuk adalah saat membaca surat Al Faatihah, terutama ayat
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (Al Faatihah 5)
Menurut Mbah Sholeh Darat, bermakna “Ya Allah, sesungguhnya kami bisa menyembah-Mu berkat pertolongan dari-Mu, dan berkat kasih sayang-Mu kepada kami. Dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan atas segala urusan kami, dunia dan akhirat, tidak sekalipun kami mengandalkan yang lain”.
Menurut Imam Sahal At Tustari, “iyyaka na’budu” bermakna “Ya Allah, kami pasrah dan merendah kepada-Mu, karena kami memahami betul sifat ketuhanan-Mu, sehingga kami menunggalkan-Mu dan bersedia menuruti perintah-Mu”. Demikianlah makna asli ibadah.
Sedangkan “iyyaaka nasta’iin” bermakna “Tidak ada daya dan upaya kecuali karena izin-Mu, sehingga kami bisa beribadah, bisa taat kepada-Mu dan bisa ikhlas, maka tolonglah kami, Ya Allah, kami hanya bergantung kepada-Mu”
Diriwayatkan oleh Mas Yai Nanal Ainal Fauz, Romo Kyai Ahmad Nawawi Abdul Djalil Sidogiri dawuh dalam Al Ma’man minadh Dholalah fi Aqaidid Din wal Millah :
Ketahuilah bahwa “iyyaka na’budu” levelnya Al Abror, sementara “iyyaka nasta’in” levelnya Al Muqorrobin.
Al Abror adalah orang2 yg amalnya (aktivitasnya) secara lillah (karena Allah) sementara Al Muqorrobin adalah mereka yang beraktivitas secara billah (dengan Allah), yakni kami beramal minta tolong hanya bergantung kepada-Mu bukan mengandalkan diri kami atau kehebatan kami.
Aktivitas yg pertama adalah amal karena Allah, sedangkan aktivitas yang kedua adalah amal dengan Allah.
1. Amal karena Allah meniscayakan pahala, sementara amal dengan Allah meniscayakan kedekatan.
2. Amal karena Allah mengantarkan ke ibadah yang hakiki, sementara amal dengan Allah mengantarkan ke kehendak yang shohih.
3. Amal karena Allah merupakan sifat setiap ahli ibadah, sedangkan amal dengan Allah merupakan sifat setiap orang yg bermaksud dekat (ma’rifat) kepada Gusti Allah.
4. Amal karena Allah adalah menegakkan hukum2 syariat, sementara amal dengan Allah adalah menegakkan hukum2 hakikat.
Dan level Al Muqorrobin itu tidak akan tercapai sebelum mencapai level Al Abror. Maka dari itu, urutan ayatnya “na’budu” dulu (syariat) baru kemudian “nasta’iin” (hakikat).
Bahwa manusia itu pada aslinya dholim (tersesat) dan dhoif (lemah) dari jalan Gusti Allah kalau tidak ada syariat dan hakikat. Agar tidak dholim, kita harus mengetahui syariat dulu, sebagai tangga menuju hakikat, sehingga sampai kepada Gusti Allah. Syariat dan hakikat, tidak akan ada tanpa pertolongan dan rahmat Gusti Allah. Maka, sebenarnya keselamatan dan kekuatan kita hanya bergantung pada rahmat Gusti Allah.
Alhasil, saat membaca ayat ini, dalam hati kita berucap “laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim”. Tidak ada daya dan upaya kecuali karena izin Gusti Allah.
Mugi manfaat.
#AyoNyarkub #ArbainFiUshuliddin #ImamGhozali

No responses yet