Sifat wajib bagi para Nabi dan Rasul yang keempat adalah fathonah atau tayaqqudz, selalu sadar, terjaga, tidak mati akal dan hatinya. Tidak mungkin Nabi dan Rasul itu ghoflah atau lengah, biladah atau bodoh, lalai dan hilang akal. Gak ada ceritanya Nabi dan Rasul, bahkan dari kecilnya hingga dewasa, suka mabuk-mabukan, tidur hingga ngiler-ngiler, jadi gila, ayan dan sebangsanya yang dapat mematikan kesadaran akalnya.

Secara logika, para Nabi dan Rasul itu diutus untuk menjelaskan dan menegakkan argumen tauhid dan syariat-Nya. Maka sudah barang tentu, dibutuhkan kecerdasan berargumen, akal yang waras, nalar yang sehat, logika yang lurus dan kesadaran yang terjaga. Tanpa dilengkapi sifat itu semua, semua argumen yang dibangun akan runtuh seketika, risalah yang disampaikan pun tidak akan dipercaya.

Siti Aisyah pernah bertanya pada Kanjeng Nabi SAW, apakah boleh tidur dulu sebelum witir? Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjawab

إنّ عينيّ تنامان ولا ينام قلبي

“Sesungguhnya kedua mataku tertidur, tapi hatiku tidak pernah tertidur”

Menurut Imam Baijuri, lewat dawuh tersebut, Kanjeng Nabi SAW mengisyaratkan bahwa sholat witir itu dilaksanakan sebelum tidur. Tidak sah witir setelah bangun tidur. Jika khawatir ketiduran, disegerakan witirnya. Jika tidak khawatir, boleh diakhirkan. 

Kanjeng Nabi dawuh demikian juga mengisyaratkan bahwa Beliau SAW tidak pernah mati hati dan akalnya, tidak ikutan tidur, selalu sadar, terjaga, masih bisa merasakan, melihat dan mendengar sekitarnya, meskipun tampak tertutup matanya. Sehingga Beliau SAW masih bisa melaksanakan sholat witir dengan wudhu sebelumnya. Karena yang dinamakan tidur yang membatalkan wudhu itu kalo tidur hingga kehilangan kesadarannya dan tidak mendengar suara di sekitarnya.

Fathonah kadang diterjemahkan sebagai cerdas karena para Nabi dan Rasul punya tanda-tanda kecerdasan yang komplit separti tidak pernah berkurang kesadaran akalnya, tidak bodoh, tidak berbicara tanpa dasar, senantiasa mengetahui situasi dan lain-lain. Cerita-cerita tentang kecerdasan para Nabi dan Rasul itu sangat masyhur. Insya Allah akan saya tulis beberapa, mbah.

Gusti Allah dawuh

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya” (Al An’aam 83)

Gusti Allah dawuh

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“dan bantahlah mereka dengan cara yang cerdas” (An Nahl 125)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *