Muhammadiyah adalah anugerah bagi bangsa Indoenesia — kata Jokowi dalam pidatonya yang ringkas, padat dan banyak kejutan.
———
Soekarno presiden pertama juga tak kalah seru, ia menyunting putri kesayangan Hasan Dien konsul Muhammadiyah Bengkulu. Fatmawati adalah aktifis aisiyah militan. Tak hanya itu, santri nginthil dan pengurus majelis pendidikan Muhammadiyah ini menuangkan perasaannya dalam sebuah artikelnya yang bersujud “Makin Lama Makin Tjinta’ membuat terkesima banyak orang. Jangan pisahkan aku dengan MUHAMAMDIYAH saya pikir hanya Soekarno yang dengan heroik berkata :’kubur aku dengan panji-panji Muhammadiyah’.
Dalam pidatonya yang landai, pada muktamar Aceh, Presiden Soeharto menyatakan diri sebagai : ‘anak bibit Muhammadiyah yang disemaikan di bumi pertiwi’. Soeharto mencintai Muhammadiyah dalam diam, banyak kebijakannya yang ‘menguntungkan’ Muhammadiyah secara institusional. Dalam konteks selaras.
Bagi Jokowi Muhammadiyah telah banyak memberi dan menolong, termasuk ke tiga cucunya juga dilahirkan di klinik PKU milik Muhammadiyah. Jokowi begitu emosional menumpahkan perasaan hatinya dalam sebuah pidato MILAD yang luar biasa, nampak ia begitu jelas dan teguh ke-Muhammadiyahan-nya.
*^^^^*
Bersyukur ada pergerakan Islam progresif bernama Muhammadiyah—dihuni banyak orang iklas. Tidak kepikiran membawa pulang aset di Persyarikatan. Semua berkhidmad dalam kapal besar. Mungkin kita tidak berada di dalam kapal persyarikatan struktural, tapi pemikiran dan tujuan substantif yang sama, sebab itu Buya Syafi’i Maarif menyebut Muhammadiyah sebagai tenda besar buat semua. Prof Din mengilustrasikan sebagai federasi pemikiran, dan Serikat dalam beramal.
Apapun—Muhammadiyah telah melahirkan banyak ragam karakter tak juga Soekarno yang heroik, Soeharto yang cerdik Jendral Sudirman yang tawadhu, Ki Bagus Hadikoesomo yang futuristik (Eruh sak durunge winarah) dan masih banyak lagi tokoh dan ulama Muhammadiyaj yang tak bisa disebut satu-satu.
Para pimpinan MUHAMMADIYAH juga tak kalah menarik. Kita punya syafi’i intelek dan negarawan yang teduh. Prof Amien politisi senior yng konsist dan visioner. Prof Din yang elegant. Dan tentu saja Prof Haidar yang tawadhu rendah hati. Seperti harmoni bermain cantik dalam orkestra yang indah meski beda peran fungsi dan karakter. Saling menggenapi bukan sebaliknja.
*^^^^*
Saatnya para kader meluaskan pikiran, meluaskan pandangan dan memperbanyak perspektif dalam ber-Muhammadiyah. Menggembala banyak karakter, memberi rambu bukan membatasi apalagi berpikiran sempit.
Mengedepankan wawasan Ke Islaman dan ke Indoenesiaan sebagai narasi paling pas untuk melihat MUHAMMADIYAH dalam perspektif ke depan yang holistik dengan menghadirkan banyak energi untuk mengabdi dan berbakti untuk negeri tanpa banyak pidato dan reklame — Muhammadiyah telah membuktikan.

No responses yet