Masih soal salat Tarawih, tapi tidak pada perkara jumlah rakaatnya lagi, melainkan melihat style irama Tarawih 20 rakaat yang sangat terkait pada sosok imamnya. Kembali aku akan menyoroti kejadian kisah Tarawih masa lalu di Kampungku, Teluk Tiram, Banjarmasin yang punya ceritera dan banyak menyimpan khazanah pengetahuan yang berharga sebagai salah satu kampung yang cukup tua di Kota Banjarmasin.
Syahdan, Ramadan sekitar tahun 1975-1980, di Teluk Tiram sepanjang pengetahuanku salat Tarawih di Masjid dan Langgar-Langgar atau tepatnya berjumlah 7 buah tempat ibadah (Langgar Miftahussalam, Masjid Jami’, Langgar di Gang Bakti, Langgar di Gang Hidayah, Langgar di Gang Indrapura, Langgar Tajuddar dan Langgar Musyawarah). bekerjasama dalam menetapkan giliran Imam Tarawih di tempat masing-masing. Dalam kata lain imam Tarawih yang disepakati akan berputar setiap malam secara bergiliran di langgar atau Masjid yang sudah ditetapkan. Imam itu sudah barang tentu berjumlah 7 orang dan kebetulan semuanya berasal atau tokoh-tokoh dari Langgar Miftahussalam yang ada di Teluk Tiram Laut. Mereka adalah Mu’allim Syukur (Tuan Guru H. Abdussyukur), Kai Talib (Tuan Guru H. Abdul Muttalib M), Guru Sami (Tuan Guru H. Abdussami), Suamad Riduan (Tuan Guru H. Ahmad Riduan), Guru Jarkasi (Tuan Guru H. Jarkasi), H. Zuhri (,Guru Ahmad Zuhri) dan Matiliyam (Guru Matiliyam).
Jamaah terutama yang dari kalangan pemuda dan remaja, termasuk aku di dalamnya merespon para imam pada tempo berapa lama mereka memimpin pelaksanaan salat Tarawih. Ada yang lamban sekali, lambat, sedang, laju dan super cepat. Sebenarnya mereka tak mempersoalkan apakah yang lamban itu lebih baik daripada yang supercepat ? Tidak juga, itu relatif yang bagi mereka asal sahih dan fasih saja bacaannya tak masalah, hanya saja yang tergolong cepat hendaknya pandai mewasol. Pada umumnya jamaah terutama dari kalangan pemuda dan remaja lebih suka yang cepat dan kurang suka yang lambat. Mereka menyebut style Imam yang supercepat sebagsi Speed Board, imam yang cepat saja sebagai Long Board, Imam yang sedang sebagai Kelotok, Imam lamban sebagai Jukung Bakayuh dan Imam yang superlambat sebagai Jukung Balarut. Kai Talib dan Suamad Riduan dianggap sebagai Speed Board dalam membaca Fatihah dan Surah hanya senapas, di samping perpindahan dari rukun ke rukun sangat cepat hanya sedikit tuma’ninah, termasuk juga dalam berdoa. Sementara Matiliyam dianggap sebagai Long Board dalam membaca Fatihah dan Surah masih dua kali bernafas, sedikit tuma’ninah dan agak lambat berdoa. Sementara Guru Sami dianggap sebagai Kelotok, sedang temponya dalam keseluruhan baca dan gerak salat. Kemudian Guru Jarkasi dianggap Jukung Bakayuh karena lamban, membaca penuh dengan kehati-hatian. dan agak lama tuma’ninah. Lalu Mu’allim Syukur dan Guru Zuhri dianggap Jukung Balarut karena membaca dan bergerak dengan sangat alun dan berayun-ayun.
Bukti Imam yang cepat dan supercepat disukai jamaah adalah berjubelnya jamaah ketika mereka yang dijuluki Speed Board dan Long Board ini giliran imam bahkan ada jamaah yang setia mengikutinya kemana dia mendapat giliran. Kalau yang bergelar Kelotok sudah mulai kurang jamaahnya, meskipun masih banyak. Adapun yang disebut sebagai Jukung Bakayuh dan Jukung Balarut hanya sedikit penggemarnya sebagai jamaah dan kebanyakan orang-orang yang sudah berusia tua. Apakah sekarang masih berlaku begitu di Masjid dan Langgar Kampung Teluk Tiram ? Aku tak tau.

No responses yet