Seandainya sejak awal semua negara memperlakukan virus ini layaknya virus. Bukan proyek bisnis politik dan kartel global, mungkin keadaan tida separah sekarang ini. Tapi apa dikata, nasi sudah jadi bubur. Sekarang kita sedang menikmati “musibah” akibat kelalaian kita sendiri. Sejak awal pikiran  kita sengaja dibuat “parno” dengan segala “horor” yang dibesarkan-besarkan media tentang virus ini. Sehingga hampir semua regim di dunia seolah “kompak” mempopulerkan konsep “lokdown”. Maka berhamburan lah dana politik “gratis” untuk berbisnis vaksjn dan alat pengendus virus serta masker. Dimana ujungnya sampai ada operasi masker di jalanan, pasar rakyat, mall dan bahkan sampai  masuk tempat ibadah dan sekolah. Coba tengok berapa trilyun dana gratis untuk semua itu dari pemerintah kita sendiri. Padahal kondisi ekonomi negara sedang jatuh terpuruk. 

Saya membayangkan jika separuh saja dari dana itu dibuat untuk memperbanyak fasilitas kesehatan dan memberikan beasiswa pendidikan untuk calon tenaga kesehatan sehingga memenuhi standard minimal kebutuhan. Tentu beberapa tahun ke depan jika virus baru muncul kita tidak segelapabakan sekarang ini. Tentu saja kita harus tetap berterimakasih pada pemerintah atas semua ikhtiarnya. Tapi sebagai warga kita harus “kritis” memikirkan keadaan negara yang terus semakin terjerat hutang ini. Tidak perlu jadi ahli untuk bisa menghitung ketersediaan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan kita dengan jumlah penduduk bangsa ini, sudah cukup atau jauh dari standar kebutuhan.

Dari pada hutang hanya jadi bancaan para politikus. Lebih baik kita mulai dari sekarang, disiplinkan masyarakat dengan pendekatan kultural agar berperilaku sehat dan bersih. Perbanyak fasilitas kesehatan hingga pelosok desa. Jangan biarkan anak-anak jadi “bodoh dan malas” karena tidak sekolah. Bahkan tidak sedikit kasus anak stress karena tidak punya android dan paketan untuk sekolah daring, para pengusaha kehilangan usahanya, para PKL bangkrut kehilangan pelanggan, penganut agama marah karena selalu dikambinghitamkan.  Lebaran, sholat id  dan mudik “diundat-undat”  sebagai sebab  merebaknya wabah. Maka yang terjadi adalah “pembangkangan” dan sikap acuh tak acuh. Apalagi para pejabat dan tokoh tidak memberikan keteladanan yang menyejukkan. Maka jadilah semua “horor” yang ditebarkan media jadi bahan hoax yang berkelanjutan.

Sudah saatnya kita semua sadar, berita negatif tak perlu dibesar-besarkan, berita positif perlu kita gaungkan, protokol kesehatan bukan jadi semboyan politik, tapi jadikan sebagai nilai budaya dengan kebijakan yang santun dan menyenangkan. Kalau perlu dijadikan bagian dari kurikulum ahlaq disekolah-sekolah PAUD sampai SD atau bahkan SMA. Dengan demikian anak-anak kita akan disiplin sejak dini. Apalagi jika kedua orang tua memberikan keteladanan yang baik soal kesehatan dan kedisplinan. Maka kita bisa menghadapi virus yang tidak akan hilang sampai kiamat ini. Dengan sikap lebih tenang dan tetap bahagia penuh rasa syukur serta waspada selalu. Insyaallah bangsa kita bisa menghadapai dan melewati ujian ini dengan selamat. #SalamSehatSegerWaras

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *