Catatan Singkat Khataman Sorogan Kitab Hadlratusyaikh Hasyim Asy’ari (1871-1947)

Gus Ishom adalah salah satu cucu Hadlaratusyaikh Hasyim Asy’ari. Dalam banyak hal, Gus Ishom mewaris ketekunan dan kepakaran sang kakek dalam kajian turats. Tak heran, jika karya-karya Hadlaratusyaikh dapat ditahqiq oleh Gus Ishom dan diterbitkan ulang. Karena itu, hingga saat ini, karya Hadlaratusyaikh dapat mudah didaras. Baik oleh dunia pesantren ataupun masyarakat luas pada umumnya. Antologi tersebut diberi judul “Irsyad al-Sari”. Memuat 17 judul karya Hadlaratusyaikh. Mulai dari fan adab, akidah, fiqih, hingga tasawuf. 

Beberapa hari lalu, saat mengkhatamkan ngaji sorogan kitab “Risalah Ahli al-Sunnah wa al-Jamaah”, salah satu judul dari kitab “Irsyad al-Sari” di atas, setidaknya ada dua hal yang menarik. Pertama, di bagian awal kitab setebal 42 halaman itu, kita dapat melihat bagaimana respon Hadlaratusyaikh terhadap geliat dinamika pembaharuan pemikiran Islam. Beberapa nama yang eksplisit disebut adalah Syaikh Muhammad bin Abdul wahab (1703-1792) Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905), dan Rasyid Ridha (1865-1935). 

Yang pertama adalah tokoh dari Najed Arab Saudi yang meletakan basis gerakan salafisme-wahabi.  Sedangkan yang kedua dan ketiga adalah tokoh pembaharu dari Mesir. Tokoh yang menginspirasi perlawanan penjajahan Eropa di Afrika dan Asia. Bagi keduanya, Islam akan maju bila umatnya mau belajar, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu sains. Sedikit banyak, pemikiran Abduh mempengaruhi KH. Ahmad Dahlan (1868-1923) dalam merintis Muhammadiyah di Indonesia.

Kedua, meskipun singkat, Gus Ishom menulis kata pengantar di awal kitab “Risalah Ahli al-Sunnah wal al-Jamaah” di atas. Satu titik yang menarik adalah pendefinisian NU. Bagi Gus Ishom, NU adalah organisasi yang sangat berpegang pada sunnah Nabi dan suri teladan salaf sholihin. Demikian juga, dalam muqadimah kata pengantarnya, Gus Ishom menyitir hadis tentang bid’ah. Hadis yang familiar digaungkan oleh sebagian asatidz yang mengeklaim sebagai ustadz sunnah.

Dengan demikian, pada hakikatnya, kita semua adalah sama. Yakni memegang sunnah dan menjauhi bid’ah. Hanya saja, terkadang cara memegang, memahami, hingga mengamalkan berbeda. Sudah barang tentu, baik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Rasyid Ridha, KH. Ahmad Dahlan, dan Hadlaratusyaikh Hasyim Asy’ari juga memegang dan merujuk kuat pada sunnah. Hanya saja, sekali lagi, cara memegang, memahami, dan mengamalkannya tidak seragam.

Lantas tertarikkah anda?

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *