Membaca surah al-Fatihah di akhir majelis, atau setelah doa bersama merupakan perbuatan yg MUSTAHSANAH, yaitu perbuatan yg dinilai baik dan dianjurkan. Oleh karena itu, meskipun dalam al-Quran dan hadits tidak ada anjuran menutup doa atau majlis dgn surah al-Fatihah, namun hal tsb tidak dilarang dalam Islam, dan tidak bertentangan dgn ajaran2 Islam.
Pembacaan surat alfatihah di majlis memiliki dalil, sebuah riwayat dari seorang generasi tabiin senior, ulama ahli fiqih, ahli tafsir dan perawi hadits, yg bertempat tinggal di Mekkah. Beliau berguru kepada para sahabat Nabi, khususnya Jabir bin Abdullah al-Ansari, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Radhiallahu Anhum dan lain2. Para ulama yang menjadi muridnya antara lain Amr bin Dinar, Az-Zuhri, Qatadah, Malik bin Dinar, Imam Al-A’masy, Imam Al-Auza’i rahimahumullah dan lain2. Beliau bernama Abu Muhammad Atha bin Abi Rabah Aslam bin Shafwan atau Sayyid Atha’ Bin Abi Rabah (wafat tahun 114 Hijriyah) rahimahullah berkata :
اذا اردت حاجة فاقرأ بفاتحة الكتاب حتى تختمها تقضى ان شاء الله
“Apabila kau memiliki hajat, maka bacalah al-fatihah sampai selesai dengan izin Allah terkabul”.
Aku telah saksikan dengan mata kepalaku, banyak orang yang mengamalkannya hingga mencapai cita-cita besar, hajat dunia dan akhirat. Begitu juga keinginan hasratku terkabul, kesulitan menjadi mudah, mendapat solusi yang tepat dari berbagai perkara pelik dengan membaca al-Fatihah.
Riwayat di atas, oleh seorang ulama ahli hadits dan pakar fiqih kondang, Imam Yusuf Bin Hasan Bin Abdul Hadiy as- Shalihiy as-Syamiy al-Hambaliy rahimahullah (wafat 16 Muarram 909 H /14 September 1503 M) menyebutkan dalam kitabnya Subulul Huda war Rosyad Fi Siroti Khoiril Ibad, pada bab Istianah bil Fatihah ala najahil umur (memohon pertolongan kepada Allah dgn surat al-fatihah untuk segala urusan beres).
Ada riwayat lain dari Abu Asy-Syaikh Al-Ishbahani (wafat 369 H / 979 M iran) dalam kitab Ats- Tsawab, juga dari Imam Atha’ Bin Abi Rabah rahimahullah, yg artinya hampir sama dgn redaksi riwayat diatas, sbg berikut :
وأخْرَجَ أبُو الشَّيْخِ في“ الثَّوابِ ”عَنْ عَطاءٍ قالَ: إذا أرَدْتَ حاجَةً فاقْرَأْ فاتِحَةَ الكِتابِ حَتّى تَخْتِمَها تَنْقَضِي إنْ شاءَ اللَّهُ.
Termaktub dalam kitab Al-Durrul al-Mantsur fi Tafsir al-Qur’an bil Ma’tsur (Mutiara yg tersebar dalam penafsiran Alquran menggunakan atsar), karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari atau Imam As-Suyuthi rahimahullah (3 Oktober 1445 M – 18 Oktober 1505 M, Kairo, Mesir). Selama hidupnya, ia telah menimba ilmu dari lebih 600 guru dgn beragam cabang ilmu yg di timba.
Imam Suyuthi rahimahullah merupakan ulama yg suka mengasingkan diri dan melahirkan karya. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ad-Sayyid Muhammad Abdul Hayyi al-Kannany rahimahullah (wafat 1382 H / 1962 M) menuturkan bahwa Imam Suyuthi rahimahullah berhasil melahirkan 538 karya dari tangannya. Karya itu tersebar dalam berbagai bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, tasawuf, fikih, ushul fikih, balaghah dan lain sebagainya.
Syekh Farraj Ya’qub al-Mishriy rahimahullah menyebutkan bahwa :
قراءة الفاتحة عند طلب الحاجات هي من باب التوسل بالقرآن وهو أمر جائز لايبدعه إلا خوارج آخر الزمان
“Membaca surat al-fatihah ketika menginginkan hajat adalah bagian dari tawassul dgn al-Qur’an yg merupakan perkara boleh, tidak ada yg menganggap bid’ah, kecuali kelompok khawarij akhir zaman”.
Syekh Haji Raden Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi al-Makki atau Tuan Mukhtar Bogor atau Syekh Atharid, nama Sunda beliau adalah Raden Muhammad Mukhtar bin Raden Natanagara, di Makkah beliau dikenal dgn Syekh Atharid rahimahullah (14 Februari 1862 M – 13 Juli 1930 M Mekkah) adalah satu dari Ulama Nusantara, sekaligus seorang Bangsawan dan juga seorang Umara’, yg terkenal dan berpengaruh di Makkah pada zamannya. Dalam literatur Indonesia tidak tercatat biografi beliau, yg ada adalah dalam literatur Arab. Dalam catatan sejarah Tuan Mukhtar Bogor adalah seorang yg sangat giat belajar, mengajar, membaca dan sangat kuat beramal. Syekh Atharid, termasuk Ulama Nusantara yg mempunyai banyak guru, setidaknya, jumlah gurunya mencapai 35 ulama besar pada zamannya.
Syekh Muhammad Mukhtar Atharid al-Batawiy rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Ittihafus sadatil Muhaddistin Bi Musalsalat al-Ahadist al-Arbain, halaman 10, menyebutkan bahwa :
“Orang yg semangat mencari kebaikan selayaknya menjadikan kebiasaan membaca al-Fatihah di setiap akhir majlis”.
Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam kitab Nihayah al-Mufid berikut :
جرت عادة عامة المسلمين بجميع الاقطار ترتيب الفاتحة وقراءتها بعد الدعوات فى ختام المجالس….. فهي مستحسنة شرعا وان لم يكن لها اصل من كتاب وسنة
“Sudah berlaku sebuah kebiasaan umum di kalangan kaum Muslimin di seluruh tempat, yaitu mengurut dan membaca surah al-Fatihah setelah berdoa di akhir majelis … Hal tsb, merupakan perkara yg dinilai oleh baik dalam syariat meskipun tidak memiliki dasar dari al-Quran dan sunah Nabi shalallahu alaihi wasallam.”
Maka dari keterangan di atas, para ulama banyak yg membolehkan, bahkan jika sebuah perkumpulan majelis dan doa bersama yg diakhiri dgn bacaan surah al-Fatihah, hal itu baik sekali dilakukan.
Wallahu a’lam
Variety of references by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi
CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

No responses yet