Seorang ulama besar kalangan tabi’in, murid Sahabat Anas Bin Malik Radhiyallahu Anhu, Imam Ar Rabi’ bin Anas rahimahullah(wafat 139 H / 756 M) yg hidup di Bashrah Irak. mengatakan :
“Tanda agama adalah mengikhlaskan amal untuk Allah, sedangkan tanda keilmuan adalah rasa takut kepada Allah.”
Termaktub dalam Kitab Al-Ikhlas Wa An-Niyah hal 23, karya Al-Hafidz Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Sufyan bin Qais al-Baghdadi al-Umawi al-Qurasyi atau Imam Ibnu Abid Dunya rahimahullah (823 – 894 M, Bagdad, Irak). Beliau merupakan murid dari Imam Bukhari rahimahullah, Imam Muslim rahimahullah Imam Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah, Imam Hambali rahimahullah dan Imam Abu Dawud rahimahullah dan lain2, guru dari Imam Ibnu Majah, Imam Ali ibnu Khuzaimah, Ibrahim bin al-Junaid, Al-Harits bin Abi Usamah, Abdurrahman bin Abi Hatim dan lain2 rahimahumullah.
Ikhlas
Tanda orang IKHLAS, yakni berserah diri dan selalu bersyukur. Seseorang yg telah berada pada tahap itu amat percaya pada Allah subhanahu wa ta’ala dan selalu berikhtiar serta berserah diri kepada-Nya. Dan terus membela keimanan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam kondisi apapun. Terus berusaha mengamalkan ajaran Islam secara tulus ikhlas dalam kehidupan dunia ini. Bagaimana pun, ikhlas adalah syarat diterimanya setiap amal. Bagaimana tahu tentang ikhlas? Hanya Allah Yang Maha Tahu.
Keikhlasan adalah inti keberagamaan. Bisa jadi kita menemukan orang2 yg kenyataan kesehariannya biasa2 saja. Pada dirinya tidak tampak bentuk2 lahir dari amal2 keagamaan. Pakaiannya serupa dgn yg dipakai orang kebanyakan, kegiatannya pun tidak jauh berbeda dgn siapa pun. Bisa jadi ia tidak berpuasa dan salat sunnah. Tapi ternyata keberagamaan dan kedudukannya di sisi Allah melebihi banyak orang.
Sebaliknya, kita dapat menemukan orang2 yg menampilkan diri dalam bentuk2 yg memberi kesan keberagamaan yg kuat, seperti pakaian dan cara memakainya atau melakukan amar makruf dan nahi munkar dgn bahasa indah, lugas dan tegas. Bisa jadi ada tanda hitam di dahinya, yg mengesankan banyak sujud. Tapi itu semua dapat saja tidak bernilai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
Takut kepada Allah
ILMU ternyata mempunyai pengaruh yg cukup besar dalam membentengi maksiat. Karena semakin seseorang berilmu dan makin mengenal agungnya Rabb yg telah menciptakan dan memberikan berbagai nikmat untuknya, maka tentu ia akan semakin punya rasa takut pada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasa takut inilah yg dapat membentengi dari maksiat.
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi, Imaduddin Abu Al-Fida Al-Hafizh Al-Muhaddits Asy-Syafi’i atau Imam Ibnu Katsir rahimahullah (1301- 1373 M Damaskus, Suriah) dalam kitab Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 308, berkata,
“Sesungguhnya yg paling takut pada Allah dgn takut yg sebenarnya adalah para ulama (orang yg berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dgn sifat dan nama yg sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.”
Seringkali pula para ulama berkata -di antaranya Imam Amir bin Syurahil atau Imam Asy Sya’bi rahimahullah (wafat 104 H / 722 M) berkata :
إنَّمَا الْعَالِمُ مَنْ يَخْشَى اللَّهَ
“Orang yg berilmu, itulah yg punya rasa takut pada Allah”.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu (wafat 650 M, Jannatul Baqi’, Madinah) pernah berkata :
كَفَى بِخَشْيَةِ اللَّهِ عِلْمًا وَكَفَى بِالِاغْتِرَارِ بِاَللَّهِ جَهْلًا
“Cukup rasa takut pada Allah disebut ilmu dan cukup orang yg terbuai dgn karunia Allah disebut bodoh.”
Diriwayatkan oleh Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Al-Lakhmiy Asy-Syami Ath-Thabrani atau Imam ath-Thabrani rahimahullah (wafat hari Kamis, 26 September 971 Mn/ 28 Dzul Qa’idah 360 H) dalam kitab Mu’jamul Kabir. dan diriwayatkan juga oleh Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul-Barr al-Namari al-Andalusi al-Qurthubi al-Maliki atau Imam Ibnu ‘Abdil Barr Al-Maliki rahimahullah (29 November 978 M – 2 Desember 1071 M Spanyol) dalam kitab al-Jaami’ atau Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih wa Maa Yanbaghi min Riwayatihi wa Hamlihi.
Sahabat Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji atau Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu (605 M, Madinah – 639 M, Yordania) mengatakan, “Pelajarilah ilmu. Sesungguhnya mempelajari ilmu karena Allah adalah bentuk rasa takut -kepada-Nya- dan menuntutnya adalah ibadah. Mengajarkannya adalah tasbih (penyucian terhadap Allah). Membahas tentangnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkan ilmu kepada orang yg tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkannya kepada orang yg berhak menerimanya adalah qurbah/pendekatan diri -kepada Allah-; itulah yang akan menjadi penenang di saat sendirian dan sahabat pada waktu kesepian.” (kitabMukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 15, karya Syaikhul Islam Al-Imam Asy-syekh Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi atau Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (1147 – 7 Juli 1223 M Damaskus, Suriah), salah seorang murid Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Radhiyallahu Anhu)
Semoga bermanfaat
variety of sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet