“Begitu zikir memasuki dan menjadi kokoh dalam hatinya, ia akan meningkat lagi mencapai keadaan di mana ia bisa mengetahui zikir yang dilakukan oleh seluruh ciptaan Allah SWT. Ia akan mendengar seluruh makhluk mengucapkan kalimat zikir dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepadanya. Ia mendengar setiap makhluk berzikir dengan nada masing-masing dan irama yang berbeda satu sama lain. Pendengarannya terhadap yang satu tidak mempengaruhi pendengarannya terhadap yang lain, ia mampu mendengar semua secara simultan dan ia bisa membedakan masing-masing jenis zikir.”

“Ketika para pencari melewati tingkat itu, ia akan mengalami peningkatan lebih jauh dalam zikirnya, ia akan melihat bahwa setiap orang yang diciptakan oleh Allah SWT melakukan zikir yang sama dengan dirinya. Pada saat itu ia akan menyadari bahwa ia telah mencapai Kesatuan Yang Unik dan Sempurna. Semua melakukan zikir yang sama dan menggunakan kata-kata yang sama. Segala macam perbedaan akan terhapus dari pandangannya, dan ia akan melihat semua orang yang bersamanya mempunyai tingkatan yang sama dengan zikir yang sama pula. Ini adalah Tingkat Penyatuan Setiap Orang dalam Satu Kesatuan. Di sini ia akan menarik semua bentuk Syirik yang tersembunyi sampai ke akar-akarnya dan semua makhluk akan tampak sebagai Satu Kesatuan. Ini adalah langkah pertama dari tujuh langkah dalam perjalanannya.”

“Dari Tingkat Kesatuan ia akan menuju ke Tingkat Inti dari Kesatuan, di mana setiap orang yang Ada menjadi Tidak Ada, dan hanya Kesatuan Allah SWT saja yang tampak.”

“Kemudian ia akan menuju Tingkat Primordial dari Kesederhanaan Yang Sempurna, di mana ia bisa tampil dalam wujud apa saja.”

“Dari sana ia akan menuju Tingkat Kunci dari Rahasia, yang dikenal dengan Tingkat Nama-Nama, di mana tipe asli dari setiap makhluk ditunjukkan kepadanya dari alam ghaib menuju dunia yang nyata. Ini akan membuatnya berenang dalam orbit Nama-Nama dan Segala Atribut dan ia akan mengetahui semua Pengetahuan Yang Tersembunyi.”

“Selanjutnya ia akan menuju Tingkat Yang Tersembunyi dari Yang Tersembunyi, Inti dari semua Yang Tersembunyi. Ia akan mengatahui semua Yang Tersembunyi melalui Kesatuan yang Unik dari Inti. Ia akan melihat semua kekuatan dan bentuknya.”

“Dari sana ia menuju tingkat Realitas Sempurna dari Inti Nama-Nama dan Semua Aksi. Ia akan muncul di dalamnya, dalam atom mereka dan dalam totalitas mereka. Ia akan disandangkan dengan Nama Yang Paling Agung dan ia akan diagungkan dan dimahkotai dengan Tingkat Kebesaran.”

“Kemudian ia akan menuju ke Tingkat Turunnya Allah SWT (munazala) dari Tingkatan-Nya yang Agung ke Tingkat Surga Dunia. Ia sampai pada Tingkat itu, yang terdekat dengan Tingkat Keduniaan, di luar itu para Pembaca Zikir tidak mempunyai Tingkat lain untuk dicapai melalui bacaannya. Fajar datang ke dalam dirinya dan Mentari Kesempurnaan tampak dalam diri dan tubuhnya, karena hal itu telah tampak melalui zikir yang dilakukan dalam hati dan jiwanya. Sebagai hasilnya, ketika Mentari Kesempurnaan tampak pada tubuh dan seluruh anggota tubuhnya, ia akan berada di Tingkat yang telah disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW, “Allah SWT akan menjadi Telinga yang dipakainya untuk mendengar, Mata yang dipakainya untuk melihat, Lidah untuk berbicara, Tangan untuk menggenggam, dan Kaki untuk melangkah.” Kemudian ia akan mendapati dirinya dan menyatakan kepada dirinya bahwa, ‘Aku tidak berdaya dan sungguh lemah.’ Karena pada saat itu ia telah memahami makna Kekuatan Ilahi.”

Setiap beliau dimintai nasihat jika beliau berkata, “Lakukan apa yang kamu suka,” orang itu tidak akan pernah berhasil. Tetapi bila beliau berkata, “Lakukan ini dan lakukan itu,” maka orang tersebut akan berhasil.

Konon beliau tidak pernah menyebutkan sesuatu yang telah berlalu. Beliau tidak pernah menerima suatu gunjingan dan akan mengusir para pelaku dari asosiasinya. Dilaporkan pula bahwa setiap kali orang duduk dalam asosiasinya, mereka akan merasakan bahwa kecintaan terhadap dunia akan lenyap dari hati mereka. Beliau sering mengatakan, “Jangan duduk tanpa berzikir, karena kematian selalu mengikutimu.”

Beliau berkata, “Peristiwa yang paling membahagiakan bagi umat manusia adalah ketika ia meninggal, karena pada saat itu dosanya juga ikut mati bersamanya.” Beliau berkata, “Setiap pencari yang tidak membiasakan diri dan melatih dirinya untuk berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk beribadah dan melayani saudaranya, tidak akan memperoleh kebaikan dalam tarekat ini.”

Penyingkapan Syah Naqsyband QS mengenai Syekh Syarafuddin QS

Penerus beliau, Grandsyekh kita, Syekh `Abdullah ad-Daghestani QS, menceritakan hal berikut dalam ceramahnya:

“Suatu ketika, dalam salah satu meditasiku, Syekh Syarafuddin QS mendatangiku dan berkata mengenai kebesaran dan keistimewaan Syah Naqsyband QS. Beliau memujinya dan mengatakan bagaimana Syah Naqsyband QS akan memberikan perantaraan di Hari Pembalasan. Beliau berkata, ‘Jika seseorang melihat mata Syah Naqsyband QS, ia akan melihat mata beliau berputar, bagian yang putih di hitam dan yang hitam di putih. Beliau bermaksud menyimpan kekuatan spiritualnya untuk Hari Pembalasan dan tidak menggunakannya di dunia ini.

“Pada Hari Pembalasan beliau akan mengeluarkan cahaya dari mata kanannya, cahaya itu lalu mengelilingi banyak orang dalam perkumpulannya dan masuk kembali ke mata kirinya. Siapa pun yang berada dalam lingkaran itu akan masuk Surga dan terhindar dari Neraka. Beliau akan mengisi keempat Surga dengan perantaraannya itu.”

“Ketika beliau sedang melukiskan peristiwa besar itu, Aku menyaksikan penglihatan spiritual yang kuat di mana Aku menyaksikan Peristiwa Hari Pembalasan dan melihat Syah Naqsyband QS mengeluarkan cahaya, dan menyelamatkan orang-orang. Ketika Aku sedang mengamati hal itu, Aku merasakan cinta yang sangat dalam kepada Syah Naqsyband QS, lalu Aku berlari menuju beliau dan mencium tangannya. Kemudian penglihatan itu menghilang dan Syekhku pergi. Aku melanjutkan meditasiku pada hari itu dengan berzikir, membaca al-Qur’an dan melakukan salat. Di malam harinya, setelah melaksanakan salat ‘Isya, Aku mengalami keadaan tidak sadarkan diri dan menempatkan Aku ke dalam keadaan kasyaf (memperoleh penglihatan spiritual). Aku melihat Syah Naqsyband QS memasuki ruangan. Beliau berkata kepadaku, ‘Anakku, datanglah kepadaku.’ Kemudian rohku meninggalkan jasad dan Aku melihat tubuhku berada di bawahku dan tidak bergerak. Aku lalu menemani Syah Naqsyband QS.”

“Kami menjelajahi ruang dan waktu, bukan dengan kekuatan melihat lalu mencapai tempat yang dilihat itu, tetapi dengan kekuatan di mana ketika kami baru memikirkan suatu tempat, kami tiba di tempat itu. Selama tiga malam dan empat hari non-stop, kami melakukan perjalanan dengan cara ini.”

“Sudah menjadi kebiasaan dalam meditasiku, ketika Aku menginginkan makanan dan minuman sehari-hari, Aku tinggal mengetuk pintu. Mendengar ketukan dari lantai bawah, istriku akan membawakan makanan dan minuman untukku. Hari pertama ia tidak mendengar ketukan, hari kedua juga begitu. Akhirnya ia merasa sangat khawatir dan membuka pintu dan menemukan Aku terbaring di sana tanpa gerakan. Ia berlari menuju Syekh Syarafuddin QS dan berkata, ‘Mari dan lihatlah anakmu. Ia terlihat seperti orang yang sudah meninggal. Beliau berkata kepadanya, ‘Ia tidak meninggal. Kembalilah, dan jangan berbicara kepada siapa pun. Ia akan kembali.’

“Setelah tiga hari dan empat malam menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, Syah Naqsyband QS berhenti. Beliau berkata, ‘Tahukah kamu siapa yang tampak di cakrawala itu?’ Tentu saja aku tahu, tetapi untuk menghormati Guru, aku berkata, ‘Wahai Guruku, engkau paling tahu.’ Lalu ketika orang itu mendekat beliau berkata, ‘Sekarang apakah kamu mengenalinya?’ Aku berkata lagi, ‘Engkau lebih tahu, wahai Guruku,’ walaupun Aku melihat itu adalah Syekhku. Beliau berkata, ‘Itu adalah Syekhmu, Syekh Syarafuddin QS.

“Tahukah kamu siapa makhluk yang berada di belakangnya?’ menunjuk kepada suatu makhluk raksasa yang lebih besar daripada gunung yang paling tinggi di bumi ini, yang beliau tarik dengan sebuah tali. Untuk menghormatinya aku berkata lagi, ‘Engkau paling tahu, wahai Syekhku.’ Beliau berkata, ‘Itu adalah Setan, dan Syekhmu diberi kekuasaan atasnya, belum ada orang yang diberi otorisasi semacam itu sebelumnya. Sebagaimana setiap wali diberi kekuasaan atas sesuatu yang khusus, begitu pula Syekhmu. Bidang khususnya adalah bahwa setiap hari dan setiap malam, atas nama seluruh orang yang telah melakukan dosa karena pengaruh Setan, Syekhmu diberi otorisasi untuk membersihkan orang-orang itu atas dosa-dosa mereka, mengembalikan dosa itu kepada Setan, dan membawa orang-orang itu dalam keadaan bersih kepada Rasulullah SAW. Kemudian dengan kekuatan spiritualnya, beliau mengangkat hati mereka, mempersiapkan mereka agar bisa masuk ke dalam lingkaran cahaya yang akan Aku sebarkan di Hari Pembalasan nanti. Aku akan mengisi empat surga dengan cara ini. Inilah yang menjadi spesialisasi Syekh Syarafuddin QS. Selain itu, orang-orang yang tidak termasuk dalam keempat Surga tersebut akan memasuki Perantaraan Syekh Syarafuddin QS, dengan seizin Rasulullah SAW yang telah diberi kekuatan ini oleh Allah SWT. Ini adalah kekuasaan yang luar biasa yang telah diberikan kepada Syekh Syarafuddin QS. Ketika beliau merantai leher Setan, beliau membatasi pengaruh dosa di bumi ini.”

“Kemudian beliau berkata, kamu menanam benih cinta yang ada di hatimu. Seperti halnya kincir air yang mengairi sepetak sawah tetapi tidak bisa mengairi dua petak sawah, cinta yang kamu tumbuhkan terhadap Syekhmu seharusnya hanya untuk Syekhmu. Jika kamu membaginya untuk dua orang Syekh, mungkin cinta itu tidak akan mencukupi, seperti halnya kincir air yang tidak bisa mengairi dua petak sawah. Jangan berikan hatimu kebebasan untuk pergi ke sana ke mari. Cintamu akan mencapaiku melalui Mata Rantai Emas dan akan berlanjut kepada Rasulullah SAW. Jangan membagi dua cintamu untuk kami berdua. Sebelumnya tak seorang wali pun yang diberi otorisasi seperti yang diberikan kepada Syekhmu untuk umat Muhammad SAW, untuk seluruh umat manusia.’”

“Kemudian Syah Naqsyband QS membawaku kembali menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, selama empat hari dan tiga malam. Aku kembali ke tubuhku lagi. Aku merasakan jiwaku memasuki tubuhku dan aku menyaksikan jiwaku masuk ke dalam tubuhku sedikit demi sedikit, sel demi sel, dan melalui penglihatan itu aku bisa mengerti fungsi dari setiap sel. Kemudian penglihatan spiritual itu berhenti dan aku mengetuk pintu agar istriku membawakan makanan dan minuman untuk memberi energi bagi tubuhku. Itulah pengungkapan Syah Naqsyband QS mengenai Syekhku, Syekh Syarafuddin QS.”

Salah satu murid Syekh Syarafuddin QS yang berusia 120 tahun dan tinggal di Bursa, Eskici Ali Usta, melaporkan,

“Syekhku adalah seorang Syekh yang luar biasa. Suatu saat ketika aku masih muda, aku berada di Istanbul, dan baru saja melakukan bay’at dengan Syekh Syarafuddin QS. Kemudian aku bertemu dengan salah seorang teman dari Daghestan yang keras kepala dan tidak percaya dengan Sufisme. Aku bermaksud untuk berbicara dan melunakkan hatinya dengan menceritakan keajaiban yang dimiliki Syekhku. Ternyata ia lebih meyakinkan dan bisa mengubah keyakinanku. Aku lalu menggantung tasbihku di dinding dan berhenti berzikir. Beberapa saat kemudian aku sudah dikuasai hawa nafsu dan melakukan dosa besar dua kali.”

“Seminggu kemudian, aku pergi ke Sirkici dan melihat Syekh dalam perjalanan. Beliau juga sedang berjalan kaki di distrik itu, dalam perjalanannya menuju Rasyadiya. Ketika aku melihatnya datang dari satu sisi, aku berpindah ke sisi yang lain dan berusaha untuk menghindarinya. Ketika aku bersembunyi di ujung jalan, aku merasakan sebuah tangan menempel di bahuku dan Syekh berbicara kepadaku, ‘Mau kemana, wahai Ali?’ Aku kembali bersamanya dan di tengah perjalanan aku berpikir, ‘Aku tidak bisa menyembunyikan diriku lagi terhadap Syekh dan Syekh tidak dapat membawaku kembali lagi.”

“Kami melanjutkan perjalanan sampai bertemu dengan orang yang bernama Huseyyin Effendi. Syekh berkata kepadaku, ‘Ketika kamu pertama kali datang kepadaku, Aku melihatmu dan menemukan karakter buruk dalam dirimu. Setiap orang mempunyai karakter baik yang bercampur dengan karakter buruk. Ketika kamu melakukan bay’at seluruh perbuatan buruk yang telah kamu lakukan sebelumnya, Aku ganti dengan perbuatan baik. Kecuali dua hal, yaitu hasrat seksual dan kemarahan. Minggu lalu kami hilangkan kedua karakter buruk itu dari dirimu.’ Ketika beliau mengucapkan hal itu, Aku sadar bahwa beliau telah duduk bersamaku dan melihat hasrat seksual dan kemarahanku, Aku mulai menangis, menangis, dan menangis. Ketika Aku menangis, Syekh Syarafuddin QS mulai berbicara dengan orang yang bernama dengan Huseyyin dalam bahasa yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, padahal aku berasal dari Daghestan dan aku mengetahui semua bahasa di daerahku. Akhirnya aku tahu bahwa Syekh Syarafuddin QS berbicara dalam bahasa Syriac, bahasa yang paling jarang digunakan.

“Setelah dua jam menangis, beliau berkata, ‘Cukup! Allah SWT telah mengampunimu, Rasulullah SAW juga telah mengampunimu.’ Aku berkata, ‘Wahai Syekhku, apakah engkau benar-benar mengampuniku? Apakah Rasulullah SAW telah mengampuniku? Apakah Allah SWT telah mengampuniku? Apakah para Syekh yang matanya terbuka telah mengampuniku? Dulu Aku berpikir bahwa Aku melakukan perbuatan itu sendirian, tetapi sekarang Aku tahu bahwa engkau semua melihatku.’ Beliau berkata, ‘Wahai anakku, kita adalah hamba-hamba yang berada di depan pintu Rasulullah SAW dan di depan pintu Allah SWT. Apapun yang kita minta dari Mereka, Mereka akan menerima permintaan kita karena kita berada dalam hadiratnya dan kita adalah Satu.’ Aku berkata, ‘Sebagai suatu itikad baik, karena Aku telah diampuni, bagaimana Aku bisa bersyukur kepada Allah SWT dan memberi kehormatan kepadamu dan kepada Rasulullah SAW? Apakah dengan jalan merayakan mawlid (Kelahiran Rasulullah SAW), atau berkurban, atau mengeluarkan sedekah lainnya?’ Beliau berkata, ‘Apa yang kami inginkan darimu adalah agar kamu senantiasa melakukan zikir Tarekat Naqsybandi.’

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *